
Selepas shalat ashar Jonathan mengajak Larasati untuk pergi ke pantai, dia ingin melihat matahari terbenam di bibir pantai bersama dengan istri tercintanya.
Mendapat ajakan dari Jonathan, Larasati terlihat sangat senang sekali. Sepanjang perjalanan menuju pantai, Larasati terlihat memeluk lengan kiri jonathan dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
Dia tidak menyangka jika Jonathan yang dulu terkenal pendiam dan juga dingin, berubah menjadi sangat hangat dan penuh cinta. Bahkan, Jonathan tak pernah malu untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap Larasati.
"Terima kasih, Mas," kata Larasati tulus.
"Sama-sama, Sayang." Jonathan terlihat mengecup kening Larasati, kemudian dia kembali fokus untuk menyetir.
Hati jonathan benar-benar berbunga, karena dia bisa menikah dengan wanita yang sangat dia cintai sejak dulu.
Bahkan dia merasa sangat beruntung, walaupun dia mendapatkan Larasati setelah menjadi janda, tapi Larasati mampu menjaga dan merawat diri. Sehingga, dia merasa menikahi seorang perawan.
Semuanya yang dia dapatkan saat ini, menjadi hal yang benar-benar membahagiakan untuk dirinya.
Dia juga merasa sangat senang, karena Satria begitu pengertian. Balita tampan berusia dua tahun itu sangat mengerti, bahkan dia mau untuk ditinggal bersama dengan opa dan omanya.
Pukul 17:05, Jonathan dan juga Larasati sudah tiba di tempat tujuan. Jonathan langsung memarkirkan mobilnya, kemudian dia mengajak Larasati untuk segera menikmati dan menghabiskan waktu sore mereka di bibir pantai.
Larasati dengan senang hati menerima ajakan dari Jonathan, senyum di bibir Jonathan maupun di bibir Larasati terus mengembang, mereka terlihat benar-benar sangat bahagia.
"Udaranya dingin, Mas," kata Larasati.
"Aku hangatkan," kata Jonathan.
Jonathan langsung memeluk Larasati dari belakang, kemudian dia menyandarkan dagunya di pundak istrinya tersebut.
Sesekali tangan dia terlihat mengusap-usap perut Larasati, dia berharap akan segera hadir generasi penerusnya di dalam perut istrinya tersebut.
"Sudah hangat?" tanya Jonathan.
"Lumayan," jawab Larasati.
"Kalau mau yang hangat dan bahkan cendrung panas, kita sewa kamar saja. Terus, kita main kuda-kudaan. Tapi, kali ini kamu yang jadi penungganganya," kata Jonathan seraya terkekeh.
"Mas ih, nanti pesen kamarnya sekalian maghrib aja. Sekarang kita nikmati dulu matahari yang sudah mau terbenam," jawab Larasati.
"Siap, Nyonya Huntler," jawab Jonathan.
Kini mata mereka tertuju kepada matahari yang mulai terbenam, cahayanya benar-benar terlihat begitu indah dan juga memanjakan mata.
__ADS_1
Selepas melihat matahari yang telah terbenam dengan sempurna, sehingga langit yang tadinya berwarna jingga kini berubah menjadi hitam.
Larasati dan juga Jonathan memutuskan untuk segera mencari penginapan, karena mereka harus segera melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik.
Tak lama kemudian, Jonathan nampak memesan penginapan paling mewah di sana. Hal itu senagaja dia lakukan agar dia bisa memanjakan istrinya dengan fasilitas yang ada.
"Suka?" tanya Jonathan.
"Banget, Mas." Jawab Larasati seraya memeluk suamimya.
"Sekarang lebih baik kita maghrib terlebih dahulu, setelah itu Mas ingin mengajak kamu untuk makan malam," ucap Jonathan.
Larasati terlihat mengganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak pernah memudar dari bibirnya.
"Iya, Mas," jawab Larasati.
Setelah selesai shalat, Jonathan benar-benar mengajak Larasati untuk makan malam berdua di pinggir pantai.
Suasananya terlihat sangat romantis sekali, apa lagi Jonathan memang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang untuk hal itu.
