
Jonathan dan nyonya Meera terlihat bersemangat sekali, kini mereka dibantu dua asisten rumah tangga sedang membuat makanan yang diinginkan oleh Larasati.
Nyonya Meera bertugas membuat bubur nasi pesanan putrinya, Jonathan bertugas untuk membuat bubur buah yang diminta oleh Larasati.
Jonathan memblender buah alpukat dicampur dengan jeruk peras, hal itu dia lakukan agar banyak vitamin yang bisa masuk ke dalam tubuh istrinya.
Dua orang asisten rumah tangga bertugas untuk mengolah ayam dan juga menggoreng kacang mede untuk taburan di atas buburnya nanti.
Lalu, bagaimana dengan Satria?
Balita tampan itu nampak duduk dengan anteng sambil belajar mengenal huruf, sesekali dia memperhatikan kegiatan para orang dewasa di sekitarnya.
Setelah satu jam lebih berkutat di dapur, akhirnya pesan Larasati sudah siap. Jonathan membawa bubur buah pesanan sang istri, ya... Jonathan menyebutnya bubur buah karena teksturnya yang lebih kental.
Berbeda dengan nyonya Meera yang membawa nampan berisi bubur ayam dan segelas air putih untuk putri kesayangannya.
Satria yang melihat daddynya bersama dengan oma'nya berjalan menuju kamar Larasati, ikut mengekori langkah mereka.
Ceklek!
Jonathan nampak membuka pintu kamar mereka, saat pintu terbuka nampaklah wajah Larasati yang terlihat terlelap dengan sangat damai di atas tempat tidurnya.
Melihat akan hal itu, Jonathan hanya bisa menghela napas berat. Sudah dibuatkan apa istrinya inginkan, tapi malah tertidur.
Berbeda dengan nyonya Meera, dia terlihat tersenyum lalu menyimpan nampan yang dia bawa di atas meja.
Setelah itu dia menghampiri putrinya, dia duduk di tepian ranjang dan mengelus lembut puncak kepala putrinya tersebut.
Dia berusaha untuk membangunkan putrinya tersebut, sayangnya Larasati terlihat begitu lelap dalam tidurnya.
"Ya ampun, Sayang. Padahal makanannya sudah jadi, aturan makan dulu baru bobo," keluh Jonathan.
"Jangan kecewa, Jo. Memang seperti itu kalau ibu hamil, Mom minta pengertiannya, ya?" kata Nyonya Meera.
"Tentu saja, Mom. Aku akan berusaha untuk mengerti," sahut Jonathan.
Melihat bundanya yang sangat lelap dalam tidurnya, Satria naik ke atas ranjang. Lalu, dia masuk kedalam selimut yang dipakai oleh Larasati.
Kemudian, dia memeluk bundanya dengan erat dan menyusupkan wajahnya di ketiak sang bunda. Melihat akan hal itu, Jonathan langsung terkekeh.
"Satria mau apa?" tanya Jonathan.
"Mau bobo syama, Buna." Satria melongokkan wajahnya ke arah Jonathan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita bobo siang saja dulu. Nanti kalau bundanya udah bangun, kita baru makan siang bersama," kata Jonathan.
"Yes, Daddy!" jawab Satria.
"Baiklah, kalau begitu Mom pamit dulu," kata Nyonya Meera.
Nyonya Meera terlihat mengecup kening Larasati, kemudian dia juga mengecup kening cucu kesayangannya, Satria.
Setelah itu, dia berpamitan untuk keluar dari kamar anak dan menantunya tersebut.
Melihat Satria yang begitu nyaman berada di dalam pelukan bundanya, Jonathan ikut merebahkan tubuhnya.
Dia memeluk Larasati lalu mengecup puncak kepala istrinya tersebut, lalu dia berusaha untuk memejamkan matanya.
Ketiga makhluk rupawan itu terlihat saling menyalurkan kasih sayang dan berusaha untuk terlelap dalam tidur siangnya.
Di lain tempat.
Juki terlihat begitu bersemangat sekali dalam bekerja, bahkan semua pekerjaan yang dirasa sulit seakan terasa mudah.
Sesekali dia mengecek ponselnya, dia ingin sekali menghubungi Jesicca, video call atau sekedar mengirim pesa agar rasa rindunya bisa terobati.
Sayangnya dia belum pernah meminta nomor ponsel dari Jesicca, hal itu membuat dirinya tidak bisa menghubungi wanita yang kini mulai mengganggu hati dan pikirannya itu.
"Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tidak meminta nomor teleponnya?" tanya Juki lirih.
