Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Suasana Penuh Haru


__ADS_3

Serangkaian pemeriksaan telah dilaksanakan, kini tinggal melakukan USG. Larasati sudah terbaring di atas bad pasien, seorang dokter wanita sudah mulai menyingkap baju Larasati dan mengoleskan gel.


Jonathan terlihat duduk manis sambil menggendong Satria, tuan Elias, tuan Keanu dan juga nyonya Meera nampak anteng menatap layar LED yang terpasang di atas tembok.


Senyum mereka mulai mengembang kala melihat dokter Obgyn mulai menggeser alat di perut Larasati guna untuk mencari keberadaan janin yang sedang berkembang di sana.


"Babynya sangat sehat, usianya lima minggu. Masih sangat kecil, sebesar kepalan tangan orang dewasa. Pada usia kehamilan 5 minggu, janin sudah berkembang. Sistem saraf janin dan organ-organ utamanya pun mulai terbentuk, seperti jantung, neural tube, yang kemudian akan berkembang menjadi saraf tulang belakang dan otak," jelas Dokter.


Mata Larasati terlihat berkaca-kaca, bahkan Jonathan sampai menangis haru. Begitupun dengan tuan Keanu, tuan Elias dan juga nyonya Meera. Mereka benar-benar bahagia.


Satria yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh dokter langsung bertanya.


"Maaf tante Doktel, babynya mana? Kenapa Ade, aku ngga kelihatan? Dedenya ngumpet?" tanya Satria dengan wajah polosnya.


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Satria, semua yang ada di sana langsung tertawa. Dokter nampak mengelus lembut puncak kepala Satria, lalu dia berkata.


"Dede bayinya masih ngumpet di dalam perut Bunda, nanti kalau sudah siap lahir kedunia. Dede bayinya akan bertemu dengan Abang Satria," jelas Dokter.


Satria terlihat mengangguk-anggukan kepalanya kala dokter mengatakan hal tersebut, entah mengerti atau tidak tentang apa yang dijelaskan oleh dokter obgyn itu.


Pastinya ekspresi wajah Satria terlihat sangat menggemaskan, bahkan Jonathan sampai mengangkat tubuh mungil Satria dan mengusakkan kepalanya di perut Satria.


"Daddy, geli. Aku tidak kuat," kata Satria seraya tertawa.


Jonathan langsung menurunkan Satria dan mendudukkannya kembali di atas pangkuannya.


"Kamu senang?" tanya Jonathan.


"Syangat syenang," kata Satria.


Tuan Keanu, tuan Elias dan nyonya Meera langsung menghampiri Larasati dan mengucapkan selamat.


Mereka semua benar-benar merasa bahagia, karena sebentar lagi akan ada penerus dari keluarga Dinata setelah Satria.


Tantunya untuk tuan Keanu, ini adalah turunan pertama dari keluarga Huntler.


*/*


Jika dua keluarga itu sedang terlihat bahagia, Angga sedang terlihat gugup. Untuk masalah gedung pernikahan dan juga gaun pengantin sudah sangat aman.


Tentu saja semuanya telah terkendali karena bantuan dari Jimmy William, walau awalnya Angga terlihat enggan menerimanya. Namun, pada akhirnya dia setuju setelah dirayu oleh Jimmy.


Namun, dia sedang merasa gugup karena ingin melamar Michele langsung ke kediaman om Hendry.


Ya, setelah mendapatkan dukungan dari Jimmy William, Angga memutuskan untuk menikahi Michele satu bulan lagi.

__ADS_1


Karena menurut Jimmy, bulan depan adalah bulan yang sangat pas untuk acara pernikahan. Kalau kata orang jawa bulan dan tanggal yang ditentukan oleh Jimmy sudah sesuai dengan perimbon.


Angga bahkan sempat tidak percaya kenapa orang sekelas Jimmy bisa berpikiran kolot seperti itu? Padahal, Jimmy adalah orang terkenal dan bahkan bergelimang harta.


Satu hal yang Angga dan Mini tidak tahu, semua biaya yang dikeluarkan tentu saja dari rekening Jonathan dan juga Larasati yang dibantu oleh Jimmy William.


"Yang, kenapa mondar-mandir terus?" tanya Mini.


"Aku gugup, Sayang. Lusa aku ingin melamar kamu, aku takut om Hendry sama tante Delina akan berubah pikiran," kata Angga.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Angga, Mini dengan cepat menyahuti ucapan dari Angga.


"Ngga akan, Sayang. Mana ada yang seperti itu!" Sanggah Mini.


