Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Lebih Baik


__ADS_3

Juki masih terdiam, dia bingung harus berkata apa kepada ibunya tersebut. Juki memang begitu mencintai mendiang istrinya, dia juga begitu mengasihi mendiang putrinya.


Namun, satu yang Juki sadari, dia membutuhkan pendamping hidup. Dia juga ingin merasakan kebahagiaan, dia juga ingin merasakan kembali berumah tangga setelah menyadari apa yang terjadi terhadap dirinya.


"Julian Uzi Kiandra!" sentak Bu Sari karena sedari tadi Juki hanya terdiam bagai patung.


Mendapatkan panggilan lengkap dari ibunya, membuat Juki terkesiap. Jika bu Sari sudah memanggil nama lengkapnya, itu artinya dia sudah tidak sabar ingin mendapat jawaban dari Juki.


"I--iya, Bu. Apa?" tanya Juki.


Mendengar pertanyaan dari putranya, bu Sari nampak menggelengkan kepalanya. Dia merasa tidak habis pikir terhadap apa yang dilakukan putranya tersebut.


Karena di saat dia sedang serius bertanya, putranya malah terlihat menyepelekan pertanyaan dari ibunya.


"Bagaimana? Apa kamu mau menikah lagi? Kalau memang kamu tidak mau menikah dengan Jesicca, ibu akan mencarikan wanita lain. Hal itu ibu lakukan agar kamu tidak kesepian," ucap Bu Sari.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ibunya, Juki menjadi semakin resah. Jika dia menikah dengan wanita lain, itu artinya dia tidak akan sebebas seperti sekarang ini dalam menyayangi Putri dan bertemu dengan Putri.


"Nanti Juki pikirkan, Bu. Ibu tenang saja, Juki juga ingin merasakan yang namanya berumah tangga kembali," ucap Juki pada akhirnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, bu Sari tampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Jangan lama-lama mikirnya, nanti si Otong keburu karatan!" goda Bu Sari.


"Bu!" kata Juki penuh protes.


Dia benar-benar merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh bu Sari, boro-boro karatan, pikirnya. Orang baru melihat bagian atas tubuh Jesicca yang terbuka saja miliknya sudah dalam mode on.


"Akan aku usahakan," jawab Juki.


"Gitu dong," kata Bu Sari.


Saat sedang asik mengobrol, dari pintu utama terdengar Jesicca mengucapkan salam. Juki yang mendengar suara Jesicca jadi salah tingkah, rasanya dia malu kalau harus bertemu dengan janda muda itu.


"Biar ibu saja," kata Bu Sari.


Bu Sari terlihat berusaha bangun dari sofa, dia ingin sekalian belajar berjalan. Namun, baru saja hendak melangkahkan kakinya dia malah mengaduh kesakitan.


Juki yang merasa tidak tega langsung mendudukkan ibunya di atas kursi roda, lalu dia mendorong kursi roda ibunya.


"Waalaikum salam," jawab Bu Sari seraya membuka pintu utama.


Saat pintu terbuka, nampaklah Jesicca yang sedang berdiri bersama dengan seorang pria muda dan juga tampan.


"Bang, Encang." Lelaki itu langsung mencium punggung tangan Bu Sari dan juga Juki secara bergantian.


"Ridwan, tumbenan elu kemari?" kata Bu Sari.


"Mau nengokin Encang, pan kata Bang Juki Encang sakit. Ini aku bawain parem buatan Ibu, katanya biar Encang cepet sembuh." Ridwan memberikan plastik berisakan parem kepada Juki.


"Terima kasih, ayo masuk," ajak Juki. Pandangan matanya beralih kepada Jesicca. "Terima kasih," kata Juki.


"Sama-sama, Mas," jawab Jesicca.


"Iya, Bang," jawab Ridwan.

__ADS_1


Juki terlihat hendak mendorong bu Sari untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Ridwan terlihat mengusap tangan Jesicca.


Juki sempat mendelik sebal saat melihat akan hal itu, sedangkan bu Sari hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tigkah dari adik sepupunya Juki itu.


"Makasih ya, Kakak Cantik sudah mau nganterin aku sampai ke sini," ucapnya dengan kerlingan genit.


Jesicca terlihat memundurkan langkahnya seraya mengusap tangannya, dia memang pernah nakal saat menggoda Yudha.


Namun, semuanya telah berubah. Justru dia merasa risih mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang lelaki.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Jesicca menganggukkan kepalanya ke arah Juki, Bu Sari dan juga Ridwan. Lalu, dia pergi menuju kamar kostannya.


Selepas kepergian Jesicca, baik Ridwan, Juki dan juga bu Sari langsung masuk dan duduk di ruang tamu.


Ridwan langsung duduk di lantai dan membalurkan parem yang dia bawa ke seluruh bagian kaki bu Sari, lalu memijatnya dengan perlahan.


"Wan!" panggil Juki.


"Hem." Ridwan menyahuti, namun tangannya terus memijat kaki bu Sari.


"Jangan genit-genit sama Mbak Jesicca, dia itu janda. Takutnya dia akan tersinggung," kata Juki.


