
Jika Jesicca kini sedang berjuang untuk memulai usahanya, berbeda dengan Yudha yang kini terlihat sedang begitu kesal karena sedari tadi pekerjaannya selalu saja dinilai salah oleh Rendy.
Beberapa kali dia mendapatkan teguran dari Rendy, bahkan dia juga mendapatkan ocehan dari mantan bawahannya tersebut.
Dia jadi merasa jika Rendy sengaja melakukan hal itu untuk membalaskan dendamnya, karena dulu sering menjadi bahan ocehannya.
"Sial! Lama-lama seperti ini, aku bisa gila. Istri di rumah juga tidak berguna, dia tak seperti Laras yang punya segudang ide," keluhnya.
Yudha nampak membuka celemek yang dia pakai dan melemparkannya, dia lalu mengganti seragamnya pelayannya dengan pakaian mahalnya.
"Mau kemana, Pak?" tanya Rendy yang melihat Yudha hendak pergi.
"Mau nyari angin, pusing gue di sini. Engap, butuh udara segar yang bisa membuat otak lebih fresh," jawab Yudha.
"Dari pada nyari angin, mending Bapak makan. Inikan sudah waktunya makan siang, nanti Bapak masuk angin loh?" kata Rendy.
Ucapan Rendy barusan terasa sebagai sebuah ledekan di kuping Yudha, Yudha langsung menatap Rendy dengan tatapan tajamnya.
Melihat cara Yudha menatap Randy dengan cara seperti itu, membuat Rendy langsung terkekeh, kemudian dia pun berkata.
"Saya hanya memberi saran, Pak. Nggak usah lihat saya seperti itu juga," ucap Rendy seraya menggelengkan kepalanya, lalu pergi dari hadapan Yudha.
Yudha yang benar-benar sedang merasa kesal tak menggubris omongan Rendy, dengan cepat dia pergi dari Resto tersebut.
Yudha terlihat melangkahkan kakinya ke sebuah taman kota yang tak jauh dari Resto tersebut.
Sampai di taman, dia langsung duduk di bawah pohon yang rindang seraya melihat hamparan bunga yang sedang bermekaran.
Dia jadi mengingat kala dirinya bertemu dengan Larasati, kala itu dia sedang melukis di taman di, bawah pohon yang rindang.
Larasati datang dan memuji lukisannya, cinta mereka bersemi berawal dari sebuah lukisan yang Yudha buat.
"Laras!" ucapnya pelan tapi penuh dengan penekanan.
Yuda menyandarkan tubuhnya pada pohon, matanya terlihat terpejam dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.
Rasanya begitu nyaman dan tenang, apa lagi siang seperti ini pengunjung di taman pun tak tak terlalu banyak.
Hal itu membuat dia bisa merasakan ketenangan, namun tiba-tiba saja dia mendengar suara seorang wanita yang sedang terisak.
__ADS_1
Awalnya Yudha terlihat biasa saja, namun lama-kelamaan dia merasa terganggu dengan suara isak tangis tersebut.
Yudha terlihat membuka matanya, lalu dia pun mengedarkan pandangannya. Ternyata tak jauh dari sana ada seorang wanita yang sedang menangis sambil mengelap wajahnya dengan tisu, lalu membuangnya dengan sembarang.
"Hey Nona, bisakah kamu tidak menangis dengan kencang? Aku sedang beristirahat, kau mengganggu waktu istirahat orang lain!" kesal Yudha.
Wanita yang sedang menangis tersebut pun terlihat menghentikan aksinya, kemudian dia pun memalingkan wajahnya untuk menatap Yudha.
"Aku sedang sedih, pacarku memutuskan aku. Aku sedang meluapkan kesdihanku, kau kamu terganggu, kenapa tidak pergi saja?" ucap gadis tersebut seraya terisak.
"Ini tempat umum tapi kenapa kau seakan mengusirku?" tanya Yudha dengan wajah kesal.
"Nah, itu kamu tahu kalau ini tempat umum. Jadi, terserah aku mau menangis di manapun," ucap gadis itu ketus.
"Menyebalkan!" kata Yudha seraya beranjak.
Yudha terlihat menghampiri gadis itu dengan wajah kesal, lalu dia pun berkata.
