Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Penjelasan Rendy


__ADS_3

"Bagaimana bisa kita sudah bercerai? Bahkan aku pun belum pernah mengurusnya dan belum pernah menandatangani surat cerai tersebut," ucap Yudha.


"Kamu sudah menandatangani surat gugatan cerai dariku, Mas. Kalau tidak percaya Mas bisa bertanya kepada Rendy," kata Larasati.


Mendengar nama Rendy diucapkan, Yudha terlihat emosi. Apakah asisten kepercayaannya itu sudah menghianatinya? Atau dia yang lupa jika Rendy adalah asisten kepercayaan Larasati ketika dia mengurus Resto tersebut?


"Rendy?" tanya Yudha memastikan.


"Ya, Mas. Tanyakanlah, agar kamu tak penasaran." Larasati tersenyum dengan sangat manis sekali.


Berbeda dengan Yudha yang terlihat benar-benar bingung, dia terus saja bertanya-tanya dalam hatinya.


'Kenapa Rendy bisa dengan mudahnya mendapatkan tanda tangannya?'


Yudha yang merasa kesal, marah dan bingung pun langsung memutuskan untuk segera pergi dari rumah Larasati.


"Mas pergi dulu, lain waktu Mas kesini lagi buat nemuin--"


"Satria, Mas. Nama anak kita Satria," kata Larasati.


Larasati memang begitu benci akan sikap Yudha, namun Satria tetaplah anaknya. Dia tidak mungkin menjauhkan Satria dari sosok ayah kandungnya.


"Nama yang bagus, Mas pergi." Yudha terlihat mengelus lembut puncak kepala Satria, lalu pergi dari sana.


Setelah keluar dari rumah Larasati, Yudha langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan sangat cepat.


Dia ingin segera bertemu dengan Rendy, dia ingin segera bertanya kepadanya. Dia ingin segera membuktikan, apakah benar ada akta cerainya?


Sepanjang perjalanan menuju Resto, Yudha lebih banyak melamun. Dia tidak menyangka jika dirinya akan bertemu lagi dengan wanita yang dulu dia puja lalu dia hempaskan ke dasar jurang yang paling dalam.


Wanita yang begitu tegar dan rela menghadapi cercaan dari banyak orang karena membela dirinya.


Wanita kaya yang rela meninggalkan keluarga besarnya, demi dirinya yang hanya seniman jalanan.


"Arrgh! Sial! Kenapa aku tidak bisa mengenali dirinya saat pertama kami bertemu? Bodoh! Padahal dari awal aku sudah merasa jika dia begitu mirip dengan Larasati' ku," umpat Yudha.


Yudha terlihat memukul setirnya dengan kencang, dia benar-benar merasa kesal dan juga merasa bodoh, karena ternyata dia tidak bisa mengenali sosok wanita yang dulu benar-benar dia puja.


Tiba di depan Resto, Yudha langsung memarkirkan mobilnya. Dia turun dengan cepat dari mobil tersebut dan masuk dengan tergesa.


Tiba di dalam Resto, Yudha langsung mengedarkan pandangannya dan melangkahkan kakinya dengan lebar. Dia mencari sosok manusia yang paling ingin dia temui saat ini.


Ternyata Rendy sedang berada di dapur, dia terlihat sedang mengecek makanan yang akan di sajikan untuk para pengunjung.


Tanpa ba bi bu, Yudha langsung menghampiri Rendy dan menarik kerah bajunya dengan sangat kencang.

__ADS_1


Rendy terlihat sangat kaget, dia bahkan hampir saja terjatuh kalau saja tidak berpegangan pada meja yang ada di dekatnya.


"Katakan padaku, kapan Laras melayangkan gugatan cerainya?" ucap Yudha dengan tatapan penuh amarah.


Untuk sesaat Rendy nampak berpikir, lalu kemudian dia pun berkata.


"Sekitar lima bulan yang lalu, Tuan," Jawa Rendy.


Yudha terlihat kaget mendengarnya, karena kesal dia mendorong tubuh Rendy sampai menghantam tembok.


"Kenapa aku bisa menandatangani surat gugatan cerai dari Laras tanpa aku ketahui?" tanya Yudha dengan berapi-api.


"Itu bukan kesalahan saya, Tuan. Waktu itu--"


#Flash Back On#


"Bisa kita bertemu?"


