Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 102


__ADS_3

"Beneran?" tanya Mich seraya menatap wajah Kinara dengan lekat.


"Iya, Om. Beneran," jawab Kinara dengan wajah yang sudah memerah.


Mich tersenyum senang, lalu dia membuka kain yang masih tersisa di tubuhnya dan di tubuh istrinya.


"Sudah siap?" tanya Mich.


"He'em, sudah, Om." Kinara menganggukkan kepalanya dengan senyum manis di bibirnya.


Melihat akan hal itu, Mich benar-benar merasa tidak tahan. Dia kembali mencumbui bibir istrinya, bahkan dengan tidak sabarnya tangan Mich mencari titik sensitif tubuh istrinya.


"Ouch! Om, enak. Iya gitu, Om." Kinara menjambak rambut Mich ketika pria itu mulai mengecupi setiap inci tubuhnya, bahkan tangannya tanpa henti meremat dan memelintir ujung dada Kinara.


"Enak, ya?" tanya Mich seraya mensejajarkan wajahnya, lalu dia mengecup bibir Kinara.


Setelah itu dia kembali fokus untuk membobol gawang keperawanan wanitanya, dia sangat sadar jika istrinya masih sangat muda. Dia sadar jika milik istrinya pastinya masih begitu rapat.


Dengan perlahan Mich membuka kedua kaki Kinara dengan lebar, lalu dia tatap milik istrinya yang begitu cantik dengan bulu halus yang menutupi inti tubuh istrinya.


"Dia sangat cantik, mirip seperti buah peach. Aku cicipi boleh?" tanya Mich.


Wajah Kinara yang sudah memerah semakin bersemu. Bahkan wanita muda itu langsung menganggukkan kepalanya dengan tangan yang terus membelai puncak kepala suaminya.


"Boleh, Sayang. Kamu bo--"


Kinara tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya, karena lidah Mich kini sudah mulai menyapu inti tubuhnya. Bahkan, sesekali bibir itu mengecup inti tubuh Kinara dengan lidah yang bermain pada liang kelembutan milik istrinya.


"Om, Kinar ngga kuat. Kenapa Om siksa Kinar dengan kenikmatan ini?" tanya Kinara dengan tubuhnya yang menggeliat karena lidah milik suaminya seakan menggesek dinding kelembutan miliknya dengan kuat.


Mich tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, terlebih lagi ketika dia merasakan inti tubuh istrinya yang dirasa sudah sangat becek.


Namun, Mich merasa itu belum cukup. Bibir Mich mengecupi inti terkecil dari tubuh istrinya, sedangkan satu jari telunjuknya mulai melesak masuk ke dalam inti tubuh istrinya dengan begitu perlahan.


Dia tidak mau jika Kinara akan kaget ketika miliknya yang besar masuk, maka dari itu dia melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan menggunakan jari telunjuknya.


"Perih dikit, Om. Tapi enak, dalemin lagi, Om. Gerakin, Kinar syuka." Mata Kinara terpejam, tetapi tubuhnya mulai menggelinjang dengan tidak terkendali.


Mich sampai harus menekan kedua paha istrinya agar dia bisa leluasa untuk terus bermain dengan inti tubuh istrinya, Kinara yang merasa tidak tahan langsung menjepit wajah Mich dengan kedua pahanya.

__ADS_1


Bahkan, tangan Kinara dengan cepat menjambak rambut prianya. Gelombang kenikmatan sudah datang, Kinara tidak sanggup untuk menahannya.


"Om, Kinar mau pipis!" pekik Kinara.


Wanita itu bahkan berusaha untuk bangun, tetapi Mich menahan tubuh wanitanya. Mich paham dengan apa yang dimaksud oleh istrinya bukan ingin pipis ke dalam kamar mandi, tetapi istrinya sudah sampai pada puncak pertamanya.


"Mau ke mana?" tanya Mich.


"Mau ke kamar mandi," jawab Kinara malu-malu.


"Tidak usah, sekarang kamu harus kembali merasakan nikmatnya yang satu ini." Mich langsung membungkam bibir istrinya, lalu dia mulai melancarkan aksinya.


Tangan kanannya dia jadikan sebagai penyangga tubuhnya, sedangkan tangan kirinya dia pakai untuk mengarahkan miliknya agar bisa masuk ke dalam inti tubuh istrinya.


Saat dia mulai menggesekkan miliknya, Mich tersenyum di dalam hatinya. Karena milik istrinya benar-benar becek seperti baru saja tersiram air hujan, dengan begitu perlahan dia memasukkan sedikit demi sedikit miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya itu.


"Engh!"


Lenguhan manja dari bibir Kinara terdengar begitu jelas, Mich bersorak. Lalu, dia kembali mendorong miliknya agar bisa masuk dan dilahap habis oleh milik istrinya tersebut.