"Mas, ini kamu yang nyiapin semuanya?" tanya Larasati ketika melihat ada meja dan dua buah kursi di pinggir pantai yang dikelilingi lampu dan juga hamparan bunga berbentuk hati.
"Tentu saja bukan, Sayang. Karena dari tadi aku bersama kamu, aku memesannya pada pihak Resto," jawab Jonathan jujur.
Jonathan terkekeh saat mendengar penuturan istrinya, dia memang ingin mengajak istrinya untuk melakukan ritual makan malam yang sangat romantis.
Dia ingin sekali menyiapkan semuanya sendiri, namun dia tidak mempunyai pengalaman akan hal itu.
Maka dari itu, dia meminta pihak Resto untuk mempersiapkan yang terbaik dengan suasana yang sangat romantis, agar Larasati menyukainya. Benar saja, Larasati terlihat begitu suka dan sangat senang.
Saat melihat bibir Larasati yang mengerucut, bahkan saat melihat raut wajah istrinya yang sangat kesal, membuat Jonathan merasa gemas.
Dia langsung menarik pinggang Larasati dan merapatkannya ke tubuhnya. Lalu, dia elus dengan lembut pipi sang istri sampai ke tengkuk lehernya dan sebuah ciuman hangat dia labuhkan di bibir istrinya.
Larasati terlihat memejamkan matanya, dengan tangan kanannya yang mengelusi dada suaminya, sedangkan tangan kirinya teihat mencengkram kuat kemeja yang Jonathan pakai.
Dia begitu menikmati permainan benda lembut dan kenyal itu di bibirnya, bahkan Larasati seolah tak segan untuk membalas tautan bibir suaminya.
Cukup lama mereka beradu bibir, hingga Jonathan melepaskan tautannya. Karena dia takut istrinya akan kehabisan napas.
"Manis, Yang. Sangat manis," kata Jonathan seraya mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya.
__ADS_1
Wajah Larasati terlihat merona, dia merasa jika perlakuan Jonathan itu terlalu manis. Bahkan saat bertutur kata pun Jonathan benar-benar sangat manis.
"Aku mencintai kamu, Ra. Semoga rumah tangga kita akan langgeng hingga maut memisahkan, jika aku salah... tegur aku. Jika ada hal yang tidak membuat kamu nyaman, bicarakan baik-baik. Jika ada hal yang mengganjal di hati kamu, keluarkan. Aku ingin kita terbuka, Yang."
Jonathan sengaja mengungkapkan isi hatinya, dia tidak mau jika rumah tangganya hancur karena kurangnya komunikasi antara keduanya.
"Ya, Mas. Sekarang kita makan dulu, ya... aku lapar," ucap Larasati seraya mengelus lembut perutnya.
"Hem, kamu memang harus makan yang banyak. Karena malam ini aku tidak akan membuat kamu tidur," kata Jonathan seraya menarik satu kursi untuk istrinya duduki.
"Terima kasih, Mas," kata Larasati dengan hati ketar-ketir.
Jujur dia gugup untuk menghadapi malam ini, satu kali melakukannya dengan Jonathan saja membuat dirinya terkulai lemas. Apa kabarnya dengan yang tadi dia katakan?
"Kamu kenapa, Yang?" tanya Jonathan seraya duduk di kursi tepat di depan istrinya.
"Itu, Mas. Anu, jangan buat aku ngga tidur. Aku--"
Melihat raut khawatir di wajah istrinya, Jonathan nampak terkekeh.
"Makanlah, Sayang. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, aku akan menyuguhkan kenikmatan untukmu. Bukan akan menyiksamu," kata Jonathan.
"Hem, aku percaya padamu," kata Larasati.
Acara makan malam pun berlanjut, Jonathan terlihat memperlakukan Larasati dengan penuh cinta kasih.
"Sudah selesai, sekarang kita masuk ke penginapan," ajak Jonathan.
"Iya, Mas," jawab Larasati.
Jonathan tersenyum, lalu dia mengangkat tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan membawanya menuju penginapan.
Sepanjang perjalanan, Larasati terlihat menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Karena dia merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
Tentu saja karena banyak pasang mata yang menatap penuh iri pada pasangan pengantin baru itu.
Bersambung....
*
*
__ADS_1
Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan tak lupa untuk meninggalkan jejak cinta untuk Othor.