
Kini Yudha sudah sepakat untuk menyewa sebuah bangunan kecil berukuran lima kali lima meter, bahkan setelah bernegosiasi dengan pemilik tempat tersebut, Yudha pun merasa cocok dengan harga yang ditawarkan.
Yudha terlihat bersemangat sekali untuk memulai usahanya, dia berharap jika usahanya akan maju dan bisa segera menikahi Leana. Agar mereka bisa hidup bahagia, dia tidak mungkin terus tinggal satu atap dengan Leana tanpa adanya ikatan pernikahan.
"Uangnya besok, ya, Pak. Hari ini saya belum bawa uangnya," kata Yudha.
"Tidak apa-apa, jangan lama-lama ya, Pak. Soalnya biar kata bangunan ini tak seberapa luas, namun banyak peminantnya," ucap Pak Ranto.
"Tentu saja tidak akan lama, besok juga pasti akan saya langsung bayar. Karena saya juga ingin segera memulai usaha saya," jawab Yudha.
"Ya, saya percaya. Besok saya tunggu, langsung saja ke rumah saya saja," ucap Pak Ranto.
Yudha mengangguk, kemudian setelah itu dia pun berpamitan untuk pulang.
"Saya permisi dulu, ya, Pak?" pamit Yudha.
"Ya," Jawab Pak Ranto.
Setelah berpamitan kepada pak Ranto, Yudha pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan Leana.
Saat Yudha hendak masuk ke dalam rumah, dia nampak kaget karena pintunya tak terkunci. Padahal Yudha belum membuka pintunya, Yudha pun bergegas untuk masuk.
Tentu saja hal pertama yang dia kakukan adalah pergi ke kamarnya, Yudha pun segera membuka lemarinya.
Mata Yudha langsung membulat dengan sempurna, kala melihat lemarinya acak-acakan. Uang miliknya pun sudah tak ada, namun satu
hal yang mengganjal di dalam pikirannya.
Kenapa tidak ada baju milik Leana?
Dia terlihat mengedarkan pandangannya, tas besar milik Leana yang selalu tersimpan di atas lemari pun tidak ada.
Yudha terlihat semakin gelisah, dia pun segera mengambil ponselnya lalu dia mencari nomor kontak Leana.
Setelah ketemu, Yudha pun langsung menekan tombol panggil.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar servis area, cobalah untuk beberapa saat lagi.
Mendengar jawaban dari sang operator, Yudha nampak panik. Dia kelimpungan, dia nampak seperti orang bingung.
Tubuhnya ambruk, dia duduk di lantai dengan tatapan mata kosong. Dadanya terasa sesak, bernapas pun seakan sulit dia lakukan.
"Kemana dia? Kenapa dia tidak ada di rumah? Kenapa dia membawa uangku?" tanya Yudha lirih.
__ADS_1
Yudha segera bangun, dia mencoba menepis pikiran jelek yang berseliweran di otak minimalisnya.
Yudha pun dengan cepat mengambil kunci mobilnya, dia bemaksud untuk pergi ke kampus Leana.
Dia ingin mencari Leana kesana, sungguh dia berharap jika apa yang dia duga salah.
*/*
Di Lain tempat.
Jesicca terlihat sedang menemani putrinya di ruang keluarga, dia begitu asik melihat Putri yang sudah mulai bisa tengkurap.
Hatinya senang bukan kepalang walaupun tanpa Yudha, apa lagi saat melihat pertumbuhan Putri yang dinilai cepat.
"Sayangnya Ibu udah bisa tengkurep ya? Uluh-uluh, sampe tertawa kaya gitu. Seneng banget ya?" kata Jesicca seraya mengecupi puncak kepala putrinya.
Jesicca terlihat berusaha untuk berbicara dengan putrinya, Putri nampak tertawa geli mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ibunya.
"Nyonya, di depan ada yang mencari Nyonya." Bi Minah terlihat ketakutan dalam menyampaikan ucpannya.
Dahi Jesicca nampak mengernyit, siapa pikirnya tamu yang datang ke rumahnya. Karena selama ini dia tidak mempunyai sanak saudara, Yudha pun rasanya tidak mungkin. Kalaupun memang dia seharusnya dia langsung masuk ke rumah.
"Siapa, Bi?" tanya Jesicca.
"Anu, Nya. Itu--"
"Kalian siapa? Kenapa kalian masuk ke rumah aku?" tanya Jesicca seraya berdiri dan menghampiri tiga lelaki bertubuh besar tersebut.
Sebenarnya dia merasa sangat takut, namun dia tidak bisa membiarkan sembarangan orang masuk ke dalam rumahnya.
