Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 47


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 16:02 sore, Satria terlihat begitu gugup menyambut detik-detik pernikahannya bersama dengan Rachel.


Kini, Setia sedang duduk tepat di hadapan Ridwan. Di samping Ridwan ada pak penghulu yang terlihat menertawakan tingkah Satria.


Beberapa kali Satria terlihat mengusap kakinya yang terus saja terasa bergetar, gugup ya dia rasa.


Gugup, ya... Satria merasa sangat gugup sekali. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya acara pun dimulai dengan mengucapkan basmallah.


Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyambutan dari pihak perempuan.


Lalu, dilanjutkan dengan acara sambutan dari pihak lelaki. Tidak lama kemudian, setelah itu dilakukan serah terima dari pihak lelaki kepada pihak perempuan.


Lalu pak penghulu nampak melakukan khutbah nikah, Satria terlihat lebih tegang lagi mendengar khutbah nikah dari pak penghulu.


Bahkan keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, dia benar-benar gugup, tegang dan juga bahagia dalam waktu yang bersamaan.


"Tidak usah terlalu tegang, nanti yang ada malah lupa kalimat kabulnya," kata Pak penghulu terlihat menggoda.


Satria terlihat menganggukkan kepalanya seraya cengengesan dengan apa yang dikatakan oleh pak Penghulu.


Semua teman yang hadir nampak menertawakan tingkah dari Satria, tidak lama kemudian acara ijab kabul pun akan dimulai.


Rachel terlihat hendak naik ke atas pelaminan, dia diapit oleh Raja dan juga Rama. Kedua adik dan juga kakaknya.


Melihat kedatangan dari Rachel, Satria sampai tidak berkedip karena dia begitu mengagumi kecantikan dari calon istrinya tersebut.


Rachel terlihat begitu cantik dan juga seksi saat memakai gaun pengantin yang bahkan dia tidak tahu kapan dan siapa yang memesannya.


Rachel yang melihat reaksi dari Satria nampak menundukkan wajahnya, dia merasa malu dan juga risih.


Tidak lama kemudian, Rachel nampak duduk tepat di samping Satria. Satria tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari Rachel.


Ridwan langsung berdehem dengan cukup keras, agar Satria segera mengalihkan pandangannya. Karena acara ijab kabul akan segera dimulai.

__ADS_1


"Bisa kita mulai?" tanya Ridwan.


Mendengar pertanyaan dari Ridwan, Satria langsung menolehkan wajahnya dengan cepat ke arah Ridwan dan menganggukkan kepalanya.


"Bisa, Ayah. Bisa," jawab Satria.


Ridwan langsung mengulurkan tangannya, kemudian Satria nampak menerima uluran tangan Ridwan dengan cepat.


Tidak lama kemudian, Ridwan nampak mengucapkan kalimat ijabnya. Setelah itu dia langsung menghentakkan tangannya.


Setelah mendapatkan hentakkan tangan dari Ridwan, Satria langsung mengucapkan kalimat kabulnya.


Ternyata hanya dengan satu kali tarikan napas saja Satria bisa mengucapkan kalimat kabulnya dengan benar.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak Penghulu..


"Sah!"


"Sah!"


Tentu saja hal itu dia lakukan karena kini wanita tersebut sudah menjadi istrinya. Semua orang yang ada di sana nampak menertawakan tingkah dari Satria.


Satria bahkan terlihat tidak sabar, dia langsung mengecupi setiap Inci wajah Rachel.


Hal itu membuat Ridwan bangun dan menepuk pundak Satria, dia tidak tega melihat rasa bahagia dan rasa tidak nyaman di wajah putrinya.


"Hai anak muda, bersabarlah. Anakku memang sudah menjadi istrimu, tapi tidak begini juga caranya," kata Ridwan dengan penuh protes.


"Maaf, aku terlalu bersemangat dan terlalu senang," kata Satria seraya nyengir kuda.


"Ya ya, sekarang duduk dengan tenang. Karena acara masih akan dilanjutkan," kata Ridwan.


"Ya," jawab Satria.

__ADS_1


Namun, sebelum Satria benar-benar kembali pada posisinya, Satria masih sempat menunduk dan mengecup bibir Rachel beberapa kali.


Hal itu membuat degug jantung Rachel berdetak tidak karuan, bahkan rasanya dia ingin pingsan saja.


Namun, sekuat tenaga dia berusaha untuk mengontrol emosinya. Dia terlihat menghela napas dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


Terus saja dia melakukan hal seperti itu, sampai dirinya merasa tenang. Para tamu undangan yang hadir nampak tertawa melihat tingkah kedua pengantin baru itu.


Larasati hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika putranya akan seagresif ini.


"Sudahlah, Sayang. Tunggu sebentar lagi, yang sabar. Jangan terburu napsu, nanti Rachel akan takut sama kamu," kata Larasati.


"Iya, Buna," jawab Satria.


Ridwan terlihat mencondongkan tubuhnya,


kemudian dia berbisik tepat di telinga Satria.


"Aku minta tolong kepadamu, nanti kalau mau menggauli putriku, jangan membuat dia hamil terlebih dahulu. Kasihan dia, putriku masih terlalu kecil," kata Ridwan dengan raut wajah khawatir.


Sebenarnya Ridwan sangat khawatir, karena Rachel menurutnya masih sangat muda. Namun, dia juga tidak bisa melarang Satria untuk tidak menggauli putrinya.


Karena walau bagaimanapun juga, kini putrinya sudah menjadi istri dari Satria. Itu artinya Satria memilih hak penuh atas putrinya.


Namun, dia juga sangat yakin jika Satria tidak akan menyakiti putrinya. Karena, dia bisa melihat dengan jelas jika Satria begitu mencintai Rachel.


Satria tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Satria masih merasa bersyukur karena Ridwan hanya memintanya untuk tidak membuat Rachel hamil.


Dia sangat merasa beruntung, karena Ridwan tidak memintanya untuk tidak menggauli putrinya terlebih dahulu.


Itu artinya, Satria bisa tancap gas malam ini juga. Walaupun, dia harus memikirkan cara agar istrinya tidak hamil terlebih dahulu.


****

__ADS_1


Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar. Mau langsung jebol apa ngga?


__ADS_2