
'Yang, lidah aku tambah berliur. Pengen buah itu," rengek Jonathan.
"Sabar Mas Jo, Sayang. Aku search di bilibili dulu," kata Larasati.
Larasati terlihat mengambil ponselnya, tak lama kemudian dia terlihat mengutak-ngatik benda pipih tersebut.
"Aha!" kata Larasati.
"Ada, Yang?" tanya Jonathan.
Larasati terdiam, lalu dia memandang wajah Jonathan dengan lekat.
"Ada, Yang. Tapi hanya manisan Cermai, bukan buah yang baru dipetik." Larasati menunjukkan ponselnya.
Jonathan tertunduk lesu, padahal dia menginginkan buah yang baru dipetik bukan yang sudah jadi manisan.
"Sabar ya, Mas Jo, Sayang. Nanti aku carikan," kata Larasati.
Larasati merasa tidak tega saat melihat raut sendu di wajah suaminya, dia langsung memeluk Jonathan dan mengelus lembut puncak kepala suaminya.
Dia berusaha untuk menenangkan suaminya tersebut, dia berharap Jonathan tidak terlalu mengingat akan keinginannya yang cukup sulit itu.
"Hey, kenapa kalian berwajah menyedihkan seperti itu?" tanya Tuan Elias.
Larasati dan Jonathan terlihat melerai pelukannya, kemudian mereka mengalihkan tatapan mata mereka ke arah tuan Elias.
"Daddy, sejak kapan Daddy di sini?" tanya Larasati.
"Baru saja, kalian kenapa?" tanya Tuan Elias.
"Mas Jo, ingin makan buah Cermai, Dad. Tapi tidak ada," jawab Larasati.
Satria yang sedang asik menonton serial kartun kesukaannya, langsung mengalihkan tatapannya kepada tuan Elias.
"Aku syudah bilang Opa, kalau mau buah itu halus membelinya kepada Mail. Dia menjualnya, dua syingit." Satria mengangkat dua jarinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, tuan Elias nampak terkekeh. Kemudian dia mengangkat tubuh mungil cucunya dan membawanya kedalam dekapan hangatnya.
"Kamu tuh, Daddy kamu sedang ngidam kamu malah meledeknya!" Kata Tuan Elias.
Merasa dituduh melakukan hal yang tidak benar, Satria terlihat menggelengkan kepalanya. Dia seakan tidak terima dengan apa yang dituduhkan oleh tuan Elias kepada dirinya.
"No, Opa. Aku seliyus!" jawab Satria dengan wajah yang terlihat sangat menggemaskan.
Tuan Elias lalu mengelus lembut puncak kepala cucunya tersebut, dia tersenyum kemudian berkata.
"Ya, Opa percaya. Kalau begitu kamu tolong belikan buah itu kepada Mail, Opa berikan uanganya," kata Tuan Elias.
Tuan Elias nampak menurunkan Satria, kemudian dia merogoh saku celananya, mengambil uang sua lembar Rp100.000 dan memberikannya kepada Satria.
__ADS_1
"Toling belikan buah yang sangat diinginkan oleh Daddy Jo," tantang Tuan Elias.
Wajah Satria langsung berubah menjadi riang, dia terlihat senang karena ternyata menurutnya tuan Elias kini telah memercayai dirinya.
"Siyap, Opa. Tapi akan lama, aku boleh, kan mengajak om Hendlo?" tanya Satria.
Dahi tuan Elias nampak mengernyit, saat cucunya berkata akan mengajak Hendro sang supir pribadinya. Memangnya di mana tempat buah Cermai itu berada, pikirinya.
Namun,dia yang tidak ingin mengecewakan cucunya langsung menyetujui permintaan dari Satria tersebut. Tapi, tentu saja tuan Elias ingin bertanya terlebih dahulu pada Satria.
"Kenapa harus pergi bersama om Hendro?" tanya Tuan Elias.
"Kalena, hanya om Hendlo yang bisya mengantal aku ke lumah Mail," jawab Satria Enteng.
Mendengar jawaban dari Satria, tuan Elias nampak menggedikkan kedua bahunya. Kemudian dia pun berkata.
"Ajaklah om Hendro dan pergilah, jangan terlalu lama," kata Tuan Elias.
"Yes, Opa!" jawab Satria.
Setelah mengatakan hal itu Satria terlihat menghampiri Larasati, dia mengecup kening dan juga kedua pipi bundanya. Lalu, sebuah kecupan dia labuhkan di perut bundanya tersebut.
