
Hari ini Juki terlihat begitu bahagia memperkenalkan Jesicca kepada semua kerabat, teman, keluarga dan juga para karyawan tempat dia bekerja.
Walaupun dia sangat tahu masa lalu Jesicca seperti apa, namun itu tidak masalah menurutnya.
Hal yang paling penting adalah masa di mana sekarang dia menjalani kehidupannya dengan baik bersama Jesicca.
Juki sangat yakin jika dia memperlakukan Jesicca dengan baik, jika Juki menyayangi jesicca dan Putri dengan tulus, Jesicva pasti akan bersikap baik pula terhadap dirinya.
Di Panti.
Yudha nampak begitu senang, karena dia bisa bersama lagi dengan Putri. Rasanya Tuhan begitu baik padanya, karena di masa terpuruknya baik Satria ataupun Putri begitu menunjukkan rasa sayangnya.
Dia juga sangat bersyukur, karena baik Jesicca ataupun Larasati tidak mempersulit Yudha untuk bertemu dengan kedua buah hatinya.
Dia merasa hidupnya sudah sangat baik saat ini, dia hanya ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada kedua buah hatinya.
Yudha ingin menghabiskan waktunya untuk membahagiakan anak-anak Panti, dokter memang berkata jika Yudha sudah sembuh.
Namun, HIV itu ibarat kanker. Dia memang bisa sembuh setelah operasi, namun sel kanker itu bisa saja tumbuh kembali. Bahkan bisa dengan mudahnya menggerogoti tubuh manusia.
Selepas shalat isya, Putri nampak terlelap dalam tidurnya. Yudha tersenyum lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih.
Dia tidak menyangka jika Putri bahkan mau meminum susu formula ketika tidur di Panti, padahal Jesicca selalu memberi Putri asi eksklusifnya.
"Selamat bobo putri cantik, Papa." Kembali satu kecupan dia labuhkan di kening putrinya.
Yudha tersenyum, dia membuat secangkir kopi lalu keluar dari dalam kamarnya. Dia duduk tepat di depan teras sambil memandang sinar rembulan yang temaram.
"Selamat malam, Kak. Boleh aku duduk di sini?" tanya Imelda.
"Duduklah!" ucap Yudha seraya tersenyum.
Imelda tersenyum, lalu dia nampak duduk tak jauh dari Yudha. Melihat Imelda yang beberapa hari ini sudah mulai tersenyum, Yudha sangat senang sekali.
Bahkan Yudha sudah tidak pernah mendengar Imelda menangis lagi, Imelda juga sudah mulai berbaur dengan anak-anak Panti.
"Belum tidur?" tanya Yudha tanpa menolehkan wajahnya ke arah Imelda.
__ADS_1
"Masih sore," jawab Imelda.
"Ya, kamu benar. Aku juga belum mengantuk," kata Yudha.
Imelda terlihat ingin berbicara hal yang penting kepada Yudha, namun dia terlihat bingung harus memulainya dari mana.
Dia nampak terdiam, sesekali dia memilin ujung baju yang dia pakai. Yudha sempat melirik ke arah Imelda, dia tersenyum lalu dia bertanya.
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Yudha.
"Ehm, itu. Anu, aku lihat Kakak sangat perhatian terhadap kedua buah hati Kakak dari --"
"Ya, aku sangat senang diberikan kesempatan untuk menyayangi kedua buah hatiku. Memberikan perhatian kepada mereka, menikmati tumbuh kembang mereka. Hidupku terasa lebih bermakna, walaupun dosaku terlampau banyak. Tapi, aku--"
Yudha terlihat menyelak ucapan dari Imelda, namun dia tidak bisa meneruskan ucapannya. Rasanya dia sangat malu jika harus membahas masa lalunya.
"Tapi aku kenapa?" tanya Imelda.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas masa lalu. Terlalu banyak dosa yang aku lakukan, aku ingin menata masa depanku dengan baik." Yudha tersenyum getir.
"Tanyakan saja, jika aku bisa, aku akan menjawabnya." Yudha menghela napas panjang.
"Apa Kaka berniat untuk menikah lagi?" tanya Imelda.
Mendengar pertanyaan dari Imelda, Yudha nampak memalingkan wajahnya. Lalu, dia menatap Imelda yang terlihat kikuk dibuatnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Memangnya kenapa?" tanya Yudha.
