
Wajah Mini terlihat sedang cemberut, bibirnya bahkan terlihat mengkerucut. Dia sedang menanam bawang merah, sudah setengah jam dia melakukan hal itu.
Angga terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa melihat kelakuan istrinya, hal itu dia lakukan karena ingin mengerjai istrinya.
Ya, Mini berkata ingin mempunyai kebun organik seperti yang dimiliki oleh bi Narti. Mini berkata ingin mempunyai kegiatan, bukan hanya berdiam diri saja di rumah.
Padahal dokter berkata jika mereka ingin segera memilik keturunan, Mini tidak boleh terlalu cape. Dia harus istirahat dan makan dengan teratur.
Selama ini Mini dan Angga memang sangat sibuk mengelola Cafe milik Larasati, bahkan Cafe tersebut kini sudah memiliki banyak cabang.
"Ayang, cape!" keluh Mini.
Angga yang sedang duduk anteng di bangku taman langsung bangun dan menghampiri istrinya, dia merangkul pundak istrinya lalu berkata.
"Katanya mau punya kegiatan, kok udah ngeluh aja?" kata Angga.
Mini memeluk Angga, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Gimana nggak ngeluh, orang kerjaannya bikin capek kayak gini." Mini mengusakkan wajahnya di dada suaminya.
"Ya ampun, istriku ini. Sudah aku bilang, kamu tuh cukup diem aja di rumah, nikmati semua fasilitas yang aku kasih. Kamu capenya hanya saat aku ajak kuda-kudaan aja," kata Angga seraya mencuil dagu istrinya.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Angga, Mini terlihat tersipu malu. Wajahnya bahkan terlihat memerah seperti tomat, Mini mendongakkan kepalanya lalu berkata.
"Tapi kalau ngga ada kegiatan bosen, Yang," keluh Mini.
Angga tersenyum mendengar ucapan dari istrinya, dia melerai pelukannya lalu menggendong istrinya dan membawa istrinya tersebut menuju kamar mereka.
Ya, setelah dua tahun menikah. akhirnya Mini dan Angga memutuskan untuk hidup mandiri, mereka membeli rumah dari bagi hasil Cafe milik Larasati.
Mereka juga membangun Resto bertemakan makanan khas jawa, Angga dan Mini memercayakan Resto tersebut kepada bi Narti.
Tantunya Angga dan Mini selalu ikut memantau perkembangan Resto tersebut, walaupun mereka tidak selalu datang dalam setiap harinya.
Angga dan Mini akan menginap bergantian di kediaman om Hendry dan juga bi Narti seperti setiap weekend tiba.
Beruntung keduanya begitu sabar dan setia, tidak ada diantara keduanya yang berniat untuk saling menyalahkan atau bahkan ingin berpisah.
"Kamu mau apa, Mas? Kenapa malah membawa aku ke kamar?" tanya Mini.
Angga tersenyum, lalu dia mengusap pipi istrinya dengan sangat lembut.
"Mau ngajak kamu buat bikin dede bayi, siapa tahu jadi. Mumpung libur tiga hari, kita gunakan waktu yang ada." Angga mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh istrinya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, ini sudah siang. Sebentar lagi waktu dzuhur," kata Mini. Dia menahan tangan Angga yang terus saja bergerilya di tubuhnya.
"Biarin, Yang. Biar sekalian mandi terus shalat," kata Angga.
"Aduh!" keluh Mini kala tangan Angga meremat kedua dada istrinya.
"Kamunya jangan ngomong terus, nanti bikin dedenya ngga jadi-jadi. Harus khusyu," kata Angga.
"Ya ampun, Mas!"
Mini langsung menjambak rambut Angga kala dia merasakan puncak dadanya yang kini dihisap kuat oleh suaminya.
*
*
Selamat sore kesayangan, Othor mau mengucapkan minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin.
Othor juga minta maaf, takutnya ada salah-salah kata. Semoga di hari yang fitri ini, Sang Khalik selalu memberikan keberkahan untuk kita semua.
Oiya, novel Othor yang baru sudah rilis. Kalau sempat mampir ya, semoga kalian suka.
__ADS_1