Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tawar-Menawar


__ADS_3

Pukul lima pagi Jeaicca dan juga Juki terbangun dari tidurnya, mereka langsung mandi dan segera melakukan shalat subuh.


Jesicca yang begitu merindukan Putri, langsung meminta izin kepada Juki untuk menemuinya.


"Mas, aku ingin menemui Putri. Aku sudah merindukannya," pinta Jesicca.


Juki tersenyum, lalu dia mengelus lembut pipi wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut.


"Ya, ayo. Mas juga mau ke dapur, mau bikin kopi," kata Juki.


Jesicca terlihat kaget kala mendengar Juki yang mau membuat kopi, dia lupa kalau sekarang dia adalah seorang istri


Itu artinya, Jesicca harus melayani Juki dalam hal lainnya juga. Bukan hanya masalah ranjang saja.


"Mas mau kopi sekarang?" tanya Jesicca.


"Ya, Mas memang sudah terbiasa ngopi kalau bangun pagi," jawab Juki.


"Ya sudah, Mas. Biar aku saja yang bikin," kata Jesicca.


"Terima kasih," ucap Juki.


Sebenarnya Juki belum ingin ngopi, namun karena terasa sangat ngantuk jadi dia memutuskan untuk meminum kopi.


Karena hari ini dia harus bekerja, dia masih mempunyai tanggung jawab di kantor. Pernikahan ini diadakan mendadak, tentu saja dia tidak bisa meminta izin.


Lagi pula dia sudah meminta Izin libur selama satu minggu di minggu nanti, mungkin Juki akan sekalian berlibur setelah melakukan resepsi pernikahannya itu.


Juki terlihat duduk anteng di salah satu kursi yang ada di dapur, sedangkan Jesicca terlihat membuatkan kopi hitam untuk Juki.


Tak lama kemudian, kopi telah jadi. Jesicca menghampiri Juki dan memberikan secangkir kopi tersebut kepada Juki.


"Diminum ya, Mas, kopinya. Aku mau menemui Ibu," kata Jesicca.


"Boleh, tapi sini dulu." Juki menepuk pahanya.


Jesicca tersenyum canggung seraya celingukkan, dia takut akan ada yang melihatnya.


"Tidak ada bibi, dia datangnya sebentar lagi," kata Juki.


Ya, bibi yang biasa datang saat pagi dan pulang saat pekerjaannya sudah selesai belum datang. Makanya Juki meminta Jesicca untuk duduk di pangkuannya.


Walaupun merasa canggung, Jesicca tetap menurut. Dia duduk di pangkuan Juki, memeluknya dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher suaminya.


Juki tersenyum seraya mengelus lembut punggung istrinya, tak lama kemudian tangannya nampak turun dan meremat kedua bokong istrinya.


"Mas!" ucap Jesicca seraya menatap Juki dengan tatapan penuh protes.


Juki malah terkekeh saat mendapatkan tatapan penuh protes dari Jesicca, dia memeluk pinggang Jesicca dengan erat.


Kemudian, dia berbisik tepat di telinga istrinya tersebut.

__ADS_1


"Tadi malam aku baru mendapatkan jatahku sebanyak satu kali, nanti malam aku mau melakukannya berkali-kali," bisik Juki.


"Tidak mau," jawab Jesicca cepat.


Dahi Juki nampak mengernyit kala mendapat jawaban dari Jesicca, mau dikasih yang enak kok pikirnya malah nggak mau.


"Memangnya kenapa tidak mau?" tanya Juki.


"Sakit Mas kalau kebanyakan, sekali saja," tawar Jesicca.


"Nggak mau, ah. Maunya tiga kali," kata Juki.


"Nggak mau, Mas. Satu kali aja," tawar Jesicca lagi.


Jesicca masih memikirkan Putri, kalau terlalu sering melakukan itu dengan Juki, dia takut waktunya akan habis hanya untuk Juki saja.


Dia juga merasa tidak enak hati kalau harus terus menitipkan Putri kepada Ibu Sari.


"Dua kali, Yang. Enggak boleh nolak!" kata Juki.


"Baiklah! Tapi, Mas harus izinin aku untuk menyusui Putri secara langsung. Aku nggak enak sama Ibu kalau harus menitipkan Putri terus," kata Jesicca.


Juki tersenyum, kemudian dia berkata.


