Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 51


__ADS_3

Satria begitu senang pagi ini, walaupun tidak bisa meminta haknya karena waktu yang tidak memungkinkan. Namun, dia bisa bermesraan dengan istrinya.


Dia juga begitu senang, karena saat dirinya bermain dengan dada istrinya dan dengan tubuh polos istrinya, Rachel membiarkannya walaupun dengan bibir yang mengkerucut.


Bahkan Satria sempat mengangkat tubuh Rachel dan mendudukkannya di atas pangkuannya, lalu dia mulai menyesap ujung dada istrinya yang memang sangat kecil itu.


Walaupun awalnya Rachel terlihat risih, tapi lama-kelamaan dia terlihat begitu menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya. Bahkan Rachel nampak menjambak rambut Satria dengan kasar.


Satria tidak peduli, karena dia begitu menyukainya. Apalagi saat dia mendongakan kepalanya, dia melihat Rachel yang sedang memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya.


Andai saja waktunya cukup, ingin sekali Satria segera membobol benteng pertahanan milik istrinya itu.


Sampai akhirnya acara bermesraan mereka harus berakhir, karena Rachel merasa takut kala milik Satria yang sudah berdiri tegak dan terselip di kedua pahanya.


Satria pasrah, karena memang dia paham jika Rachel sama seperti dirinya yang belum pernah merasakan nikmatnya malam pertama. Pasti masih merasa risih.


"Ehem, Bang. Aku laper," kata Rachel setelah mereka selesai melakukan shalat subuh.


"Eh? Ini masih pagi banget loh," kata Satria seraya melirik jam yang baru menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Tapi aku laper, kalau di rumah bunda sudah siapin aku susu anget sama sandwich kalau pagi begini," kata Rachel.


Satria paham, bahkan bu Airin juga sudah berpesan kepada Satria jika Rachel harus sarapan pagi dan tidak boleh telat makan karena dia punya penyakit magh.


"Ya sudah, kamu tunggu dulu di sini. Aku akan memesan roti dan susu hangat kesukaan kamu," kata Satria.


Satria terlihat bangun dan hendak pergi ke luar kamar, tapi dengan cepat Rachel bertanya.


"Abang mau pergi?" tanya Rachel.


"Iya," jawab Satria seraya menghentikan langkahnya.


"Ish! Kenapa ngga mesen aja lewat telepon?" kata Rachel yang memang tidak mau ditinggal.


"Kamu benar," kata Satria.


Satria langsung memesan apa yang Rachel inginkan lewat sambungan telepon, dia juga tentunya memesan untuk dirinya juga.


"Katanya akan siap dalam waktu lima belas menit," kata Satria.


"Iya, Bang," jawab Rachel.


Rachel terlihat duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya, Satria tersenyum lalu menghampiri istrinya tersebut.

__ADS_1


Dia duduk tepat di samping istrinya, lalu dia peluk dan dia sandarkan kepalanya di bahu istri cantiknya.


"Abang geli," kata Rachel saat merasakan lehernya yang kini sedang dikecupi oleh suaminya itu.


"Dingin, Yang. Peluk sama kecupin kamu bikin anget," kata Satria.


"Tapi akunya malah merasa dingin!" protes Rachel kala Satria mengecup basah lehernya.


"Kamu tuh kebiasaan, banyak protes. Aku tuh lagi pengen mesra-mesraan sama kamu," kata Satria.


Berduaan saja dia sebuah kamar yang terkesan sangat romantis, membuat Satria ingin segera memerawani istrinya.


Sayangnya, dia masih harus menunggu perut istrinya terisi terlebih dahulu. Dia takut jika istrinya akan pingsan karena merasa lemas dan lapar.


Satria langsung menyusupkan tangannya ke dalam baju istrinya, dia langsung menyingkap pelindung dada istrinya.


Tangan kanannya meremar dada istrinya, sedangkan tangan kirinya terlihat memilin ujung dada yang satunya.


"Abang!"


Rachel terlihat memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya, rasanya seperti ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Tangan kirinya bahkan terlihat berpegangan pada ujung meja, sedangkan tangan kanannya terihat menyimpan ponselnya di atas meja.