"Kami anak buah Juragan Juki, mau nagih uang yang di pinjam sama Yudha," kata pria A.
"Meminjam uang? Bukankah Mas Yudha bilang mau menggadaikan sertifikat rumah?" tanya Jesicca bingung.
"Tidak, Yudha datang ke rumah Juragan Juki. Dia meminjam uang tiga ratus juta, sesuai dengan perjanjian awal. Yudha harus membayar bunga setiap minngunya," kata pria B.
"Bunga? Maksud kalian Mas Yudha meminjam uang sama rentenir?" tanya Jesicca.
Mendengar pertanyaan Jesicca, ketiga pria bertubuh besar tersebut langsung tergelak. Apa lagi saat melihat wajah bingung Jesicca, mereka merasa lucu.
Mereka tidak menyangka jika Yudha dan istrinya tidak berkompromi terlebih dahulu untuk masalah peminjaman uang kepada Juragan Juki tersebut.
"Iya, dia meminjam uang pada bos kami, orang yang kamu bilang rentenir itu. Sekarang cepat bayar bunganya, atau kami terpaksa akan mengambil barang berharga di rumah ini," ucap pria C.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari pria bertubuh besar tersebut, membuat Jesicca takut. Namun jika dia harus membayar bunga kepada mereka, Jesicca pun tak ada uang.
Bahkan, saat ini dia hanya memegang uang sebesar tiga juta saja itu pun modal untuk dia berjualan.
"Tapi, Tuan. Maafkan saya, karena saya tidak mempunyai uang sama sekali, tolong berikan saya waktu," ucap Jesicca mengiba.
Mendengar ucapan Jesicca, ketiga pria bertubuh besar tersebut kembali tergelak. Mereka merasa lucu saat melihat Jesicca mengiba, padahal saat Yudha datang ke tempat Juragan Juki, dia terlihat pongah.
"Bayar sekarang, atau kami akan mengambil barang-barang di rumah ini," ancam pria B.
"Ja--jangan ambil apa pun, aku janji akan membayar. Tapi tidak sekarang, memangnya berapa bunga yang harus saya bayar?" tanya Jesicca.
"Tiga puluh juta," ucap pria A.
Mendengar nominal angka yang disebutkan oleh pria tersebut, baik Jesicca ataupun Bi Minah langsung merasa kaget.
"Ti--tiga puluh juta?" tanya Jesicca lemas.
"Iya, ada tidak? Kami tidak mau mengulur waktu," ucap pria C.
Tubuh Jesicca terlihat lemas, dia bahkan hampir jatuh terjengkang. Beruntung ada Bi Minah yang dengan sigap menopang tubuh Jesicca.
Ketiga pria bertubuh besar tersebut langsung berpencar mencari barang berharga yang bisa diambil.
Namun ternyata di rumah tersebut hanya ada barang-barang rumah tangga biasa, mereka berdecak kesal karena tak menemukan barang yang berharga.
Namun, tak lama kemudian mereka nampak tersenyum saat melihat Putri, mereka pun langsung menghampiri Putri dan menggendongnya.
Jesicca nampak berteriak dengan histeris, saat melihat Putri sudah berada di daam gendongan pria bertubuh besar itu.
"Jangan bawa putriku!" teriak Jesicca dengan lantang.
Ke tiga pria tersebut langsung tergelak, mereka seakan bahagia saat melihat wajah Jesicca yang terlihat begitu memperihatinkan.
"Berikan uangnya, maka kami memberikan putrimu," ucap pria A.
"Aku benar-benar tidak punya uang, tolong jangan ambil putriku," pinta Jesicca mengiba.
"Kalau begitu, carilah uang sesuai dengan perjanjian suamimu dengan Juragan Juki. Setelah kamu mendapatkan uangnya, maka kami akan mengembalikan putrimu," ucap pria B.
"Nanti, kalau kamu sudah mendapatkan uangnya. Kamu datanglah ke Jalan Melati Nomor 5, tanya saja di mana rumah Juragan Juki. Semua orang sudah tahu di mana rimbanya," kata pria C.
Setelah mengatakan hal itu, ketiga pria tersebut nampak membawa Putri. Jesicca berteriak histeris, dia mencoba berlari sekuat tenaganya mengejar ketiga pria bertubuh besar tersebut.
__ADS_1
Sayangnya, salah satu pria tersebut langsung mendorong tubuh Jesicca dengan kuat, sehingga dia pun jatuh tersungkur.
"Tolong jangan ambil putriku!" teriak Jesicca.