Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 91


__ADS_3

Awalnya Kinara hanya ingin menggoda Mich saja, dia merasa lucu karena Mich merupakan seorang pria, tapi dia selalu saja terlihat malu-malu dan terkesan menghindari dirinya.


Namun, setelah melihat Mich yang berbicara dengan sangat serius, bahkan saat melihat Mich yang mengucapkan isi hatinya dengan sangat tulus, hal itu membuat Kinara menjadi bingung.


Dia bingung harus berkata apa, dia bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar merasa jika apa yang sudah dia lakukan tadi adalah hal yang salah.


Dia ingin sekali menjawab pertanyaan dari Mich, dia ingin mengatakan mau, tapi dia merasa belum cukup umur.


Dia ingin mengatakan tidak, tapi takut jika Mich malah akan menjauh dari dirinya. Karena jujur saja Kinara sudah merasa nyaman saat berada di dekat Mich.


Dia merasa jika Mich adalah sosok pria dewasa yang mampu melindungi dirinya, tidak seperti Jeremy yang selalu ingin menang sendiri dan semaunya.


"Ki--kinar boleh turun dari pangkuan Om, ngga?" tanya Kinara yang merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini.


"Boleh," jawab Mich.


Setelah mendapatkan jawaban boleh dari Mich, Kinara langsung turun dari pangkuan Mich. Lalu dia duduk di samping Mich dan terlihat menundukkan wajahnya.


"Bagaimana?" tanya Mich.


Mendapatkan pertanyaan dari Mich, Kinara terlihat mendongakkan wajahnya. Lalu, dia menatap Mich dengan lekat.


"Ehm, anu. Itu, Kinar jawabnya boleh nanti saja ngga?" tanya Kinara.


Mich terlihat kecewa dengan apa yang Kinara katakan, jika dia meminta jawabannya nanti, berarti itu artinya Kinara belum siap untuk menjadi seorang istri.


"Aku paham, itu artinya kamu belum siap menjadi seorang istri. Tidak apa, mungkin kamu memang bukan jodohku," ucap Mich.


Saat melihat raut kecewa di wajah Mich, Kinara benar-benar takut jika Mich akan mundur dan tidak berusaha untuk mendapatkan dirinya lagi.


"Bukan seperti itu, aku hanya minta waktu saja," ucap Kinara mengiba.


"Aku paham, kamu meminta waktu. Aku sudah tua, kalau masih harus menunggu, aku keburu jadi Kakek." Mich terkekeh. ''Sepertinya kamu memang cocoknya sama tuan Jeremy, aku terlalu tua," sambung Mich.


"Ngga juga, Om ngga paham. Aku tuh... ck! Aku bingung jelasinnya," kata Kinara.

__ADS_1


"Itu artinya kamu tidak mau," kekeh Mich.


Menurut Mich, jika memang Kinara mau menikah dengan dirinya, apa susahnya dia berkata iya.


Untuk masalah pernikahan, Mich juga tidak mungkin mengajak Kinara untuk menikah saat ini juga.


Karena walau bagaimanapun juga, Mich perlu datang ke tanah air untuk meminta secara langsung Kinara kepada kedua orang tuanya.


Mich juga perlu mempersiapkan pernikahan mereka, karena dia tidak ingin mengecewakan Kinara dan itu memerlukan waktu yang tidak sebentar.


Mungkin Mich bisa dikatakan sebagai orang yang egois, pada kenyataannya, Mich meminta hal itu karena usianya yang semakin menua. Dia tidak mungkin menunggu lebih lama lagi.


"Aih! Bukan seperti itu, Om. Tapi--"


"Aku masih ada pekerjaan, kalau kamu mau bicara nanti lagi aja." Mich yang kecewa langsung bangun dan segera pergi dari ruangannya.


Kinara hanya bisa menatap punggung Mich yang menghilang di balik pintu, Kinara hanya bisa menghela napas kasar.


Mich adalah pria dewasa, cukup katakan iya atau tidak. Dia tidak perlu kata-kata yang hanya akan menghabiskan energinya, jika mang Kinara tidak mau jadi istrinya ya sudah.


