
Akhirnya Reon menuruti keinginan Putri, dia mengantarkan Putri ke rumah Juki. Selama perjalanan menuju pulang, mereka hanya saling diam.
Baik Putri atau pun Reon terlihat begitu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Reon sibuk memikirkan bagaimana caranya bisa memenangkan hati Putri.
Berbeda dengan Putri yang memikirkan tingkah Reon yang dirasa berubah dan membuat dirinya menjadi canggung.
Tiba di rumah Juki, Reon langsung menepikan mobilnya. Kemudian dia turun dengan tergesa dan membukakan pintu untuk Putri.
"Silakan!" kata Reon.
Putri tersenyum canggung, kemudian dia keluar dari mobil Reon dengan perlahan. Reon terlihat menatap Putri tanpa berkedip.
Putri benar-benar merasa risih dengan sikap Reon, tapi dia tetap berusaha untuk menghargai Reon sebagai atasannya.
"Terima kasih," jawab Putri.
Setelah mengatakan hal itu, Putri langsung bergegas untuk masuk ke dalam rumah Juki. Reon menyusul dengan cepat, lalu dia mencekal pergelangan lengan Putri.
Putri terlihat kaget, dia langsung menghentikan langkahnya. Kemudian dia membalikkan tubuhnya, lalu dia menatap Reon dengan lekat.
"Ada apa lagi sih, Pak? Kan, aku udah ngucapin terima kasih," kata Putri.
"Iya, aku tahu. Namun, apa kamu ngga mau ngajakin aku buat mampir?" tanya Reon.
"Ngga usah mampir, Pak. Bapak pulang aja, ini udah malam. Lebih baik Bapak istirahat bukannya seharian ini Bapak sudah capek bekerja?" kata Putri.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, Reon terlihat mendengkus sebal. Dia sangat ingin mampir dan sekedar mengobrol sebentar saja dengan Putri, namun sepertinya Putri sangat enggan.
"Heh! Baiklah, aku akan pulang. Besok pagi aku jemput," kata Reon.
"Eh? Tidak usah, Bapak tidak usah menjemput saya, saya bisa berangkat sendiri. Sekarang mending Bapak pulang aja," kata Putri.
Putri langsung mendorong punggung Reon agar segera pergi dari sana, Reon merasa sedih sekali. Namun, mungkin saja itu terjadi karena Putri memang belum bisa menerima dirinya, pikirnya.
__ADS_1
Saat sudah berada di samping mobil Reon, Putri langsung membukakan pintu mobilnya dan mendorong pelan punggung atasannya itu.
Mau tidak mau akhirnya Reon masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi. Toh meminta untuk tinggal pun percuma, karena Purti tidak mau bersama dengan dirinya walaupun barang sebentar
"Sekarang Bapak pulang saja, Ini sudah malam. Ngga baik loh masih keluyuran malam-malam," kata Putri.
Reon terlihat menghela napas berat saat mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, dia itu lelaki pikirnya. Kenapa harus memikirkan hal semacam itu.
Reon tersenyum kecut, kemudian dia menatap Putri dengan lekat, tanpa Putri duga Reon terlihat menarik lembut tangan Putri hingga akhirnya Putri jatuh terduduk di atas pangkuan Reon.
Putri langsung melototkan matanya dengan apa yang dilakukan oleh atasannya tersebut, dia bahkan berusaha untuk bangun dari pangkuan Reon.
Tubuh bagian bawah Putri yang bersentuhan langsung dengan miliknya membuat Reon memejamkan matanya dengan kuat.
Awalnya Putri merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Reon, ketika dia menyadari ada sesuatu yang mengganjal di tubuh bagian bawahnya, Putri pun langsung memukul dada Reon.
"Bapak messum!" kata Putri seraya melompat dari tubuh Reon.
Wajah Reon terlihat memerah, dia merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, sungguh dia tidak tahu jika tubuhnya akan bereaksi seperti itu.
"Saya sudah memaafkan, Bapak. Sekarang lebih baik Bapak pulang," kata Putri.
Setelah mengatakan hal itu, Putri langsung menutup pintu mobil Reon dan berlari masuk ke dalam rumah Juki.
Selepas kepergian Putri, Reon terlihat tertunduk lesu seraya melihat miliknya yang terbungkus rapi di dalam celana rumahan yang dia pakai.
"Kenapa kamu bangun di saat yang tidak tepat? Lihatlah, sekarang Putri jadi pergi. Dia pasti akan ilfeel kalau bertemu denganku," kata Reon lesu.
Setelah mengatakan hal tersebut, Reon nampak pergi dari kediaman Juki. Harapannya untuk bisa mengobrol dengan Putri pupus sudah, gara-gara miliknya yang tidak tahu diri itu.
Begitupun dengan Putri, dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Saat melewati ruang keluarga, dia terlihat kaget saat melihat Juki sedang asyik menonton TV dengan Jesicca.
Putri langsung duduk di antara Juki dan juga Jesicca, dia sandarkan kepalanya di pundak ibunya tersebut. Lalu, dia memeluk Jesicca dengan erat.
__ADS_1
Juki tersenyum, kemudian dia mengelus puncak kepala Putri sulungnya dengan lembut.
"Ada apa? Kenapa Kakak terlihat gelisah seperti itu? Wajahnya juga ditekuk, ngga enak banget dilihatnya. Jadinya, kan nggak cantik," kata Juki.
Putri terlihat melerai pelukannya dengan Jesicca, kemudian dia menatap Juki dan memeluk ayah sambungnya tersebut.
"Putri lagi sebel, kenapa nggak Baba ngga jemput Putri?" tanya Putri.
"Eh? Bukannya Baba ngga mau jemput, tadi atasan kamu itu meminta izin kepada Baba sama Ibu. Katanya dia mau jemput kamu," kata Juki.
"Benarkah?" tanya Putri.
Putri tidak habis pikir jika Reon sudah membohongi dirinya, padahal Reon berkata jika dirinya menjemput Putri karena Juki sedang ada acara.
Rupanya Reon mempunyai niat terselubung di balik niatnya menjemput dirinya, menurutnya Reon sangat keterlaluan.
"Haish! Dia itu keterlaluan sekali! Bilangnya Baba ada acara, tahunya dia sendiri yang mau jemput," gerutu Putri.
Juki tersenyum, dia paham kenapa putrinya terlihat menekuk wajahnya. Juki juga sangat paham kenapa Reon melakukan hal itu, Juki bisa melihat sendiri jika Reon menyukai Putri sulungnya tersebut.
Namun, Juki sudah sangat hapal bagaimana sepak terjang Reon di dalam dunia bisnis. Reon tidak pernah mempunyai catatan hitam, maka dari itu Juki mengizinkan Reon saat meminta izin untuk menjemput Putri.
"Jangan marah, sekarang mandi terus makan malam. Baba cuma mau bilang, sepertinya atasan kamu itu menyukai kamu," kata Juki seraya menaik turunkan alisnya.
"Baba ih!"
Putri terlihat begitu kesal, dia langsung melerai pelukannya lalu pergi untuk masuk ke dalam kamarnya seraya menghentak-hentakkan kakinya.
"Lihatlah, Sayang. Anak kamu sudah ada yang mengincar," kata Juki.
"Biarkan saja, Mas. Dia sudah besar, pasti dia tahu mana yang baik untuk dirinya," kata Jesicca.
****
__ADS_1
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.