Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 33


__ADS_3

"Benarkah?" tanya Satria seraya mendekatkan wajahnya.


Rachel terlihat panik, dia terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya seraya memegang erat sabuk pengaman yang dia pakai.


"A--Abang mau apa?" tanya Rachel ketar-ketir.


Satria tersenyum melihat tingkah dari Rachel yang menurutnya sangat lucu di matanya, dia sangat gemas.


"Hanya mau ini," kata Satria seraya meniup pipi Rachel.


Rachel terlihat tersentak kaget, hangat napas dari bibir Satria seakan mencekik lehernya. Rasa hangat napas Satria seakan melemaskan seluruh persendiannya.


"A--Abang!" kata Rachel pelan tapi penuh penekanan.


Satria terkekeh, lalu dia mengusap pundak Rachel dengan lembut.


"Aku hanya meniup bulu mata yang menempel di pipimu, kenapa kamu terlihat gugup seperti itu?" tanya Satria.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Rachel terlihat melongo tidak percaya. Padahal, Rachel sempat menyangka jika Satria akan menciumnya.


Namun, ternyata Rachel salah. Satria hanya meniup bulu mata yang terjatuh saja, rasa malu langsung menyeruak di dalam dadanya.


"Tidak apa-apa, Bang. Lagian Abangnya bikin aku geer aja," kata Rachel dengan bibir yang sudah maju dua senti.


"Memangnya kamu menyangka aku mau ngapain, hem?" tanya Satria.


"Ish! Udah deh, Bang. Jangan bikin aku salah tingkah terus, aku ngga mau Abang godain terus. Anterin aku pulang! Cepetan!" pinta Rachel.


"Iya, iya. Jangan nangis," kata Satria.


"Mana ada yang seperti itu, aku ngga pernah nangis," kata Rachel tidak terima.

__ADS_1


"Iya, iya. Kamu memang wanita kuatku," kata Satria.


Setelah mengatakan hal itu, Satria terlihat mengacak pelan rambut Rahel. Kemudian, dia memasang sabuk pengaman lalu mulai melajukan mobilnya.


Racjel hanya melongo tidak percaya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Satria.


Sepanjang perjalanan pulang Rachel hanya diam tanpa kata. Namun, matanya terus saja menatap wajah Satria.


Berbeda dengan Satria, dia terlihat fokus dalam menyetir tanpa memedulikan raut wajah dari Rachel.


"Sudah sampai, mau turun atau mau terus mengagumi wajah tampanku?" tanya Satria.


Rachel langsung memalingkan wajahnya ke arah lain setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Satria.


"Idih, Abang kepedean!" keluh Rachel.


Bibirnya boleh saja berkata seperti itu. Namun, hatinya begitu mengagumi Satria. Bahkan, di siang ataupun di malam harinya selalu hanya ada bayang-bayang wajah Satria yang melintas di pelupuk matanya.


Tanpa Rachel duga, Satria tiba-tiba saja melepas sabuk pengamannya. Kemudian, dia memeluk Rachel dari sampingng dan menyandarkan kepalanya di pundak Rahel.


Rachel menunduk, lalu dia mendapati tangan Satria yang melingkar indah di perutnya. Rasanya, ada sesuatu yang hangat terasa menggelitik rongga dadanya.


Ingin sekali dia melarang Satria agar tidak melakukan hal tersebut. Namun, hati dan tubuhnya berkata lain.


Tubuhnya menginginkan sentuhan dari Satria, tapi hatinya seakan menolak. Dia takut jika besok dia akan hilang kewarasannya.


"Ehm, maaf, Bang. Aku turun dulu," kata Rachel memberanikan diri.


Rachel melepaskan pelukan Satria, lalu dengan cepat dia turun. Sebelum dia masuk ke dalam rumahnya, Rachel terlihat menatap Satria dan berkata.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku, maaf aku ngga bisa ngajak Abang mampir. Aku masih syok ini," kata Rachel jujur.

__ADS_1


Satria tersenyum, kemudian dia turun dari mobilnya dan menghampiri Rachel. Rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang belum dia keluarkan.


Ingin rasanya Satria mengeluarkan kata-kata yang sudah dia rangkai untuk Rachel saat ini juga, agar lebih tenang.


"Ra! Abang mau bicara sebentar, boleh?" tanya Satria.


Rachel terlihat menggelengkan kepalanya, bukannya tidak mau mendengarkan Satria berbicara.


Namun, dia takut jika Rachel akan pingsan saat mendengar hal yang tidak terduga dari bibir Satria.


"Aku belum siap, nanti aja, ya, Bang." Rachel langsung berlari dan masuk ke dalam rumahnya tanpa mendengarkan jawaban dari Satria.


Satria terlihat menghelan napas berat, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan kecewa.


"Ck! Dia itu keterlaluan, padahal aku masih ingin bicara." Satria langsung memasang sabuk pengaman, lalu dia oergi dari sana.


Selepas kepergian Satria, Rachel terlihat mengintip dari balik gorden. Akhirnya dia bisa bernapas dengan lega, setelah memastikan Satria benar-benar pergi dari halaman rumahnya.


"Bang Satria itu sebenarnya kenapa sih? Kenapa dia aneh seperti itu? Pakai acara meluk-meluk segala lagi, atau jangan-jangan--"


Rachel tidak berani untuk membayangkan hal yang belum pasti terjadi, dia takut kecewa. Mungkin saja Satria melakukan hal tersebut, hanya karena dia menyayangi Rachel sebagai adiknya sendiri.


Walaupun tidak Rachel pungkiri jika dia menginginkan Satria untuk menjadi kekasihnya, atau bahkan Rachel ingin menjadikan Satria sebagai suaminya di masa depan nanti.


"Sayang, kamu kenapa ngintip-ngintip kek gitu? Ada apa sih?" tanya Bu Airin seraya mengelus pundak Rachel.


Rachel terlihat terlonjak kaget mendapat perlakuan dan pertanyaan seperti itu dari ibunya sendiri, dia sungguh kaget karena konsentrasinya benar-benar sedang buyar saat ini.


"Kok kaget gitu? Kenapa?" tanya Bu Airin.


"Tidak apa-apa, Bunda," jawab Rachel.

__ADS_1


***


Masih berlanjut.


__ADS_2