Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Perhatian


__ADS_3

"Yang, sakit. Di sun aja," pinta Angga.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga Mini langsung memelototkan matanya. Bisa-bisanya Angga meminta sun disaat banyak orang seperti itu.


"No! Duduk yang anteng, aku suapin," kata Mini.


Angga menurut, dia diam dan menunggu Mini menyuapinya.


Tak lama kemudian Mini tampak menyuapi Angga dengan telaten, sesekali Angga juga menyuapi Mini, sang kekasih hati.


Sungguh dia merasa bersyukur karena dicintai dan diperhatikan oleh wanita secantik dan sebaik Mini, dia juga bersyukur karena Mini dan keluarganya tidak mempermasalahkan perbedaan status ekonomi antara dia dan Mini.


"Sudah habis, sekarang minum dulu. Duduk sebentar lalu shalat, nanti aku bantuin kamu melayani pengunjung," kata Mini.


"Jangan, Yang. Nanti aku ngga sanggup bayar kamu," kata Angga.


Sebenarnya Angga bukan tidak sanggup membayar Mini, hanya saja dia tidak enak hati terhadap kekasihnya tersebut.


Karena Mini selalu saja datang untuk membantu dirinya, tapi justru Mini tidak pernah mau dibayar.


Dia tahu jika Mini memanglah orang berada, namun dia juga tidak ingin dicap sebagai lelaki yang memanfaatkan kekasihnya untuk keperluan pribadi.


"Aku sudah bilang, bayarnya pake cinta aja," jawab Mini seraya terkekeh.


"Kamu tuh, mana ada yang seperti itu. Aku takut kamu kecapean kalau bantuin aku terus, ngga enak aku sama daddy kamu," ucap Angga.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, Mini tersenyum lalu mengelus lembut punggung tangan lelaki yang sangat dia cintai itu.


"Daddy ngga apa-apa, Kok. Dia malah seneng karena sekarang aku bisa bekerja dan mulai belajar bertanggung jawab," kata Mini.


"Tetap saja aku ngga enak hati," kata Angga.


"Iiih, Mas Angga gitu. Oiya, Mas. Pulang dari Cafe mampir sebentar ke rumah, Daddy mau bicara." Mini tersenyum hangat.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Mini, tiba-tiba saja Angga merasa deg-degan. Dia takut jika om Hendry akan mengatakan hal yang akan membuat dirinya merasa rendah diri.


Angga terdiam, dia malah membayangkan jika om Hendry akan meminta dirinya untuk meninggalkan Mini karena keadaan dia yang hanya anak dari mantan pembantu Larasati.


Mini seolah mengerti kegundahan dari sang pujaan hati, dia langsung mengelus lembut tangan Angga, lalu dia berkata.


"Mas jangan berpikir yang aneh-aneh, Mas tahu sendiri' kan keluarga aku itu tidak pernah memandang status," kata Mini.


Angga tersenyum hangat, kemudian dia membalas perkataan Mini.

__ADS_1


"Ya, Mas tahu. Mommy dan Daddy kamu sangatlah baik, namun tetap saja aku merasa rendah diri jika harus bertemu dengan mereka," jawab Angga jujur.


"Mas, jangan ngomong gitu, ih. Michele ngga suka," ucap Mini seraya mengerucutkan bibirnya.


Angga terkekeh mendengar ucapan Mini, Angga sangat tahu jika Mini sudah menyebut nama aslinya, itu tandanya jika Mini sedang kesal terhadap dirinya.


Sebenarnya Angga merasa sangat beruntung karena bisa dicintai oleh wanita cantik dan kaya seperti Mini.


Justru saat ini Angga berpikir jika dirinya harus mulai menata kisah cintanya bersama dengan Mini, jangan sampai dia menghianati Mini seperti yang pernah Yudha lakukan terhadap Larasati.


Karena menurut Angga, dicintai oleh wanita seperti Mini itu merupakan hal yang paling indah, di luar saja banyak lelaki yang harus berjuang untuk menggapai cintanya.


Berbeda dengan Angga yang dengan mudahnya mendapatkan cinta yang tulus dan juga besar sari seorang Michele Naima Huntler.


"Ya, maaf," kata Angga.


