Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 31


__ADS_3

Putri merasa aneh melihat perubahan dari raut wajah Reon, kini dia terlihat lebih respek terhadap Satria. Bahkan, dia terlihat berusaha mengambil hati Satria.


Dia tidak tahu apa maksud dari atasannya tersebut, rasanya Reon malah terlihat aneh. Satria yang merasa jika Reon sedang mencari muka terhadap dirinya langsung bertanya.


"Lalu, bagaimana dengan Rachel?" tanya Satria.


"Maksudnya?" tanya Reon tidak paham.


"Bukankah Rachel adalah pacarmu, aku lihat kemarin kalian begitu dekat. Bahkan kamu punya panggilan kesayangan untuknya," kata Satria dengan nada cemburu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Reon langsung tertawa. Kini giliran dia yang menertawakan dari kecemburuan yang dia lihat dari wajah Satria.


"Oh, anda tenang saja, Tuan Satria. Dia adalah adik sepupuku, anak dari Aunty Airin. Ayahku adalah kakak dari Aunty Airin," kata Reon.


"Benarkah?" tanya Satria.


Raut wajah Satria yang sejak kemarin tertekuk kini berubah menjadi ceria kembali, dia benar-benar merasa senang saat mengetahui jika Rachel adalah adik sepupu dari Reon.


Padahal, dia sempat menyangka jika Rachel dan juga Reon adalah sepasang kekasih. Karena Satria merasa jika mereka terlihat begitu akrab dan juga dekat.


Melihat raut wajah Satria yang terlihat berbinar, Putri dibuat bingung. Dia sebenarnya ingin sekali bertanya, tapi rasanya itu adalah privasi untuk Satria.


Rasanya mereka bukan anak kecil lagi yang harus saling mengatakan apa pun yang sedang mereka rasa dan sedang mereka alami.


"Ya, tentu saja benar. Bahkan dia sekarang memintaku untuk menjemputnya," kata Reon.


"Menjemputnya di mana?" tanya Satria penasaran.


"Di tempat les," jawab Reon.


"Jam berapa?" tanya Satria.

__ADS_1


Reon terlihat melirik jam yang ada di tangan kirinya, kemudian dia berkata.


"Sepertinya sebentar lagi dia akan selesai dan aku harus segera menjemputnya," kata Reon lesu.


Satria justru tersenyum, dia merasa jika ini adalah kesempatannya untuk menemui Rachel. Dia juga ingin memberikan coklat yang belum sempat dia berikan kepada Rachel.


"Kalau begitu, biar aku yang menjemput Rachel. Kamu tolong antarkan adikku menuju kampusnya," kata Satria.


"Oke, dengan senang hati!" kata Reon dengan senyum mengembang di bibirnya.


Begitupun dengan Satria, dia terlihat tersenyum senang. Lalu, diamengajak Evan untuk segera pergi dari sana.


"Ayo, aku yang akan mengantarkan kamu," ajak Reon.


Reon terlihat menarik lembut tangan Putri, lalu mengajaknya untuk pergi dari Cafe tersebut. Putri merasa sangat aneh dengan kelakuan dari Reon.


Namun, entah kenapa... dia hanya bisa memandang tangannya yang ditarik lembut oleh Reon. Tak ada niat sedikit pun dari dalam dirinya untuk melakukan protes.


Di perjalanan menuju tempat les.


Satria terlihat melajukan mobilnya sendiri, dia terpaksa meminta Reon untuk kembali menuju perusahaan Dinata.


Tidak mungkin bukan, jika dia membawa serta Evan untuk menemui Rachel. Karena dia hanya ingin menemui Rachel sendirian saja.


Dia merasa jika ini sudah sangat sore, tidak ada salahnya jika Satria menjemput Rachel lalu pulang, bukan?


Tentu saja sebelum dia pergi, dia meminta izin terlebih dahulu kepada Larasati dan juga tuan Elias. Mereka paham dan mengizinkan, karena waktu juga memang sudah sore.


Tiba di depan tempat les yang ditunjukkan oleh Reon, Satria nampak menepikan mobilnya. Kemudian, dia menunggu waktu les selesai.


Tidak lama kemudian, dia melihat beberapa murid nampak keluar dari tempat les tersebut. Dia tersenyum saat melihat Rachel yang keluar dari sana, Satria terlihat turun dan segera menghampirinya.

__ADS_1


Melihat Satria yang kini berada di hadapannya, Rachel terlihat sangat kaget. Penampilan Satria dengan pakaian formalnya, membuat pria yang dia puja sejak dulu itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.


Namun, Rachel merasa sangat aneh. Sejak kapan Satria mau menemui dirinya terlebih dahulu? Itulah pertanyaan yang muncul di benaknya.


"Abang, Abang kenapa ada di sini?" tanya Rachel.


"Eh? Itu, anu. Aku mau menjemput kamu, kata Satria.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, senyum di bibir Rachel nampak mengembang. Dia terlihat sangat bahagia, tapi dia juga merasa aneh.


Rachel bahkan terlihat menggosok-gosok kedua telinganya, tentu saja dia takut jika telinganya salah mendengar ucapan dari Satria.


Melihat kelakuan dari Rachel, Satria nampak terkekeh. Kemudian, dia menarik lembut tangan Rachel dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Duduklah!" kata Satria setelah membukakan pintu mobil untuk Rachel.


Rachel terlihat syok dengan perlakuan manis dari Satria, tapi dia tetap menurut. Dia langsung duduk tepat di samping kemudi, tapi matanya tetap tidak beralih dari Satria.


Setelah memastikan Rachel duduk dengan nyaman, Satria langsung menutup pintu mobilnya. Kemudian, dia menyusul Rachel masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


Untuk sesaat Satria terdiam, dia melihat wajah Rachel yang begitu tegang. Satria tersenyum, kemudian Dia mengambil satu kotak coklat yang sejak kemarin ingin dia berikan kepada Rachel.


"Ini untukmu," kata Satria seraya menyodorkan sekotak coklat kepada Rachel.


Kembali Rachel menggosok-gosok telinganya, dia benar-benar takut jika dirinya salah mendengar apa yang dikatakan oleh Satria.


"Jangan seperti itu, nanti telinganya sakit," kata Satri seraya mengelus lembut telinga Rachel.


Tubuh Rachel langsung menegang, bulu kuduknya seakan berdiri. Bukan karena takut, tapi... ada sesuatu yang seakan berdesir di dalam hatinya.


****

__ADS_1


Masih berlanjut, cus ramaikan kolom komentar.


__ADS_2