Pukul empat sore Juki langsung merapikan pekerjaannya, setelah itu dia bersiap untuk pulang. Dia benar-benar sudah rindu dengan Putri, terutama ibunya.
Tiba di kediamannya, Juki terlihat sangat kaget. Karena ternyata di sana ada Ridwan yang sedang bercengkrama dengan Ibunya.
Hati Juki terasa ketar-ketir, dia takut jika Ridwan masih saja berusaha untuk mendekati Jesicca.
Juki langsung menghampiri mereka, kemudian dia pun mengucapkan salam. Tentu saja bu Sari dan juga Ridwan langsung membalas ucapan salam dari Juki.
Juki terlihat duduk di samping Ibunya tersebut, kemudian dia memeluk bu Sari dan mengecup pipi ibunya tersebut. Tak lama kemudian, tatapan matanya beralih kepada Ridwan.
"Hei! Kamu ngapain di sini?" tanya Juki.
"Yaelah, Bang! Biasa aja kali lihatnya, jangan curigaan begitu. Aku kesini sedang mengadu ama Encang, kalau aku baru saja keluar dari pekerjaanku. Besok aku akan melamar kerja di tempat yang lebih baik dan gajinya juga sangat besar, semoga saja langsung diterima. Karena di sana sedang membutuhkan seorang manajer konstruksi," jelas Ridwan.
"Widiih, keren! Gede itu gajinya," kata Juki.
"Iya, maka dari itu aku mau mencoba keberuntungan," kata Ridwan.
__ADS_1
"Ehm, Bu. Jesicca mana? Kenapa ngga kelihatan?" tanya Juki.
"Jesicca sedang keluar, karena tadi ada mantan suaminya ke sini," jawa Bu Sari.
Mendengar kata 'mantan suami' dari Jesicca disebutkan, Juki terlihat khawatir. Bu Sari nampak terkekeh melihat kekhawatiran di wajah putranya tersebut.
"Kamu jangan khawatir, mantan suaminya Jesicca itu hanya ingin bertemu dengan putrinya sebentar. Karena mantan suaminya akan bekerja di tempat yang lumayan jauh dari sini, di daerah selatan," kata Bu Sari.
Juki terlihat bisa bernapas lega, dia sudah mengira jika Jesicca akan kembali bersama dengan mantan suaminya tersebut.
"Sudah lama bel--"
Belum sempat Juki menyelesaikan ucapannya, dari arah luar terlihat Jesicca nampak masuk dengan Putri di dalam gendongannya. Yudha nampak mengekori langkah kedua wanita yang kini bertengger cantik di hati Juki itu.
"Ehm, terima kasih, Bu. Karena sudah mengizinkan saya untuk berbicara dengan Jesicca dan juga Putri, saya pamit pulang," kata Yudha.
"Iya, sama-sama," jawab Bu Sari.
"Mas pulang dulu, kamu sama Putri baik-baik ya. Nanti Mas akan ke sini setiap minggunya untuk menemui kalian, itupun kalau kamu memperbolahkan," kata Yudha.
"Boleh, Mas. Tentu saja boleh," jawab Jesicca.
Sekarang bukan saatnya untuk saling membenci pikir Jesicca, namun harus bisa saling memaafkan.
Karena dalam masalah ini, bukan sepenuhnya kesalahan dari Yudha. Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan, karena Jesicca mendapatkan Yudha dengan jalan yang salah.
Setelah berpamitan, Yudha nampak pergi meninggalkan rumah bu Sari dengan motor maticnya.
Setelah kepergian Yudha, Juki langsung menghampiri Jesicca. Lalu, dia berkata.
"Aku mau bicara," kata Juki.
Jessica tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Juki membalas senyuman Jesicca, lalu dia mengangkat tubuh mungil Putri dari gendongan Jesicca, menghujani wajah mungil itu dengan ciuman, lalu memberikannya kepada bu Sari.
"Titip Putri sebentar, aku mau ada perlu," kata Juki.
Setelah mengatakan hal itu, Juki nampak menarik lembut tangan Jesicca dan membawanya kedalam kamarnya.
Melihat akan hal itu, Ridwan langsung melayangkan protesnya.
"Woi! Halalin dulu, Bang. Jangan asal geret-geret aja anak orang ke dalam kamar, dasar posesif!" gerutunya penuh cemburu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Selamat pagi kesayangan, Othor mau curhat. Tadi malam sekitar jam sepuluh Othor abis Vaksin Booster, badan Othor anget kek bocah. Tangan pegel, terus hawanya ngantuk aja.
Mudah-mudahan masih bisa nambah part lagi untuk hari ini, semoga juga keluhannya cepat berlalu. Semangat kesayangan, 💪💪💪😍😍😍😍😍