"Semoga saja mereka menerima akan menerima lamaranku ya, Sayang?" kata Angga.


"Pasti, itu sudah pasti!" jawab Mini.


Mini terlihat berusaha untuk menenangkan hati Angga, dia terlihat memeluk tubuh kekasihnya itu dengan sangat erat.


Bi Narti yang melihat dan mendengarkan obrolan dari Angga dan juga Mini hanya bisa tersenyum, tentu saja dalam hatinya dia selalu berdoa semoga anak lelaki satu-satunya itu mendapatkan kebahagiaan.


Di lain tempat.


Sore itu Yudha terlihat sedang melukis di taman, dia terlihat melukis sebuah keluarga yang utuh.


Walaupun itu sangat tidak mungkin terjadi jika mengingat dirinya telah sakit, namun setidaknya dia masih bersyukur karena dia masih boleh bertemu dengan kedua putra dan putrinya.


Dia sangat bersyukur karena Jesicca dan juga Larasati tidak membenci dirinya.


Menyesal?


Tentu saja Yudha sangat menyesali setiap perbuatan yang sudah dia lakukan, apalagi jika mengingat kesalahannya saat berselingkuh dan meninggalkan Larasati dulu.


Sungguh dia merasa sangat berdosa, Larasati rela meninggalkan semuanya demi dirinya. Namun dia seolah tidak tahu diri, dia malah berselingkuh dan mengambil semua aset berharga milik Larasati.


Dia juga menyesal karena sudah menyakiti Jesicca, walaupun hubungan mereka berawal dari perselingkuhan, tapi Jesicca tidak pernah macam-macam setelah menikah dengannya.


Saat sedang asik dengan penyesalannya, tatapan mata Yudha beralih pada seorang wanita paruh baya yang terlihat sedang celingukkan tak jauh dari dirinya.


Yudha terlihat memicingkan matanya, karena dia merasa mengenal wanita paruh baya tersebut.


Tak lama kemudian, dia menyadari jika wanita tersebut adalah bi Minah, mantan pembantunya.


Yudha terlihat menyimpan kuasnya, mengelap tangannya dan dia bangun untuk menghampiri bi Minah.

__ADS_1


"Bi Minah!" panggil Yudha.


Merasa ada yang memanggil namanya, bi Minah terlihat mendongakkan kepalanya. Lalu dia menatap wajah lelaki yang ada di hadapannya, wajahnya terlihat tirus.


Lalu, dia memindai tubuhnya yang terlihat sangat kurus. Dia berpikir sejenak, apakah dia mengenal lelaki itu?


Dia pandang kembali wajah lelaki itu dengan lekat, tak lama kemudian tersungging sebuah senyuman di bibirnya.


"Den Yudha!" kata Bi Minah.


"Iya, Bi. Ini saya, Bi. Bibi Ngapain di sini? Bukannya Bibi sekarang sudah tenang hidup di kampung?" tanya Yudha.


"Ya, Bibi memang sudah hidup di kampung. Tapi, Bibi sengaja ke sini karena ingin menemui Jesicca. Sudah dua hari Bibi berada selalu ke sini, tapi belum juga menemukan keberadaan Jesicca," kata Bi Minah.


Yudha tersenyum ketika mendengar penuturan dari bi Minah.


"Saya tahu di mana Jesicca, Bi," kata Yudha.


Bi Minah Langsung menangis kala mendengar ucapan dari Yudha.


"Benarkah? Saya benar-benar merasa rindu dengan Jesicca dan juga Putri, saya ingin bertemu dengan mereka. Sekalian saya ingin mengembalikan uangnya Jesicca," kata Bi Minah.


"Maksud Bibi bagaimana? Uang apa?" tanya Yudha.


"Kita duduk dulu, Den. Biar enak ceritanya," kata Bi Minah.


"Iya, Bi," kata Yudha menurut.


Bi Minah dan juga Yuda terlihat mencari bangku untuk duduk setelah itu bi Minah mulai menceritakan semuanya kepada Yudha.


"Jadi begini, Den--"


***


Hayo,,, ada yang penasaran kah? Dilanjut besok ya....


BERSAMBUNG....


*


*


*


Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Selamat menjalankan ibadah salat tarawih buat yang menjalankan, terima kasih Othor ucapkan untuk kalian yang selalu mau membaca karya receh Othor ini.

__ADS_1


Terima kasih juga untuk kalian yang selalu memberikan like, komen, vote, bunga, kopi dan juga dukungan buat Othor berupa kata-kata penyemangat.


__ADS_2