*/*


Di perusahaan Dinata.


Hari ini Larasati begitu sibuk, karena dari pagi dia harus melakukan meeting yang benar-benar tidak bisa diwakilkan kepada Edward. Lelaki yang dipercaya tuan Elias.


Kali ini dia baru saja duduk seraya meregangkan otot-otot lelahnya, padahal dia sangat jarang pergi ke kantor.


Kini Larasati terlihat menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata yang menatap langit-langit perusahaan tersebut.


Dia merasa bersyukur, walaupun dulu dia pernah membangkang terhadap orang tuanya. Namun, kini tuan Elias dengan mudahnya menerima dia kembali.


Bahkan setelah dia dikhianati oleh Yudha dan membawa seorang putra, tuan Elias dan juga nyonya Meera tetap saja begitu menyayangi Larasati.


Bahkan dengan mudahnya dia menerima Satria, putranya bersama dengan Yudha, lelaki yang menghianati dan mencampakkan dirinya.


"Assalamualaikum, Sayang."


Terdengar suara yang begitu familiar menyapa Larasati, Larasati langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu.


Dia melihat Jonathan yang sedang berjalan menghampirinya dengan membawa dua kantong besar di tangan kanan dan kirinya.


Larasati terkekeh melihat kelakuan dari suaminya itu, padahal suaminya itu sama sibuknya seperti dirinya.


Namun dia selalu saja meluangkan waktu hanya untuk sekedar makan siang bersama dengan Larasati.


Dia benar-benar merasa bersyukur karena setelah dikhianati dan dicampakkan oleh Yudha, Jonathan justru tidak meninggalkan Larasati.

__ADS_1


Justru cintanya malah semakin besar saat melihat Larasati terpuruk dan terluka karena ulah Yudha.


"Bawa apa, Sayang?" tanya Larasati seraya bangun dari posisi duduknya.


"Ngga usah bngun, duduk aja." Jonathan menyimpan dua kantong besar itu di atas meja.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, Larasati kembali duduk. Dia terlihat membuka dua kantong besar yang Jonathan bahwa.


Ternyata isinya ada nasi putih, ikan patin garang asem. Sambel terasi, tumis brokoli, buah apel yang sudah dipotong dan disimpan di kotak makan. Lalu, ada jus jeruk dan juga camilan sehat lainnya.


"Ya ampun, Sayang. Kamu mau ngajak aku makan siang, atau mau ngajak piknik?" tanya Larasati.


"Tentu saja mau ngajak kamu makan siang, Sayang. Biar kamu tidak sakit," kata Jonathan.


"Tapi ini banyak banget, Mas. Nanti aku bisa gendut," ucap Larasati seraya menekuk wajahnya.


Jonathan terkekeh, lalu dia duduk di samping Larasati seraya menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Sebuah ciuman hangat dia labuhkan di bibir istrinya, cukup lama mereka meluapkan kasih sayang dengan bertukar saliva.


"Mau kamu gendut atau bagaimanapun juga, aku tetap akan mencintai kamu, Sayang. Jangan pernah berkata seperti itu," kata Jonathan.


Kembali dia menautkan bibirnya di bibir istrinya, bibir yang benar-benar membuat dirinya candu.


"Ini di kantor, Mas. Lagian aku juga lagi datang bulan, nanti kamu pengen," kata Larasati setelah melepaskan pagutannya.


"Ya, kamu benar, Sayang. Sebaiknya kamu makan dulu, Mas sengaja membawa makanan sehat ini untuk kamu," ucap Jonathan.


"Iya, Mas," jawab Larasati.


Larasati sangat tahu jika Jonathan memang sengaja membawa makanan sehat untuknya, agar dia merasa lebih baik akan sakit perut yang dia rara saat menstruasi tiba.


"Mas suapin, ya?" tawar Jonathan.


"Iya, Mas. Terima kasih," ucap Larasati tulus.


"Sama-sama, Sayang," jawab Jonathan.


*


*


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Selamat pagi, selamat menunaikan ibadah sahur untuk yang menjalankan puasa. Semoga kalian diberikan kekuatan, kesabaran dan tahan dalam menjalani puasa.


__ADS_2