"Abang pelgi dulu, jangan nakal di dalam pelut Buna," pamit Satria.
Hati Larasati dan juga Jonathan terasa meleleh saat melihat akan perlakuan dari Satria.
"Sama Daddy ngga pamit?" tanya Jonathan.
"Aku pelgi dulu, jaga Buna dan juga Ade." Satu kecupan dia labuhkan di kening Jonathan.
Mendapatkan perlakuan manis seperti itu, Jonathan langsung mengangkat tubuh Satria tinggi-tinggi, lalu dia mengecupi setiap inci wajah Satria.
"Pergilah, Sayang. Bawakan buah yang Daddy inginkan," kata Jonathan.
Sebenarnya Jonathan mengatakan hal itu karena lebih tepatnya dia sangat penasaran, saat Satria bersikeras akan membelikan buah Cermai untuknya kepada Mail seharga dua kantong Seringgit.
"Yes, Dad!" jawab Satria.
Satria terlihat turun dari pangkuan Jonathan, kemudian dia berlari ke arah luar untuk menghampiri Hendro, sang supir pribadi kesayangan dari tuan Elias.
Selepas kepergian Satria, Jonathan, Larasati dan juga tuan Elis nampak saling pandang, kemudian mereka tersenyum.
Menurutnya tingkah Satria sangatlah konyol, mau pergi ke mana dia coba, pikir mereka.
Mereka benar-benar merasa penasaran dan ingin segera tahu dengan apa yang akan dilakukan oleh Satria.
Tak lama kemudian, mereka mendengar deru mesin mobil yang dinyalakan dan suaranya semakin menjauh dari pelataran.
"Ya ampun, mau kemana anak itu dengan Hendro?" tanya Tuan Elias.
__ADS_1
Terus terang saja tuan Elias merasa khawatir, karena jika Satria pergi bersama Hendro menaiki mobil, itu artinya mereka akan pergi dengan jarak yang lumayan jauh.
"Entahlah, Dad. Aku jadi khawatir," kata Larasati.
"Tapi dia pergi sama Hendro, Daddy yakin mereka tidak akan apa-apa," kata Tuan Elias.
Dia mencoba menghibur dirinya dan juga menghibur hati anak menantunya.
"Dad!"
"Hem," jawab Tuan Elias seraya duduk tepat di hadapan anak dan menantunya.
"Mom, mana?" tanya Larasati.
"Pergi Arisan, belum pulang. Katanya kalau acaranya sudah selesai, dia akan meminta Hendro untuk menjemputnya," jawab Tuan Elias.
"Oh," jawab Larasati.
"Tumben ngga ngajak Satria," kata Jonathan.
"Katanya arisannya sekalian acara makan-makan gitu, ada yang ulang tahun. Ngadainnya di perkebunan gitu, mom takut jika Satria ikut akan terkena ular atau ulat bulu," jawab Tuan Elias.
"Oh," jawab Jonathan.
Setelah terjadi obrolan diantara ketiganya, akhirnya kini tuan Elias, Larasati dan juga Jonathan nampak terdiam.
Mereka terlihat sedang menunggu Satria dengan harap-harap cemas, setelah satu jam kemudian, baik Jonathan, Larasati dan juga tuan Elias nampak khawatir.
Karena Satria tak kunjung pulang, akhirnya tuan Elias mengambil ponselnya. Dia berinisiatif untuk menelpon Hendro, sang sopir kesayangan.
Sayangnya, setelah berkali-kali dia menelpon, Hendro tak juga mengangkat panggilannya.Hal itu membuat tuan Elias semakin khawatir saja.
"Ck! Kemana Hendra? Kenapa dia tidak mengangkat telepon dariku?" tanya Tuan Elias tak sabar.
Sebenarnya Larasati juga sangat khawatir, namun melihat raut khawatir wajah daddynya, dia menjadi tak tega. Larasati menghampiri tuan Elias dan memeluknya dari samping.
"Sabar, Dad. Mungkin Hendro sedang sibuk sama Satria," jawab Larasati.
''Aku hanya khawatir saja," kata Tuan Elias.
"Ya, Rara tahu. Rara juga kawatir sama kaya Daddy," jawab Larasati.
BERSAMBUNG....
*
*
Hayo! Kira-kira ada yang tahu enggak Satria pergi ke mana? Apakah dia benar-benar pergi menemui Mail temannya Upin Ipin?
__ADS_1
Atau--