
Angga sudah terlihat tampan dengan setelan jas mahalnya, bi Narti juga sudah memakai pakaian gamis syar'i berwarna navi.
Wanita berusia empat puluh empat tahun itu sudah terlihat sangat cantik walaupun usianya sudah tidak lagi muda.
Dia sengaja memakai baju paling bagus yang dia miliki di acara spesial untuk putranya itu, tidak hanya memakai daster yang selalu dia pakai setiap harinya.
Angga sudah menyiapkan cincin berlian yang begitu cantik untuk Mini, cincin itu dia selipkan di saku jasnya.
Raut wajah Angga terlihat begitu gugup, keringat nampak mengembun di dahinya. Bahkan tangannya terlihat basah, karena saking tegangnya.
"Sudah siap?" tanya Bi Narti.
Angga yang sedang duduk langsung bangun dan menghampiri Ibunya.
"Siap, Bu." Angga terlihat mengambil tisu dan mengelap keringat di dahinya.
Bibirnya memang berkata siap, namun hatinya begitu deg-degan tidak karuan.
Melihat kelakuan Angga yang seperti itu, bi Narti nampak tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Kemudian, dia memeluk putranya yang kini tumbuh begitu dengan tingginya. Bahkan, tinggi bi Narti hanya sebatas dadanya Angga saja.
"Jangan gugup, Sayang. Kamu mau menjemput kebahagianmu, bukan mau pergi berperang," kata Bi Narti.
Angga membalas pelukan bi Narti, bahkan dia terlihat memberikan kecupan di dahi ibunya tersebut.
Hal itu lumayan membuat dirinya sedikit lebih tenang, pelukan seorang ibu memang sangat mujarab.
"Iya, Bu. Aku gugup, karena masalahnya aku akan melamar anak gadis dari seorang Hendry Baraq Huntler, walaupun mereka tidak mempermasalahkan kasta, tetap aku takut tidak bisa membahagiakan Michele," kata Angga.
"Percaya pada kemampuan kamu, Sayang. Kebahagiaan itu tidak selalu diukur dengan harta, saling mengerti dan saling mengasihi juga sudah merupakan hal yang membahagiakan," kata Bi Narti.
"Ya, Bu. Semoga saja aku bisa memberikan kebahagiaan untuk kedua wanita cantik yang sangat aku cintai," kata Angga.
"Aamiin, sekarang cepatlah berangkat. Jangan sampai calon mertuamu marah dan membatalkan acara lamaran karena kamu tidak juga datang," kata Bi Narti.
"Ya, Bu." Angga melerai pelukannya.
__ADS_1
Angga dan bi Narti terlihat keluar dari rumah yang biasa mereka tinggali, kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah om Hendry.
Selama perjalanan, Angga terlihat begitu tegang sekali. Sesekali dia terlihat mengetuk-ngetukkan jari tangannya di setir mobil.
Bi Narti yang bisa merasakan kegundahan dari putranya tersebut, berusaha untuk menenangkan putranya.
Dia mengelus lembut punggung putranya selama perjalanan menuju ke rumah om Hendry.
Tiba di rumah om Hendry, Angga langsung memarkirkan mobilnya. Baru saja bi Narti bersama dengan Angga turun dari mobilnya, ternyata om Hendry dan mom Delina terlihat sudah menyambut kedatangan Angga dan juga bi Nati di depan teras rumah.
"Selamat malam, Om, Tante." Angga langsung meraih tangan Om Hendry dan juga Mom Delina, kemudian dia mengecup punggung tangan mereka secara bergantian.
"Selamat malam Angga, Mbak Narti. Mari masuk," ajak Om Hendry.
Bi Narti nampak berjabat tangan dengan om Hendry, kemudian dia menautkan pipinya ke pipi mom Delina.
Setelah itu mereka pun nampak masuk kedalam rumah dari om Hendry, saat masuk ke dalam ruang keluarga, ternyata di sana juga sudah ada tuan Elias, nyonya Meera, Larasati, Jonathan, Satria dan tentunya di sana juga ada Mini dan tuan Keanu.
"Silakan duduk!" kata Om Hendry.
Angga nampak duduk tepat di hadapan Mini, begitupun dengan bi Narti. Angga terihat tersenyum saat beradu pandang dengan Mini.