"Aih! Harusnya om Mich dengerin aku ngomong dulu, aku ngga mungkin juga mutusin semuanya sendiri." Kinara Mencebik kesal.


Ingin sekali dia menghubungi ibunya, tapi di tanah air saat ini menunjukkan pukul dua malam. Sudah dapat dipastikan semua keluarganya yang berada di tanah air kini sedang tertidur pulas.


Di tanah air.


Rahel yang sedang tertidur dengan sangat pulas tiba-tiba saja merasa perutnya seperti diaduk-aduk, bahkan kepalanya terasa sangat berat.


Namun, saat dia hendak bangun dia merasakan tubuhnya sangat lemas. Akan tetapi, perutnya terasa semakin mual, dia merasa ingin memuntahkan isi perutnya saat itu juga.


Akhirnya dengan sangat perlahan dia turun dari tempat tidur dan berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi, tiba di dalam kamar mandi dia pun memuntahkan isi perutnya sampai tidak ada yang tersisa.


Satria yang sedang tertidur dengan pulas merasa terganggu karena suara berisik dari kamar mandi, karena merasa penasaran Satria segera membuka matanya.


Saat dia tidak melihat sosok istrinya di sampingnya, Satria dengan cepat turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tiba di dalam kamar mandi, dia melihat istrinya yang sedang menunduk seraya memuntahkan cairan bening dari bibirnya.


Wajah Rachel terlihat memucat, tangannya terlihat berpegangan ke sisi wastafel karena takut terjatuh.


Dengan cepat satria menghampiri istrinya, lalu dia memijat pundak istrinya dengan sangat lembut.


"Kamu kenapa? Apanya yang sakit? Kenapa bisa muntah-muntah kaya gini?" tanya Satria dengan nada khawatir.


"Ngga tahu, kayaknya masuk angin. Mungkin kurang tidur, kepalaku juga sakit banget. Pengen tiduran aja, tolong gendongin, Bang," pinta Rachel.


Satria menurut, dia mengambil tisu dan mengelap wajah istrinya. Kemudian, dia menggendong Rachel dengan penuh kasih dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Mau dibikin apa? Wajah kamu pucet banget, mau teh anget apa susu anget?" tanya Satria yang begitu khawatir melihat kondisi dari istrinya tersebut.


"Sepertinya makan wedang ronde enak Bang," jawab Rachel.


Mendengar nama makanan yang disebutkan oleh istrinya, Satria nampak mengerutkan dahinya. Ini sudah jam 02.00 malam, di mana dia mencari makanan seperti itu, pikirnya.


"Sayang, apakah bisa makanannya diganti dengan yang lain saja? Ini jam 02.00 malam, sepertinya tidak ada yang berjualan makanan itu," kata Satria bernegosiasi.


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Rachel tidak menjawab. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi kacaux dia begitu kesal dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


Dia langsung membalikkan tubuhnya, lalu memunggungi suaminya. Satria begitu keheranan karena baru kali ini melihat Rachel terlihat marah kepada dirinya.


Padahal, semarah-marahnya Rachel kepada Satria, dia tidak pernah menunjukkan rasa marahnya seperti ini.


"Kamu jangan marah, iya Abang cariin. Abang keluar sebentar, kamu jangan marah," kata satu ya


Setelah mengatakan hal itu, Satria terlihat turun dari tempat tidur. Kemudian, dia mau ngambil jaketnya dan juga dompet beserta kunci mobilnya.


Sepertinya malam ini dia harus berkeliling untuk mencari pedagang wedang ronde yang diinginkan oleh istrinya tersebut, setelah kepergian suaminya, Rachel terlihat menyumgingkan senyumnya.


Karena dia merasa senang Satria mau mencarikan makanan yang sedang dia inginkan itu, binar bahagia terlihat jelas di mata Rachel.


****

__ADS_1


Malam Ayang, eh. Apakah aku punya ayang? Hehehe, satu bab menemani malam kalian.


__ADS_2