Mendengar apa yang dikatakan Juki, Ridwan langsung menghentikan aktivitasnya. Dia terlihat mendongakkan kepalanya dan menatap Juki dengan lekat.


"Dia janda, Bang?" tanya Ridwan


Mendengar pertanyaan dari Ridwan, Juki langsung menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, tersungging sebuah senyuman dari bibir Ridwan.


"Wah... bagus tuh Bang, kalau dia janda. Bebas hambatan," kata Ridwan seraya tersenyum nakal.


"Ish, Abang ini. Kalau dia mau ama Ridwan, aku ngga masalah nikahin janda. Lagian ya, Bang. Kakak Jesicca itu cantik, bodinya aduhai. Dadanya ge--"


Ridwan tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Juki sudah membekap mulut Ridwan terlebih dahulu.


Dia merasa tidak suka kala Ridwan memuji bentuk tubuh dari Jesicca, apalagi saat melihat mata Ridwan yang seakan membayangkan hal nakal tentang Jesicca.


"Bang!" protes Ridwan kala Juki membuka bekapan tangannya.


"Kamu tuh masih kecil, jangan ngomong macem-macem," kata Juki.


"Aku sudah berumur dua puluh dua tahun, Bang. Sudah sangat besar," kata Ridwan dengan senyum konyolnya.


"Ya ampun, susah ngomong sama kamu. Kerja aja belum, udah mikirin mau ngawinin janda." Juki terlihat menoyor kening Ridwan.


"Bang! Aku ke sini mau bilang, kalau aku udah bekerja sekarang. Ini mau bagi rezeky sama Encang," kata Ridwan.


Ridwan merogoh saku celananya, lalu dia memberikan amplop berisikan uang kepada bu Sari.


"Buat Encang, ini?" tanya Bu Sari.


"Hooh, Cang. Biar berkah," kata Ridwan seraya nyengir kuda.


"Terima kasih," kata Bu Sari.


"Sama-sama, Cang. Jadi, kalau udah kerja dan punya gaji, Ridwan boleh, kan deketin Kak Jes?" tanya Ridwan.

__ADS_1


Bu Sari dan juga Juki hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka tidak paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Ridwan.


Dari kecil, selalu saja anak itu mengagumi sosok wanita yang lebih tua dari dirinya.


*/*


Di lain tempat.


Yudha sedang bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib, dia sudah terlihat tampan dengan memakai baju koko lengkap dengan sarungnya.


Dia akan pergi menuju mushola yang berada tidak jauh dari tempat dia tinggal.


Kini Yudha benar-benar sudah berubah, perlakuannya sudah lebih baik. Bahkan Yudha sering menghabiskan waktunya untuk mengaji setelah selesai melaksanakan shalat.


Dia merasa jika waktunya semakin sempit, semakin berkurang dan semakin tipis harapannya untuk bisa hidup normal seperti sedia kala.


Menurutnya akan lebih baik jika dia lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik, namun tetap dia akan melukis untuk biaya dia makan sehari-hari.


Pukul sembilan malam, Yudha baru pulang dari mushola. Karena dia melakukan tadarus terlebih dahulu.


"Laper, sebaiknya aku membeli makanan di dekat taman saja. Di sana biasanya banyak pedagang makanan," kata Yudha lirih.


Yudha terlihat melangkahkan kakinya menuju taman, tak perlu pakai motor, pikirnya. Karena jarak rumah kontrakan miliknya memang terbilang dekat.


Tiba di dekat taman, ternyata susananya masih sangat ramai. Banyak sekali pedagang makanan di sana.


Yudha memutuskan untuk membeli soto saja, rasanya akan lebih enak makan makanan yang berkuah.


"Bang, sotonya satu ya," pesan Yudha.


"Iya, boleh. Silakan tunggu di sana, nanti kalau sudah siap saya antarkan," kata Abang soto seraya menunjuk tempat duduk yang telah disiapkan.


"Iya, Bang." Yudha melangkahkan kakinya menuju tempat yang di tunjuk Abang soto.


Yudha duduk dan menunggu pesanannya datang, dia terlihat mengedarkan pandangannya.


Ternyata tak jauh dari sana ada Larasati dan Jonathan yang terlihat sedang memesan sate padang, mereka terlihat begitu mesra.


Larasati bahkan terlihat begitu manja, dia memeluk Jonathan seraya menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.


Sesekali Jonathan terlihat melabuhkan kecupan hangat di kening Larasati, begitupun dengan Larasati, dia akan membalas kecupan Jonathan dengan mengecup pipi pria itu.


"Mereka manis sekali, aku harap kamu selalu bahagia bersama Jo. Aku tahu dia lelaki yang sangat setia, Ra." Yudha menundukkan wajahnya.


Tak lama kemudian, dia terlihat mengusap pipinya dengan kedua tangannya.


BERSAMBUNG....


*


*


*


Selamat pagi, selamat beraktivitas. Semoga klian sehat selalu, banyak rezeky dan juga tidak lupa untuk meninggalkan jejak berupa like, koment, vote dan juga hadiahnya yang banyak 😁😁😁😁😁 Othornya kemaruk.

__ADS_1


__ADS_2