
Larasati dan Jonathan kini terlihat sedang duduk sambil memperhatikan rumah yang sudah dia beli dari Jesicca, Bi Minah pun ikut bergabung di sana.
Dia merasa sangat senang, karena bisa bertemu lagi dengan Larasati, mantan majikannya itu.
"Nyonya semakin cantik saja," ucap Bi Minah.
"Terima kasih, Bi. Bibi juga cantik," ucap Larasati.
"Nyonya bisa saja," kata Bi Minah.
Saat Larasati sedang asyik mengobrol dengan Bi Minah, Jesicca yang baru saja menidurkan Putri di kamarnya pun ikut bergabung.
Dia langsung duduk tepat di samping Bi Minah, Larasati nampak tersenyum, kemudian dia pun berkata.
"Ini sisa uang penjualan rumahnya," kata Larasati seraya menyodorkan uang 300 juta kepada Jesicca.
Mata Jesicca langsung berkaca-kaca, dia merasa tak pantas mendapatkan uang tersebut.
"Tapi, Mbak. Saya merasa tak pantas untuk mendapatkan uang tersebut, Mbak sudah mau menembus Putri saja saya sudah berterima kasih," ucap Jesicca.
"Jangan seperti itu, uang ini adalah hasil dari penjualan rumah. Itu artinya uang ini adalah uang Mas Yuda, uang hasil keringat dia saat mengelola Resto milikku. Jadi, uang ini adalah hakmu," ucap Larasati.
Bagi Larasati, uang satu miliar yang dia tinggalkan dia rekening Yudha kala itu adalah upah untuk Yudha selama 3 tahun mengurus Resto miliknya.
"Mbak sangat baik sama saya, saya bingung harus membalasa kebaikan Mbak kaya apa?" ucap Jesicca.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kamu juga harus bisa memulai kehidupan yang baru dengan putri kamu, bawalah uang ini untuk modal kehidupan kamu selanjutnya," ucap Larasati.
"Tapi, Mbak. Seharusnya Mbak ngasih uangnya 270 jt, kan sudah keambil sama bunganya?" kata Jesicca.
"Yang tiga puluh jutanya, anggap saja uang hasil penjualan perabotan rumah tangga," jawab Larasati.
"Ya Tuhan, Mbak baik sekali. Maafkan aku ya, Mbak. Aku--"
"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Saya mau pulang dulu, kalau kamu sudah mendapatkan tempat tinggal baru, kamu bisa kasih kunci rumah ini pada saya," ucap Larasati.
"Iya, Mbak. Secepatnya saya akan mencari tempat tinggal baru," ucap Jesicca.
Larasati pun langsung pamit karena hari sudah menjelang sore, dia pun sudah rindu terhadap Satria. Dia ingin menghabiskan waktu sorenya bersama dengan Satria.
__ADS_1
Tentu saja, Jonathan dengan setia mengantarkan calon istrinya untuk pulang menuju kediamannya.
Selepas kepergian Larasati, Jesicca langsung berkata kepada Bi Minah.
"Bi, terima kasih karena selama ini Bibi sudah baik terhadap aku dan juga Putri. Aku minta maaf karena mulai besok aku tidak bisa mempekerjakan Bibi lagi, nasibku dan Putri seperti apa pun kedepannya aku belum tahu. Terimalah ini uang gaji Bibi selama 3 bulan, maaf karena selama ini aku sudah terlalu merepotkan Bibi," ucap Jesicca tulus.
Bu Minah mengambil upahnya selama 3 bulan dari tangan Jesicca, air matanya langsung menetes. Kemudian, dia pun berkata.
"Walaupun selama ini Nyonya suka nyebelin, tapi Bibi enggak bisa begitu saja untuk pergi dari kehidupan Nyonya dan juga Putri. Sebenarnya Bibi ingin membangun usaha kecil-kecilan di kampung dari uang tabungan Bibi selama bekerja, kalau Nyonya tidak keberatan. Bagaimana kalau Nyonya ikut saja dengan saya ke kampung? Nanti kita bisa mengolah usaha bersama-sama," kata Bi Minah.
Mendengar ucapan bi Minah, Jesicca nampak tersenyum. Kemudian, dia pun berkata.
