
Satria terlihat begitu serius dalam berbicara, bahkan terkesan tidak main-main. Yudha sampai bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar yang berbicara itu Satria?
Kenapa Satria tumbuh dengan sangat bijak? Kenapa Satria tumbuh menjadi remaja tampan nan penuh perhatian?
Ah, Yudha sepertinya harus banyak berterima kasih kepada Jonathan. Karena lelaki itu sudah bisa mendidik dan membesarkan putranya dengan sangat baik.
Bahkan Jonathan sama sekali tidak pernah membedakan antara Satria dan juga Kinara, begitupun dengan Juki. Lelaki itu selalu memberikan hal yang terbaik untuk Putri.
Yudha merasa hidupnya sangat beruntung, karena walaupun dia melakukan banyak kesalahan, namun Tuhan masih memberikan banyak kebaikan untuknya.
Rasa-rasanya kalimat dari salah satu ayat Al Qur'an yang menyatakan 'Nikmat mana lagi yang kau dustakan' itu sangat tepat untuk Yudha.
"Tapi, Nak. Rasanya Papa sudah tidak pantas untuk berumah tangga lagi, lagian Papa sangat bahagia mempunyai kamu dan juga Putri. Bagi Papa kalian adalah anak-anak yang sangat baik dan bisa membuat Papa bangga, itu sudah lebih dari cukup," kata Yudha seraya tersenyum hangat.
Satria menggelengkan kepalanya, bukan Itu jawaban yang dia inginkan. Dia tahu jika papa'nya itu mempunyai banyak kesalahan di masa lalunya, karena Jonathan tak pernah menutupi aib dari Yudha.
Namun, Jonathan menceritakan semuanya kepada Satria bukan karena ingin menjelekkan papa'nya tersebut.
Itu semua Jonathan lakukan, karena ingin memberikan cerminan hidup kepada Satria. Hal yang dilakukan oleh papa'nya itu adalah salah, tidak bisa ditiru dan Satria harus bisa membuktikan jika dirinya lebih baik dari apa yang pernah papa'nya lakukan di masa lalu.
"Tidak Papa, tidak seperti itu. Sama halnya seperti daddy Jo. Dia merasa sangat bangga mempunyai aku dan juga Kinara, namun dia juga membutuhkan buna untuk tempat berbagi. Karena akan banyak hal yang seorang lelaki dewasa butuhkan dari wanita yang bergelar sebagai istri," kata Satria.
Yudha terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika putranya yang baru berusia tujuh belas tahun bisa mengatakan hal seperti itu.
Satria seolah benar-benar paham apa yang Yudha butuhkan, Yudha memang lelaki normal. Namun, rasanya dia sangat malu untuk berumah tangga kembali.
Apalagi dia merasa jika masa lalunya terlalu buruk, terlalu banyak kesalahan yang sudah dia perbuat.
"Tapi, Nak Pa--"
"Ehm, Mas. Ini teh angetnya, silakan diminum," kata Mira.
Sontak Yudha dan Satria menolehkan wajahnya ke arah Mira, Yudha bahkan sampai berhenti bicara.
"Terima kasih, Tante," kata Satria.
"Sama-sama," ucapnya malu-malu.
Satria tersenyum, karena sepertinya tebakannya benar. Mira menyukai Yudha, karena setelah Satria perhatikan, gerak-gerik Mira terlihat lain.
Pandangan matanya juga berbeda, hal itu membuat Satria ingin tertawa. Karena Satria merasa jika Mira sudah seperti anak abege yang baru mengenal cinta.
Satria mengambil secangkir teh dan mulai menyeruputnya, dia terlihat manggut-manggut lalu berkata.
__ADS_1
"Tehnya sangat manis, tapi lebih manis lagi senyuman Tante. Apalagi kalau mau nemenin Papa aku yang tampan ini, Tante makin cantik," kata Satria.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Mira terlihat tersenyum malu-malu. Bahkan dia sampai menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap Satria.
Berbeda dengan Yudha, dia terlihat memelototkan matanya. Dia menatap penuh protes ke arah putranya tersebut.
Satria tertawa, dia bangun dari duduknya kemudian berkata.
"Aku mau main dulu sama anak Panti, Papa ngobrolnya lanjutin aja sama Tante Mira," pamit Satria.
"Ya, terserah," kata Yudha.
Satria terlihat pergi dari ruangan tersebut, Mira terlihat duduk di salah satu sofa dekat Yudha. Yudha hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu ngga ikut main sama anak panti juga, Mir? Katanya kamu kesepian kalau di rumah terus?" tanya Yudha.