"Ouch! Om! Sakit, tapi enak!" pekik Kinara saat milik Mich masuk semua.


Mich menghentikan aktivitasnya, lalu dia tatap wajah Kinara dengan penuh cinta. Dia usap pipi istrinya dengan begitu lembut, lalu pria itu bertanya.


"Iya, Om. Tapi enak, gerak Om. Kinar penasaran sama rasanya kalau itunya Om digerakkin," jawab Kinara.


Sungguh kini keinginan Kinara benar-benar membuat Mich ingin tertawa dan juga ingin dengan cepat menghentakkan miliknya agar masuk dan keluar dengan cepat, tetapi masih dia tahan.


"Mau diapain, Sayang?" goda Mich.


"Gerakin, Om. Kinar ngga tahan, milik Kinar berkedut-kedut. Dia mau dicepetin katanya," ucap Kinar dengan tidak sabar.


Karena walaupun terasa perih dan juga inti tubuhnya kini terasa begitu sesak, tetapi rasa nikmat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.


Bahkan, Kinara merasa seperti ada sengatan aliran listrik yang membuat tubuhnya terkejut dan ingin segera merasakan gelombang dahsyat dengan kenikmatan apa yang nantinya akan disuguhkan.


"Om! Gerak!" rengek Kinara.


Mich tertawa, benda keras yang sejak tadi berada di dalam inti tubuh istrinya pun dia gerakan. Dia memaju mundurkan pinggulnya dengan begitu perlahan, Kinara sampai mengerang karena keenakan.

__ADS_1


Bahkan, mata Kinara terpejam dengan begitu kuat. Sedangkan bibirnya sedikit terbuka dengan suara erangan yang terdengar begitu seksi di telinga Mich.


"Cepetin, Om. Enak, Om. Kinar mau yang cepet," ucap Kinara seraya menggoyang-goyangkan pinggulnya.


"Seperti keinginan dari kamu, Sayang."


Setelah mengatakan hal itu, Mich langsung mempercepat tempo gerakannya. Kinara sampai meracau tidak jelas mendapatkan serangan kenikmatan dari suaminya tersebut.


"Ouch! Om, kalau rasanya enak kata gini Kinar ngga bakalan nolak. Kinar mau terus-terusan, enak Om. Akh! Iya gitu, Om."


Wajah gadis itu begitu menggairahkan di mata Mich, bahkan dengan tidak sabarnya dia menunduk dan menyesap ujung dada istrinya dengan tempo gerakkan pinggulnya yang begitu cepat.


"Ouch, Sayang. Ini sangat gila, sempit, Yang." Mich mulai meracau tidak jelas, karena ternyata melakukan penyatuan itu rasanya benar-benar begitu nikmat.


"Om! Kinar mau sampe!" jerit Kinara.


Mich tersenyum puas lalu mempercepat gerakannya, tidak lama kemudian dia melihat tubuh Kinar kejang-kejang. Bukan karena penyakit ayan, tetapi dia sudah sampai pada puncak kenikmatan.


"Om! Berhenti dulu, Kinar--"


Suara Kinara seakan hilang di telan bumi, karena Mich langsung membungkam bibir itu dengan ciuman yang begitu mesra. Bahkan, dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya.


Dia tidak menghentikan aktivitasnya, justru dia semakin mempercepat tempo gerakan pinggulnya. Hal itu membuat Kinara juga ikut merasakan kenikmatan surgawi kembali.


"Ouch!" lenguh Mich dengan panjang ketika dia sampai pada puncaknya.


Cairan yang terasa begitu hangat langsung mengalir pada inti tubuh Kinara, Mich tersenyum puas lalu menunduk dan menyesap ujung dada istrinya.


"Hentikan, Om! Ouch!" keluh Kinara yang merasakan kenikmatan yang datang secara bertubi-tubi.


"Enakkan, Yang? Mau lagi ngga?" tanya Mich.


"Ngga, Om. Nanti lagi aja, Kinar lemes." Kinara menjawab pertanyaan Mich dengan napas yang terengah-engah.


Sungguh dia merasa tidak menyesal karena sudah memberikan keperawanannya kepada suaminya, rasanya ternyata begitu nikmat dan membuat dia terbang melayang entah ke mana.


"Baiklah, untuk yang pertama kita melakukannya sekali saja. Tapi, nanti siang aku mau lagi," ucap Mich seraya melepaskan miliknya dari inti tubuh istrinya.


"Ouch!" lenguh Kinara yang masih merasakan sisa-sisa sensasi percintaan panas yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Sayang! Siang lagi ya?" pinta Mich seraya mengusap miliknya yang masih saja tidak mau tidur.


"Siang? Ngga mau, Kinar maunya--"


__ADS_2