"Pantas saja pacarmu memutuskan kamu, pasti karena kamu menyebalkan!" kata Yudha.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha, perempuan tersebut nampak memperhatikan Yudha dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu dia pun terlihat tersenyum remeh.
"Hey! Jangan sok tahu," kata Yudha.
"Aku tidak sok tahu, pasti kamu sedang bermasalah dengan istri atau pekerjaanmu. Kalau kamu dalam keadaan baik-baik saja, tidak mungkin kamu memilih menyendiri di bawah pohon!" ucap gadis itu ketus.
"Kamu--!"
Yudha terlihat menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia merasa jika emosinya sudah di ubun-ubun, namun yang ada di depannya adalah seorang gadis.
Tidak mungkin bukan, jika dia mengajak gadis tersebut untuk baku hantam dalam meluapkan emosinya. Kecuali kalau membawa gadis itu ke atas ranjang, sepertinya itu akan lebih baik.
Tiba-tiba saja raut wajah kesal Yudha, berubah menjadi seringai licik di wajahnya.
"Hey, bukankah tadi kamu bilang sedang kesal dan kecewa karena baru saja putus dengan pacar kamu?" tanya Yudha.
"Ya!" jawabnya ketus.
Yudha pun tersenyum, lumayan pikirnya jika gadis yang ada didepannya bisa diajak untuk pergi ke hotel. Sudah hampir dua bulan dia tidak mendapatkan pelepasannya, karena merasa kasihan terhadap istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang?" tanya Yudha.
"Maksudnya gimana?" tanya gadis itu.
Yudha mencondongkan wajahnya ke arah gadis tersebut, lalu dia pun berbisik tepat di telinganya.
"Kita bersenang-senang di atas ranjang, berusaha untuk saling memuaskan," kata Yudha.
Mendengar ucapan Yudha gadis tersebut langsung tertawa dengan kencang. Lalu, dia pun berkata.
"Sudah kuduga jika kamu sedang mempunyai masalah dengan istrimu, sekarang kamu memintaku untuk memuaskan hasratmu. Berani bayar berapa?" tanya gadis itu.
Mendengar pertanyaan dari wanita yang ada di hadapannya, Yudha terlihat kaget seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku kira kamu masih gadis, sepertinya sudah bolong," katanya Yudha seraya terkekeh.
"Hey! Hari gini mana ada gadis yang masih perawan? Hampir semua yang statusnya gadis, tapi sudah jarang yang perawan," kata wanita tersebut.
"Sembarangan kamu ngomong! Masih banyak wanita di dunia ini yang bisa mempertahankan harga dirinya, masih banyak perempuan di dunia ini yang bisa mempertahankan kesuciannya," tampik Yudha.
"Yayaya, aku paham. Sekarang kamu jadi ngga ngajakin itu, lumayan buat bayar semesteran." Wanita itu mengelus dada Yudha dengan gerakan sensual.
"Seriusan kamu mau?" tanya Yudha.
"Mau dong, aku nangis tadi karena kesal diputusin cowok aku karena dia sudah tak sanggup lagi memberikanku uang. Padahal aku butuh duit buat bayar semesteran, kalau kamu beneran mau, aku bisa muasin kamu di atas ranjang. Tapi, kamu harus bayar uang semester aku," tawar perempuan tersebut.
Yudha tercengang mendapatkan tawaran dari perempuan yang ada di hadapannya, padahal jika dilihat perempuan itu masih berumur dua puluh tahun.
Akan tetapi dia terlihat sudah sangat hapal sekali dengan hal-hal yang berbau ranjang, Yudha sampai menggelengkan kepalanya.
"Belum aku ajak terbang, ngga usah geleng-geleng kek gitu," kata wanita itu.
Yudha terlihat memperhatikan wanita yang ada di hadapannya, terlihat cantik dan juga muda. Tubuhnya terlihat begitu mulus, hal itu bisa dia lihat karena wanita yang ada di hadapannya hanya menggunakan rok mini dan juga kemeja pendek yang terlihat begitu ketat.
Bahkan dadanya pun terlihat hampir menyembul, entah karena ukuran dadanya yang terlalu besar atau kemejanya yang terlalu kecil.
Namun, satu hal yang Yudha yakini. Pasti perempuan yang ada di hadapannya sudah banyak yang menjamah.
"Tapi, kamu bersih, kan?" tanya Yudha.
__ADS_1