"Aku--aku maunya berduaan sama kamu, Mas," ucap Mira pelan tapi masih terdengar dengan jelas di telinga Yudha.
"Ya ampun!" keluh Yudha.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Satria, Mira terlihat begitu menyukai dirinya. Bahkan, saat menetap dirinya saja Mira terlihat malu-malu.
"Tapi, Mir. Dari awal kamu bilang mau punya anak adopsi biar ada yang nemenin kamu, terus, kenapa sekarang malah mau berduaan aku?" pancing Yudha.
Wajah Mira yang awalnya terlihat sumringah dan malu-malu, kini berubah sendu. Yudha menjadi bertanya-tanya akan hal itu.
"Maksud kamu?" tanya Yudha.
"Aku tidak mempunyai rahim, aku tidak akan punya anak. Dulu aku pernah menikah dan suamiku meninggalkan aku, cukup lama aku terpuruk dan meluapkan kesedihanku dengan terus bekerja," adu Mira.
"Lalu?" tanya Yudha.
"Ternyata aku sudah tua, aku mau ada anak yang menemaniku. Walaupun hanya anak adopsi, tapi... setelah melihat Mas Yudha, aku suka. Mas baik, aku mau Mas jadiin istri. Terserah Mas mau ngatain aku apa, tapi aku suka Mas," kata Mira.
"Kamu salah, aku bukan lelaki baik. Terlalu banyak kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu," kata Yudha dengan tatapan sendunya.
Yudha selalu saja merasa sangat bersalah, Yudha selalu saja merasa jadi manusia yang berlumur dengan dosa kala dia mengingat banyaknya kesalahan di masa lalu.
"Tapi, Mas ngga ada niatan untuk mengulangi kesalahan yang pernah Mas lakuin, kan?" tanya Mira.
Yudah terkekeh, karena dia merasa jika pertanyaan dari Mira itu sangatlah lucu. Mana ada orang yang berniat ingin melakukan hal yang salah lagi, pikirnya.
"Ngga dong, justru aku sedang berusaha untuk memperbaiki diri. Mungkin dengan mengurusi anak-anak Panti akan menjadi hal yang baik, walaupun tidak bisa menebus dosaku di masa lalu," kata Yudha.
__ADS_1
"Kalau begitu kita nikah saja, aku mau jadi istri kamu. Aku akan membantu kamu mengurus Panti, please...."
Mira menatap Yudha penuh harap, Yudha jadi bingung dibuatnya. Masalahnya, Mira mengajaknya menikah. Bukan mengajak dirinya untuk bermain catur.
"Oh, ya ampun! Akan aku pikirkan tawaran dari kamu," kata Yudha pada akhirnya.
"Oh, ya ampun. Aku senang sekali," kata Mira.
Mira langsung menghampiri Yudha, dia duduk tepat di samping Yudha. Mira tersenyum manis, kemudian dia mengusap punggung tangan Yudha.
"Jangan seperti ini, tidak baik!" kata Yudha seraya menyingkirkan tangan Mira.
"Kalau tidak baik, segera halakan aku. Biar terasa lebih baik, ngga dosa juga. Terus, kita busa ngelakuin hal yang lebih juga," kata Mira.
"Janda gatel," celetuk Yudha.
"Garukin dong, Mas!" timpal Mira dengar kerlingan nakalnya.
"Ya ampun," keluh Yudha.
"Ngga usah ngeluh, kita sudah lama hidup sendiri. Sama-sama membutuhkan asupan vitamin, jadi... kapan Mas nikahin aku?" tanya Mira.
'Sengklek nih cewek, tapi dia lucu. Aku harus memikirkan tawarannya, lagi pula tidak rugi nikah lagi.'
"Diem aja, berarti kamu mau." Mira tersenyum malu.
"Haish! Kamu tuh asal menyimpulkan, nanti aku pikirkan dulu. Sekarang kita keluar aja, main sama anak Panti lebih baik." Yudha langsung bangun, Mira pun turut bangun.
"Kenapa malah ngajakin main sama anak Panti? Takut khilaf, ya?" tanya Mira.
"Oh Tuhan, tolong selamatkan aku dari wanita genit ini!" kata Yudha seraya berlalu.
Mira terlihat cemberut mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha, namun dia tetap mengikuti langkah Yudha keluar dari ruangan tersebut untuk bermain dengan anak-anak Panti.
***
Selamat pagi, selamat beraktivitas. Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
Oiya, Othor bikin karya baru nih. Genre teen horor, petualang horor ala-ala abegeh gitu. Buat yang suka horor boleh mampir, terima kasih.
__ADS_1