"Nanti aku belikan box bayi, jadi Putri biar tidur di kamar kita saja. Tapi, kalau Putri tidur di kamar kita--"


Juki tidak meneruskan ucapannya, Juki malah terlihat tersenyum nakal lalu mengecup pipi Jesicca


"Berarti kita harus melakukannya di kamar mandi, takut Putri terbangun kalau kita lagi itu," kata Juki.


"Nggak mau, ah. Pegel," kata Jesicca.


"Kamu nawar mulu," kata Juki seraya terkekeh.


"Maaf, Mas," kata Jesicca.


"Ya, tidak apa-apa. Pergilah ke kamar ibu, siapa tahu Putri sudah bangun," kata Juki.


"Iya, Mas." Jesicca nampak mengecup bibir Juki lalu turun dari pangkuannya.


Juki tersenyum seraya memandang Jesicca yang semakin menjauh darinya.


Tiba di depan kamar bu Sari, Jesicca nampak mengetuk pintu kamarnya. Tak lama kemudian, bu Sari nampak membukakan pintunya.


"Eh, manten anyar. Sudah bangun ternyata, Ehm." Bu Sari langsung berdehem kala melihat rambut Jesicca yang masih dalam keadaan setengah basah.


"I--iya, Bu. Putri sudah bangun belum?" tanya Jesicca.


"Eh, Putri malam rewel. Pas mau ditidurkan malah nangis, ngga mau lepas dari Papanya." Bu Sari berkata dengan tidak enak hati.


"Hah! Jadi Putri sekarang di mana, Bu?" tanya Jesicca.

__ADS_1


"Dibawa Papanya ke Panti, naik taksi online. Putri nangis soalnya. Dia ngga tega katanya, mau ngasih Putri ke kamu ibu takut ganggu," kata Bu Sari.


Sebenarnya Jesicca merasa sangat tidak enak hati, karena di malam pertamanya justru dia malah menitipkan Putri kepada mantan suaminya sendiri.


Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan mertuanya. Karena memang ikatan Putri dan juga Yudha pasti sangatlah kuat.


"Ya sudah, Bu. Tidak apa-apa, nanti kalau Mas Juki berangkat kerja, aku ingin meminta dia untuk mengantarkan aku ke Panti," kata Jesicca.


"Iya, maaf. Karena Ibu tidak bisa menjaga Putri," kata Bu Sari.


*/*


Di sinilah Jesicca sekarang, dia sedang berdiri di depan Panti. Senyum di bibirnya terlihat merekah kala melihat Putri yang sedang tertawa di pangkuan Yudha.


Mereka terlihat sedang berjemur di taman Panti, Yudha bahkan terlihat sudah berkeringat. Ikatan batin antara anak dan juga ayahnya memanglah sangat kuat.


"Ehm, Yang. Mas berangkat," kata Juki.


"Iya, Mas. Ngga apa-apa, kan kalau aku main di Panti sebentar?" izin Jesicca.


"Tidak apa-apa, nanti pulangnya hati-hati. Tapi--"


Juki menghentikan ucpannya, Jesicca jadi resah dibuatnya.


"Apa?" tanya Jesicca.


"Jangan ada CLBK diantara kalian," kata Juki seraya memonyongkan bibirnya.


Jesicca mengecup bibir tebal milik Juki, lalu dia berkata.


''Tidak akan, Mas. Aku sudah menjadi istri dari seorang Julian Uzi Kiandra, selamanya aku milik kamu, Mas." Jesicca kembali mengecup bibir Juki.


"So sweet! Turun sana, nanti aku bisa khilaf dan memerkosa kamu di dalam mobil," kata Juki.


"Dengan senang hati, kakanda Prabu!" Jesicca langsung turun dari mobil Juki.


Setelah Jesicca turun dari mobilnya, Juki nampak melambaikan tangannya, lalu pergi dari Panti tersebut, karena dia memang harus segera bekerja.


Sepeninggal Juki, Jesicca langsung menghampiri Yudha dan juga Putri.


"Assalamualaikum," sapa Jesicca.


"Waalaikum salam, duduklah!" ajak Yudha kala melihat Jesicca yang datang.


"Maaf merepotkan," sesal Jesicca.


"Hey! Jangan merasa bersalah seperti itu, Putri juga anak aku. Justru aku sangat senang karena masih diberi kesempatan untuk bisa bermalam dengan Putri," kata Yudha.


BERSAMBUNG....


Selamat pagi kesayangan, selamat beraktifitas. Othor yang kelewatan solehanya ini mau jagain bocah dulu. See you next episode.

__ADS_1


Kalau ada typo bilangin, ya. Nanti Othor edit lagi.


__ADS_2