Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Menahan Diri


__ADS_3

Bukannya menjawab pertanyaan Ridwan, bu Airin malah membuka kemeja yang dia pakai. Lalu melemparkannya secara sembarang, Ridwan langsung memelototkan matanya kala melihat dada bu Airin yang terlihat begitu besar dan seakan hendak tumpah dari pengamannya.


"Astogeh! Ini nikmat apa kiamat?" tanya Ridwan seraya mengusap wajahnya.


Bu Airin bangun dan langsung menghampiri Ridwan, tanpa Ridwan duga, Bu Airin langsung memeluk Ridwan dan berusaha untuk menautkan bibirnya.


"Sadar, Bu! Sadar, jangan kek gini. Saya memang suka wanita matang, tapi kalau beringas kek gini saya jadi takut." Ridwan dorong wajah Bu Airin dengan telapak tangan kanannya.


"Wan, tolong saya. Panas banget, sentuh saya, Wan." Bu Airin raih tangan kanan Ridwan lalu menempelkannya ke dadanya.


"Astogeh! Empuk," celetuk Ridwan.


"Remat, Wan!" pinta Bu Airin.


"Gila, ini gila. Mana boleh begini, dosa! Emak! Uwan harus gimana ini?" tanya Ridwan.


Karena Ridwan diam saja, bu Airin terlihat meremat dadanya sendiri. Dia mengusap perutnya sampai turun ke bawah dan membuka celana bahan yang dia pakai.


Setelah itu, bu Airin langsung memeluk Ridwan, menggoyang-goyangkan tubuhnya dan dia berjinjit lalu mengecupi leher Ridwan.


"Tolong, Uwan! Emak!" pekik Ridwan saat merasakan tubuhnya meremang.


Karena bingung harus berbuat apa, Ridwan berusaha untuk melepaskan diri dari bu Airin. Lalu, dia mengambil kemeja yang bu Airin lempar dan mengikat tubuh bu Airin dengan kemejanya sendiri.


"Jangan, Wan! Jangan diikat, sentuh aku. Please!"


Bu Airin terlihat sangat bergairah, dia menggigit bibir bawahnya lalu menggsekkan miliknya yang masih terbungkus segitiga pengaman ke paha Ridwan.


"Ya ampun, Emak. Lama-lama si entong bisa bangun ini," kata Ridwan.


Ridwan yang merasa tidak tahan, langsung mengangkat tubuh bu Airin dan memanggulnya seperti sekarung beras.


Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyurkan air hangat ke tubuh bu Airin, dia sedang berusaha untuk menyadarkan bu Airin. Agar wanita matang itu tidak melakukan hal yang aneh-aneh.


"Ya Tuhan, kenapa di apartemen semewah ini tidak ada pembantu? Setidaknya dia harus tinggal bersama dengan seseorang, bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap dirinya?" keluh Ridwan seraya terus mengguyur tubuh bu Airin.


"Wan!" rengek manja Bu Airin.


Pandangan mata Bu Airin sudah mulai lebih baik, bahkan tubuhnya tidak terlalu banyak bergerak seperti sebelumnya.


"Ya ampun, sepertinya Bu Airin sudah lebih baik," kata Ridwan.

__ADS_1


Ridwan mengambil kimono mandi dan membuka semua sisa kain yang melekat di tubuh bu Airin dengan tangan gemetar, setelah itu dia memakaikan kimono mandi ke tubuh bu Airin.


Dengan sabar dia menggendong tubuh bu Airin dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia selimuti tubuh bu Airin dan tak lama kemudian, mata wanita itu mulai meredup.


"Jangan pergi!" kata Bu Airin seraya menggenggam erat tangan Ridwan.


"Aku tidak akan pergi," kata Ridwan.


Tak lama kemudian, mata bu Airin benar-benar tertutup dengan rapat. Itu tandanya jika wanita matang itu sudah terlelap dalam tidurnya.


Ridwan berusaha melepaskan genggaman tangan bu Airin, setelah itu dia mencari ponsel bu Airin.


Dia ingin mencari nomor ponsel yang bisa dihubungi, tentunya hal itu dia lakukan agar ada yang menjaga bu Airin.


Dia tidak mungkin berlama-lama satu atap bersama dengan bu Airin, karena walau bagaimanapun juga, dia lelaki normal.