Satu buah pesan masuk kedalam ponsel milik Rendy, dia terlihat mengernyitkan dahinya karena tak mengenal nomor yang masuk kedalam ponselnya tersebut.


Cukup lama dia terdiam dan menimbang-nimbang, dia takut jika itu adalah pesan yang akan membuatnya bermasalah.


"Aku Larasati," satu lagi pesan masuk.


"Bisa, Bu. Di mana?" tanya Rendy.


"Aku tunggu di kostan kamu," kata Larasati.


"Baik, Bu. Tapi bisanya sore setelah pulang kerja," balas Rendy.


"Tak apa, aku tunggu," balas Larasati.


Ada rasa senang kala Larasati mengirimkan pesan kepada dirinya, itu pertanda jika mantan bosnya tersebut dalam keadaan baik-baik saja.


Sore harinya Rendy pun langsung pulang ke kostannya, benar saja... saat dia tiba ibu kos langsung menghampirinya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumahnya.


Di sana sudah ada Larasati yang menunggu dirinya, dengan cepat Rendy pun langsung menghampirinya dan duduk tepat di hadapannya.


"Ya Allah gusti, ini ibu Laras? Ibu jadi langsing lagi? Ibu sehat? Ibu jadi--" Rendy terlihat menggaruk tengkuk lehernya "terlihat lebih cantik." Rendy nyengir kuda.


Mendengar pertanyaan dan juga kelakuan Rendy, membuat Larasati langsung tertawa.


"Iya, aku Larasati. Aku mau minta bantuan kamu, bisa?" tanya Larasati.


"Bantuan apa, Bu? Kalau bisa pasti saya bantu, ngga susah' kan Bu permintaannya?" tanya Rendy.

__ADS_1


Larasati memberikan berkas yang sejak tadi dia pegang, kemudian dengan cepat Rendy pun menerima berkas tersebut.


"Ini apa Bu?" tanya Rendy.


"itu adalah surat gugatan cerai untuk Mas Yudha," jawab Larasati.


Dahi Rendi nampak mengernyit, dia tidak paham dengan apa yang diinginkan oleh mantan bosnya tersebut.


"Lalu, apa hubungannya berkas gugatan cerai ibu dengan saya?" tanya Rendy.


"Aku mau minta bantuan kamu, sebisa mungkin kamu harus membuat Mas Yudha bisa menandatangani berkas gugatan cerai dari aku," pinta Larasati.


Awalnya Rendy terlihat enggan, dia takut untuk menyerahkan berkas tersebut kepada Yudha.


"Tolonglah aku, Rendy." Larasati berucap dengan nada memelas.


Hal itu membuat Rendy tak tega.


"Akan saya coba, Bu. Tapi saya tidak bisa janji," ucap Rendy pada akhirnya.


Seulas senyum terbit dari bibir Larasati.


"Terima kasih, untuk beberapa hari aku akan menginap di rumah Jelita. Tolong kabari aku kalau sudah berhasil, biar proses perceraiannya bisa secepatnya diproses," ucap Larasati.


"Baik, Bu," ucap Rendy.


Keesokan harinya Rendy pun membawa berkas gugatan cerai tersebut, dia benar-benar takut untuk memberikannya kepada Yudha.


Dengan tangan gemetar dia mengetuk pintu ruangan Yudha, setelah dipersilahkan untuk masuk, Rendy pun langsung menghampiri Yudha yang ternyata sedang duduk di sofa.


Jesicca bahkan terlihat sedang duduk di atas pangkuan Yudha, Jesicca bahkan terlihat sedang merajuk kepada suaminya tersebut.


"Ada apa? Kenapa kamu mengganggu saja?" tanya Jesicca.


"Anu, Nyonya. Ada berkas yang harus Tuan tandatangani," kata Rendy gugup.


"Berkas apa sih? Sini buruan biar aku cepat tandatangani! Aku harus segera pergi," ucap Yudha ketus.


Dengan cepat Rendy membuka berkas gugatan cerai tersebut dan menunjukan di mana Yudha harus tanda tangan. Rendy juga langsung memberikan bolpoin pada Yudha.


Tanpa pikir panjang Yudha langsung menandatanganinya.


"Sudah selesai, nih ambil! Aku mau pergi," ucap Yudha seraya menggandeng tangan Jesicca.


"Gitu dong, Mas. Ini kan juga buat anak kamu, kamu jangan cemberut begitu," ucap Jessica kala itu.

__ADS_1


__ADS_2