*/*
Setengah jam kemudian, acara inti dimulai. Om Hendry terlihat menegakkan tubuhnya, kemudian dia menatap wajah Angga dengan lekat. Lalu, dia berkata.
"Ehm, jadi... apa tujuan dari Nak Angga datang ke kediaman saya?" tanya Om Hendry.
Sebenarnya om Hendry sangat tahu kedatangan Angga ke sana untuk melamar Mini, hanya saja dia sengaja ingin mempermainkan perasaan Angga.
"Bismillahirohmanirohim, tujuan saya ke sini adalah ingin melamar anak gadis Om Hendry dan juga Mom Delina. Saya Ingin menjadikan wanita yang bernama Michele Naima Huntler menjadi istri saya," ucap Angga lugas.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, semua orang yang ada di ruangan tersebut nampak tersenyum senang.
"Selama ini Om bisa melihat keseriusan kamu, selama ini Om bisa merasakan jika kamu adalah lelaki yang terbaik untuk Putri Om. Om setuju jika kamu menikah dengan Putri Om yang sangat manja, namun kembali lagi kepada putri Om. Om menyerahkan keputusannya kepada putri Om sendiri," kata Om Hendry.
Mini nampak tersipu malu saat mendengar ucapan dari daddynya.
__ADS_1
"Bagaimana, Sayang?" tanya Mom Delina seraya mengelus lembut punggung putrinya.
Untuk sesaat, Mini nampak menatap wajah Angga. Kemudian, dia kembali menundukkan wajahnya. Lalu, dia pun berkata.
"Bismillahirohmanirohim, saya Michele Naima Huntler menerima lamaran dari Angga Arya Abimana. Saya bersedia menjadi istri dari Mas Angga, asal dia selalu bersikap manis dan selalu setia. Awas saja kalau nakal, aku pastikan burungnya akan mati di tangan Uncle Keanu!" kata Mini.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mini, semua orang yang ada di sana nampak tertawa. Berbeda dengan tuan Keanu, dia nampak kaget dengan apa yang diucapkan oleh Mini.
"Kenapa nama Uncle dibawa-bawa?" tanya Tuan Keanu.
"Karena hanya Om dan Kak Jo, yang tahu bagaimana cara membuat burung Mas Angga lumpuh tak berdaya!" kata Mini.
"Lah, kok nama Kakak juga ikut terbawa?" tanya Jonathan.
"Hem, buat cadangan. Kalau Uncle ngga mau, aku mau minta tolong sama Kak Jo," jawab Mini.
"Jangan, Yang. Aku akan setia, aku sangat sayang dan cinta sama kamu. Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, nanti kamu yang rugi," ucap Angga.
Mini langsung memelototkan matanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Angga, sedangkan Angga langsung bangun dan menghampiri Mini.
Tiba di hadapan Mini, dia langsung berjongkok dan merogoh saku jasnya. Dia mengambil kotak berwarna merah hati dan membukanya tepat di hadapan Mini.
Sebuah cincin berlian yang begitu indah bisa langsung Mini lihat, dia nampak terharu dengan apa yang Angga persiapkan untuknya.
"Michele Naima Huntler, jika kamu bersedia menjadi isttiku. Jika kamu mau menua bersamaku, jika kamu mau hidup dalam suka dan juga duka dengan diriku, ambil cincin ini dan pakailah," kata Angga.
Mini nampak terharu dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Angga, air matanya bahkan sampai menetes di kedua pipinya.
Mini nampak menganggukkan kepalanya berkali-kali, kemudian dia mengangkat tangan kirinya dan menggoyang-goyangkan jari manisnya di depan wajah Angga.
"Aku mau," jawab Mini.
Angga tersenyum, lalu dia mengambil cincin berlian tersebut dan menyematkannya di jari manis Mini.
Riuh bahagia terdengar di ruang keluarga tersebut, saking bahagianya Angga bahkan sampai mengangkat tubuh Mini dan membawanya berputar-putar. Mini sampai memegangi kepalanya, karena dia merasa pusing.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Selamat malam kesayangan, selamat rebahan. Selamat melaksanakan shalat tarawih untuk yang menjalankan.