Tentu saja dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan terhadap dirinya dan juga bosnya tersebut.


Tiba di ruang tamu, Ridwan menemukan posel milik bu Airin tergeletak begitu saja. Dia ambil ponselnya dan langsung mencari nomor ponsel yang sekiranya bisa dia hubungi.


"Siapa ya, yang bisa membantu?" ucap Ridwan lirih.


Setelah lama mencari, akhirnya dia menemukan nomor kontak dengan tulisan 'Bi Imas'. Ridwan mencoba untuk menghubungi nomor ponsel tersebut.


Tentu saja hal itu dia lakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan wanita paruh baya itu.


"Di mana Nona Airin?" tanya Wanita paruh baya itu.


Ya, setelah menunggu setengah jam, akhirnya wanita yang bernama bi Imas itu datang ke apartemen milik bu Airin.


Ternyata wanita itu adalah kepala pelayan di rumah utama, wanita itu terlihat sangat cemas sekali.


"Di kamarnya, Bi. Saya pamit dulu, sudah sore ini. Takutnya saya diomelin sama bu Rita," kata Ridwan.


"Tidak akan, tadi saya sudah menelpon bu Rita dan berkata jika kamu sedang pergi dengan Nona Airin," kata Bi Imas.


Mendengar jawaban dari bi Imas, Ridwan merasa lega. Dia pun langsung berucap terima kasih dan segera berpamitan. Namun, sebelum dia pergi bi Imas bertanya kepada Ridwan.


"Kamu tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, bukan?" tanya Bi Imas.


"Ya Tuhan, tentu saja tidak. Ini apartemen mewah, pasti ada Cctv'nya. Boleh langsung dicek," kata Ridwan dengan nada kesal.

__ADS_1


Sudah tersiksa raksa, dituduh pula. Dia benar-benar kesal, tanpa berbasa-basi lagi Ridwan langsung pergi meninggalkan apartemen tersebut.


Di lain tempat.


Juki sedang membeli mainan dan juga makanan untuk Jesicca, Putri dan juga bu Sari. Dia benar-benar semangat jika sudah berurusan dengan orang-orang rumah.


Apa lagi setelah dia menikah, yang paling membuat dirinya semangat adalah saat dia tiba di rumah dan bertemu dengan Jesicca.


Ya, walaupun dia tahu jika Jesicca adalah mantan pelakor. Tapi itu tidak masalah menurutnya, karena yang terpenting sekarang Jesicca sudah benar-benar sadar dan berusaha untuk menjadi istri, ibu dan menantu yang baik.


"Assalamualaikum," ucap salam Juki kala tiba di kediaman bu Sari.


"Waalaikum salam," jawab Bu Sari.


Juki menyerahkan bingkisan berisikan makanan dan juga mainan kepada bu Sari, dia nampak mengedarkan pandangannya mencari sosok dua wanita yang dia rindukan.


"Jesicca dan Putri sedang di kamar, tadi Putri habis imunisasi. Agak rewel, tapi kayaknya sekarang dia tidur," kata Bu Sari.


"Oh, kalau gitu aku ke kamar dulu." Juki mengecup kening ibunya, lalu pergi ke kamarnya.


Tiba di dalam kamar, Juki langsung tersenyum kala melihat Jesicca dan juga Putri yang nampak terlelap.


Sepertinya Jesicca kecapean karena mengurus Putri yang rewel, sehingga dia malah ikut terlelap bersama dengan Putri.


"Kamu pasti cape," kata Juki.


Juki langsung duduk di tepian tempat tidur, dia menunduk lalu mengecup bibir Jesicca beberapa kali. Tangannya mengusap wajah istrinya dan kembali melabuhkan kecupan hangat di bibir istrinya.


Merasakan ada sentuhan, Jesicca nampak mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia tersenyum kala melihat wajah tampan suaminya.


"Mas udah pulang?" bisik Jesicca.


"Hem, Mas Rindu. Sini!" kata Juki seraya menegakkan tubuhnya lalu menepuk kedua pahanya.


Jesicca tersenyum, dia bangun dengan perlahan lalu duduk di atas pangkuan suaminya.


"Kiss me please!" bisik Juki seraya meremat bokong istrinya.


*


*

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Dilanjut nanti sahur, ya... kalau ngga kesiangan tapi hehehe...


__ADS_2