Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Gundah


__ADS_3

Ternyata Mini benar-benar membuktikan ucapannya, dia tidak datang lagi ke Cafe. Setiap hari Angga hanya bisa menatap pintu Cafe berharap Mini akan hadir, sayangnya tidak.


Selama lima hari ini Angga menjadi pria dingin yang tidak banyak bicara, dia begitu fokus pada pekerjaannya.


Bi Narti sampai bingung dibuatnya, karena Angga kini menjadi jarang sekali bicara. Bahkan saat bi Narti mengajak anaknya tersebut untuk bicara pun Angga hanya diam tanpa menyahuti, sesekali dia terlihat menggeleng dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu kenapa si, Le?" tanya Bi Narti.


Angga terlihat menggelengkan kepalanya, kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Melihat tingkah putranya, bi Narti hanya bisa menghela napas berat.


"Sebenarnya kamu, kanapa sih?" gumam Bi Narti.


Karena tak mau memikirkan hal yang tidak-tidak, bi Narti memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia berpikir jika Angga hanya sedang cape saja.


Angga terlihat sedang menghampiri pengunjung yang hendak memesan, namun... saat dia sedang mencatat pesanan dari pengunjung yang datang, netranya menangkap sosok lelaki yang beberapa hari yang lalu mengantar jemput Mini.


Dahi Angga nampak mengernyit kala melihat Frans datang bukan dengan Mini, namun dia datang bersama gadia muda seumuran dengan Mini.


Gadis itu terlihat cantik dan seksi, matanya belo dan kulitnya terlihat eksotis. Mereka berjalan masuk ke Cafe sambil bergandengan tangan dengan mesra.


Hal itu sontak membuat Angga naik darah, berani sekali pikirnya si Frans itu menggandeng wanita lain. Padahal beberapa hari yang lalu Frans terlihat begitu akrab dengan Mini.


Bahkak Mini dan Frans terlihat cocok sekali jika bersanding sebagai pasangan kekasih. Angga langsung menghampiri Frans dan....


BUGH!


Satu pukulan mendarat tepat dia rahang Frans, pukulan yang Angga layangkan begitu keras sehingga Frans langsung jatuh tersungkur ke lantai.


Wanita muda yang sedang memeluk lengan Frans sampai ikut terjengkang, beruntung ada pengunjung lain yang dengan sigap memegang tubuh wanita tersebut.


Melihat Frans tersungkur, bukannya kasihan Angga malah langsung menghampirinya dan mencengkram erat kerah baju milik Frans.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Frans terlihat begitu kesal terhadap Angga. Bahkan dia menatap Angga dengan tatapan bengisnya.


"Apa maksud elu mukul gue kaya gini?" tanya Frans seraya mengusap rahangnya yang terasa sakit.


"Dasar bedebah sialan! Lelaki brengsek! Maksud elu apa bawa wanita lain selain Mini?" tanya Angga lantang.


"Maksudnya?" tanya Frans bingung.


"Brengsek! Minggu lalu elu datang dan pergi bersama dengan Mini, sekarang elu malah bawa cewek lain. Di mana perasaan elu, hah?!" teriak Angga lantang.

__ADS_1


Wajah Frans yang tadinya terlihat memerah menahan amarah, kini berubah seketika. Dia langsung tertawa dengan terbahak-bahak, lalu kemudian dia mengusap rahang yang terasa sangat sakit karena terlalu lama tertawa.


Melihat tingkah Frans, Angga terlihat emosi. Dia terlihat kembali mengangkat tangannya, Angga ingin melayangkan satu pukulan lagi di wajah Frans yang terlihat menyebalkan di matanya.


Namun, sebuah pelukan langsung menghentikan aksinya. Angga langsung menatap sosok wanita yang memeluknya dengan erat.


"Mbak!" ucap Angga memekik.


"Kamu ko nakal banget sih, baru juga Mbak tinggal dua minggu. Tingkah kamu udah kaya preman gini," kata Larasati.


Angga terdiam mendapatkan pelukan dari Larasati, lalu tangannya terlihat melepaskan cengkraman pada kerah baju milik Frans.


Dulu jika Larasati memeluknya seperti itu, jantungnya terasa berdetak tak karuan. Namun kali ini, dia merasa biasa saja.