"Benarkah Bi? Saya boleh ikut Bibi ke kampung?" ucap tanya Jesicca dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ya, Nyonya dan Putri bisa tinggal bersama saya. Karena putri saya sudah menikah, di rumah saya hanya tinggal sendiri. Nanti kalau Nyonya ikut saya, saya tidak akan kesepian," ucap Bi Minah.
"Tapi, Bi. Saya takut akan merepotkan Bibi," ucap Jesicca seraya tertunduk lesu.
"Nanti kan kalau sudah sampai rumah, Bibi bakalan bikin usaha tuh. Nyonya bisa kerja di tempat usaha saya kalau tidak mau merepotkan," ucap Bi Minah seraya tertawa.
Jesicca merasa lucu dengan kehidupan yang ia jalani saat ini, namun kembali lagi, Ini semua karena ulahnya sendiri.
Mungkin dengan uang yang dia punya, dia bisa membantu bi Minah untuk mewujudkan usaha yang dia inginkan.
Dia juga bisa hidup dengan damai tanpa adanya Yudha dan Yudha-Yudha yang lainnya kalau dia tinggal di kampung bersama dengan bi Minah dan juga putrinya.
"Aku ikut, Bi. Terima kasih karena tidak meninggalkan aku di saat terpuruk seperti ini," ucap Jesicca tulus.
"Sama-sama, Nyonya," jawab Bi Minah.
Jessica yang merasa bahagia pun langsung memeluk bi Minah, rasa sedih, senang rasa bersalah, rasa sesal, semuanya campur aduk bagaikan permen nano-nano yang begitu ramai rasanya.
Di perjalanan menuju kediaman Dinata.
"Aku salut banget deh, Yang, sama kamu. Kamu bisa dengan mudah maafin pelakor itu," kata Jonathan.
"Sudahlah, Jo. Kasihan dia, jangan dibahas lagi. Aku berbuat baik bukan untuknya, tapi untuk putrinya," kata Larasati.
Tentu saja bayangan perselingkuhan antara Jesicca dan juga Yudha masih terekam dengan jelas di dalam memori otaknya.
__ADS_1
Bahkan, sampai saat ini kegiatan panas yang dilakukan oleh Yudha bersama dengan Jesicca masih sering terbawa ke alam mimpinya.
Dia masih sangat ingat bagaimana Yudha dan Jesicca yang terlihat begitu menikmati permainan panas mereka.
Larasati masih ingat dengan jelas bagaimana cara Jesicca dan juga Yudha menghina dirinya kala itu.
Jika saja tak ada putri yang menjadi tawanan Juragan Juki, dia pun sudah enggan untuk berurusan dengan wanita sepertinya.
Dia sakit hati, dia benci dengan apa yang dilakukan oleh Jesicca dan juga Yudha. Namun, hatinya tak bisa diam saja saat Putri yang menjadi korbannya.
Jonathan tersenyum, dia meraih tangan kanan Larasati dengan tangan kirinya. Kemudian, dia pun mengecupi punggung tangan Larasati.
"Ternyata aku tidak salah mencintai kamu, Sayang. Karena kamu benar-benar wanita baik, aku jadi makin cinta deh sama kamu," ucap Jonathan.
"Jo!" ucap Larasati penuh protes.
Jonathan terkekeh melihat wajah protes dari calon istrinya tersebut, Jonathan terlihat menepuk dadanya.
"Kemarilah!" ucap Jonathan.
Larasati menurut, dia pun memeluk Jonathan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang calon suaminya tersebut.
Jonathan tersenyum senang, dia mengelus lembut puncak kepala Larasati dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk menyetir.
Tiba di kediaman Dinata, Satria sudah menunggu di depan teras bersama dengan tuan Elias.
Anak tampan itu sudah terlihat rapi dan juga lebih segar, Satria terlihat seperti baru saja mandi.
Saat melihat Larasati yang baru turun dari mobil, Satria langsung berlari dan memeluk erat kaki Larasati.
"Buna, aku kangen," ucapnya.
Larasati terkekeh, lalu dia pun mengangkat tubuh Satria dan memeluknya.
*
*
Bersambung....
__ADS_1