"Tidak apa-apa, hanya saja Kakak masuh muda. Kalau Kakak tidak keberatan, aku bersedia menjadi istri Kakak." Imelda berkata dengan raut wajah pasti.
Yudha nampak membelalakan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Apakah Imelda sedang membuat lelucon, pikirnya.
"Aku tidak ingin menikah lagi," jawab Yudha pasti.
"Kenapa?" tanya Imelda dengan raut wajah kecewa.
Yudha terlihat menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya denger perlahan. Dia kini menatap wajah Imelda dengan lekat, kemudian dia berkata .
__ADS_1
"Dengar Imelda, aku adalah mantan lelaki pendosa. Kamu tahu? Aku sempat mengalami penyakit HIV, dokter berkata aku sudah sembuh. Namun, penyakit itu bisa kapan pun kembali menyerang tubuhku, jika Imun di dalam tubuhku ini tidaklah kuat," jawab Yudha.
"Tapi Kakak masih bisa menikah kalau Kakak mau," kata Imelda.
"Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah menikah lagi. Aku tidak mungkin menularkan penyakit berbahaya ini kepada wanita yang mau menikah denganku," katanya Yudha tegas.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha, Imelda nampak menghela napas berat. Sebenarnya semenjak pertama bertemu dengan Yudha, Imelda sudah menaruh hati kepadanya.
Hanya saja dia tidak berani mengatakannya, namun setelah mengetahui jika Yudha adalah seorang duda, dia pun memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya.
"Tapi, Kak. Yang namanya menikah itu tidak melulu soal ranjang, kita bisa menikah dan berbahagia dengan saling pengertian. Saling mengasihi dan saling menyayangi. Tidak harus memikirkan masalah ranjang saja," kata Imelda .
Yudha nampak menggelengkan kepalanya, dia merasa tidak sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Imelda.
Walau bagaimanapun juga dia adalah lelaki normal, jika dia berada satu ruangan dengan wanita yang notabene adalah istrinya. Apalagi dia tidur satu ranjang dengan wanita tersebut, sudah pasti hasrat kelelakiannya akan bangkit.
Dia tidak mau mengambil resiko, sudah cukup selama ini dia menjalani hidupnya dengan penuh dosa. Tidak ingin lagi dia membuat orang lain kecewa, apalagi terluka karena dirinya.
"Kamu memang benar, pernikahan memang bukan hanya sekedar kepuasan di atas ranjang. Namun, aku sangat sadar jika penyakit yang menggerogoti tubuhku bisa saja kembali datang. Aku Lelaki normal, aku takut tidak bisa menahan diri dan membuat hidupmu menjadi hancur berantakan. Maaf," kata Yudha penuh sesal.
Mendengarkan keputusan dari Yudha, Imelda nampak kecewa. Padahal dia sudah berharap akan mendapatkan perhatian dari Yudha, dia berharap akan hidup bersama dengan Yudha.
Apalagi saat melihat Yudha yang begitu perhatian terhadap kedua buah hatinya, apalagi saat Yudha terlihat begitu perhatian terhadap anak-anak Panti. Imelda merasa jika sosok Yudha adalah sosok pria yang tepat untuk menjadi suaminya.
"Jangan bersedih, kamu masih muda. Kamu cantik dan sangat baik, aku yakin ada lelaki baik yang sudah Tuhan siapkan untuk menjadi jodoh kamu," kata Yudha.
"Hem, aku paham," jawab Imelda dengan raut wajah kecewa.
BERSAMBUNG....
Selamat sore kesayangan, semoga kalian sehat selalu. Buat kalian yang menginginkan Yudha kembali hidup berpasangan, Othor mengucapkan maaf.
Karena penyakit HIV tidak bisa sepenuhnya sembuh, jadi tidak mungkin Othor memberikan pasangan kepada Babang Yudha.
Kasihan nanti yang menjadi istrinya, jika suatu saat penyakit tersebut kembali datang dan menggerogoti tubuh Yudha. Otomatis hal itu akan membuat pasangannya tersiksa, karena tertular penyakit tersebut. Jangan kecewa ya, karena sebenarnya Othor pun merasa kasihan kepada Yudha.
See you next episode....
__ADS_1