Satria tersenyum karena istrinya mulai menikmati sentuhan tangannya, dia kecupi leher dan pundak istrinya. Lalu dia sesap pundaknya sampai membekas.


"Abang!"


Tangan itu juga terlihat turun dan menyelinap di balik celana pendek yang Rachel pakai, tangan itu mengusap milik Rachel yang terasa sangat halus dan tidak berbulu.


"Pengen, Yang," kata Satria seraya menggigit cuping telinga istrinya.


Rachel terlihat begitu gugup kala Satria mengungkapkan keinginannya, dia benar-benar khawatir dan gelisah.


"A--aku makan dulu, aku laper," kata Rachel.


"Kalau gitu kiss dulu aja," kata Satria mencoba bernegosiasi dengan istri kecilnya.


Satria terlihat mengangkat tubuh istrinya ke atas pangkuannya, dia menatap istrinya dengan tatapan penuh damba.


Jujur Rachel juga ingin merasakan nikmatnya surga dunia, walaupun ada rasa takut di hatinya. Namun, dia pasti melakukannya cepat atau lambat, pikirnya.


"Kiss me please," pinta Satria karena dia melihat istrinya yang hanya dia saja.

__ADS_1


Rachel tersenyum, lalu dia menunduk dan mengecupi bibir suaminya. Satria terlihat menekuk wajahnya, dia seakan dipermainkan oleh istrinya tersebut.


"Kamu tuh kebiasaan," keluh Satria.


Satria langsung merebahkan tubuh istrinya dengan sangat perlahan di atas sofa, kemudian dia mengungkung tubuh istrinya dan mulai menunduk lalu menautkan bibirnya.


Tautan bibir yang begitu pelan dan lembut, baik Satria ataupun Rachel terlihat begitu menikmati setiap pagutan yang mereka lakukan.


Tanpa sadar Rachel bahkan mengerang beberapa kali, apalagi saat Satria meremat dadanya.


Ting Tong!


Bel berbunyi, tangan dan bibir Satria yang sedang asik bermain langsung terhenti. Dia bahkan terlihat melepaskan pagutannya.


"Pesanan aku sudah datang, aku mau sarapan dulu. Nanti kita lanjut lagi," kata Rachel.


Dia berusaha menenangkan hati suaminya, karena dia tahu jika Satria pasti kecewa. Karena dia bisa melihat dari raut wajah Satria yang ditekuk.


"Iya," jawab Satria lesu.


Satria nampak turun dari tubuh istrinya, lalu dia duduk di atas soga dengan wajah tertekuk. Rachel tersenyum lalu bangun dan segera merapikan bajunya sesaat sebelum dia membuka pintu kamarnya.


"Selamat pagi," ucap seorang wanita muda yang terlihat membawa makanan yang Rachel inginkan.


"Pagi, masuk saja. Silakan masuk," kata Rachel seraya membuka pintunya dengan lebar.


"Terima kasih," ucapnya seraya masuk dan menata makanan di atas meja.


"Selamat menikmati," ucap pelayan wanita tersebut.


"Ya," jawab Satria.


Pelayan wanita itu langsung pergi setelah mengantarkan pesanan dari Rachel, sedangkan Rachel langsung duduk dan menikmati sarapan paginya.


Segelas susu hangat dan juga dua buah sandwich, Satria hanya memperhatikan istrinya. Dia seolah tidak tertarik dengan makanan yang ada di hadapannya.


Hanya Rachel saja yang terlihat sangat menggoda di matanya, apalagi saat bibir Rachel terbuka dan menggigit sandwich. Jakun Satria terlihat naik turun, dia seakan sudah tidak sabar untuk menikmati bibir itu lagi.


"Abang makan juga, ngga boleh diem aja. Nanti Abang lemes," kata Rachel seraya menyodorkan satu buah sandwich ke arah suaminya.


Awalnya Satria tidak mau makan sandwich yang disodorkan oleh istrinya, tapi setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya, dia terlihat bersemangat memakan sandwichnya.


"Eh? Katanya Abang ngga laper, kok makannya rakus bener?" tanya Rachel keheranan.

__ADS_1


*****


Siang Bestie, selamat hari senin. Selamat beraktivitas, semoga kalian sehat selalu. Bab kedua siap meluncur, jangan lupa like dan koment sebelum baca bab selanjutnya


__ADS_2