Melihat Angga yang hanya menatapnya dalam diam, Larasati langsung berdecak. Kemudian, Larasati menatap Jonathan yang masih berdiri di ambang pintu.


"Sayang, bantu Frans untuk bangun," pinta Larasati.


Jonathan menurut, dia membantu Frans untuk bangun dan mengajaknya untuk duduk di salah satu bangku pengunjung.


Para pengunjung yang sempat syok melihat keributan antara Frans dan juga Angga, kini nampak kembali duduk dengan tenang setelah melihat keadaan kembali stabil.


Jonathan terkekeh melihat perlakuan dari Angga, dulu dia memang suka cemburu saat melihat kedekatan antara Angga dan juga Larasati.


Itu semua bukan tanpa alasan, karena Jonathan bisa melihat jika di mata Angga ada cinta yang begitu besar untuk Larasati.


Namun, kali ini Jonathan tidak merasa cemburu. Karena Mini sudah menceritakan semuanya, Jonathan juga bisa melihat dengan jelas jika Angga memang menyukai Mini.


Hanya saja ada hal yang menjadi penghalang untuk Angga dan Mini yang tidak bisa mempersatukan mereka, dari sisi Angga.


"Jangan khawatir, aku tidak cemburu." Jonathan nampak menghampiri Angga dan menepuk pelan pundaknya.


Frans yang melihat Angga terus saja menunduk menjadi kasihan, dia pun akhirnya memanggil Angga untuk bergabung duduk bersama dengan dirinya.


"Kemarilah, Angga. Aku ingin berbicara denganmu," ucapan Frans.


Angga menurut, dia langsung menghampiri Frans dan duduk berdampingan dengan Frans. Wanita yang tadi datang bersama Frans pun langsung duduk di hadapan Frans.


"Kenalkan, ini Naina pacarku. Dia adalah teman satu angkatan dengan Mini, aku menyukainya sejak lama. Maka dari itu aku meminta Mini untuk mendekatkan aku bersama Naina, bak gayung bersambut, ternyata Naina pun menyukaiku. Jadi, kami langsung jadian," kata Frans.


Angga langsung memberanikan diri untuk menatap Frans, kemudian dia bertanya

__ADS_1


"Jadi, maksudnya Mini dan kamu tidak berpacaran?" tanya Angga.


"Hem, Mini sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Hanya sebatas adik dan kakak saja," jawab Frans.


"Ya Tuhan, aku minta maaf. Aku sudah salah sangka, aku kira kamu mendoakan Mini," ucap Angga.


Mendengarkan penjelasan dari Angga, Frans nampak tertawa. Kemudian dia pun berkata.


"Mini hanya mencintaimu," kata Frans.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Frans, Angga nampak tertunduk lesu. Larasati yang mengerti akan keadaan Angga langsung menghampirinya, lalu dia mengusap dengan lembut pundak lelaki yang sudah dia anggap sebagai adiknya tersebut.


"Mini mencintaimu dan kamu juga mencintainya, apa salahnya untuk kalian bersatu," ucap Larasati.


"Tapi, Mbak. Aku tidak pantas untuknya, aku hanya--"


Angga tidak berani melanjutkan kata-katanya, bi Narti yang melihat keadaan putranya hanya tertunduk lesu, dia sadar diri di mana posisinya.


Jonathan ikut menghampiri Angga, lalu dia pun berkata.


"Kami memang keturunan dari keluarga berada, tapi kami tidak pernah membeda-bedakan kasta. Bagi kami semua orang itu sama, tidak boleh dibedakan dengan harta dan tahta," ucap Jonathan bijak.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, Angga terlihat mendongakkan kepalanya lalu dia menatap Jonathan dengan lekat.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Angga.


"Jika kamu mencintai Mini, kejarlah cintamu. Katakan kepadanya kalau kamu juga mencintainya, kamu tahu... Mini sangat tersiksa karena mendapatkan penolakan darimu," kata Jonathan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, Angga terlihat merasa sangat bersalah. Lalu, dia kembali bertanya.


"Di mana sekarang Mini?"


"Dia ada di puncak, di Villa milik keluarga kami. dia sedang menenangkan diri di sana," ucap Jonathan.


Tanpa menunggu waktu, Angga langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi dari sana. Tentunya setelah dia berpamitan kepada bi Narti dan juga Larasati.


*


*


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2