
Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Kinara terus aja memeluk tubuh Satria dengan erat. Kinara terlihat begitu meratapi kesedihannya, lebih tepatnya mungkin kecewa.
Bahkan, Satria sangat tahu jika Kinara saat ini sedang menangis. Karena samar-samar Satria mendengar isak tangis dari bibir mungil Kinara.
Sebenarnya, ingin sekali Satria mengajak adiknya tersebut untuk pergi ke suatu tempat yang bisa membuat hatinya merasa tenang.
Dia tidak ingin Larasati tahu tentang keadaan adiknya yang seperti ini, namun dia takut jika Kinara malah akan marah terhadap dirinya.
Dengan terpaksa satria pun memutuskan untuk pulang saja ke rumah, dari pada nanti dapat amukan dari adik kecilnya.
Sesekali Satria menepuk-nepuk punggung tangan Kinara yang melingkar di perutnya, dia berusaha untuk menenangkan adik kecilnya tersebut.
Tiba di kediamannya, Satria terlihat memarkirkan motor kesayangannya. Kinara langsung turun dan berlari untuk masuk ke dalam kamarnya.
Satria hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dari Kinara, karena Kinara masuk ke dalam kamarnya dengan masih memakai helm di kepalanya.
Mungkin saja hal itu sengaja Kinara lakukan, agar Larasati tidak melihat matanya yang sembab akibat menangis sepanjang jalan, pikirnya.
"Padahal apa hebatnya si Jeremy itu? Dia hanya mengandalkan kemampuan balapnya untuk mendekati banyak cewek," kata Satria lirih.
Setelah mengatakan hal itu, Satria langsung masuk ke dalam rumahnya. Tiba di dalam ruang keluarga, dia langsung menghampiri Larasati yang sedang duduk santai bersama dengan Jonathan.
Mereka sedang menikmati teh hangat seraya menonton TV, acara beritalah yang menjadi pilihan mereka saat ini.
"Bang, kok cepet banget pulangny? Katanya mau sekalian jalan-jalan setelah ngopi, terus adiknya kenapa masuk ke dalam kamar memakai helm kaya gitu?" tanya Larasati.
Sebenarnya Larasati merasa ada yang aneh dengan tingkah Kinara, namun dia menyangka jika Kinara sedang beradu argumen dengan Satria. Makanya dia membiarkan saja saat Kinara berlalu dari hadapannya.
"Ngga jadi, Bun. Katanya Kinar meriang," jawab Satria.
Satria sengaja mengatakan hal itu, karena memang itulah yang Kinara katakan saat mengajak dirinya untuk pulang ke rumah.
"Meriang kok masuk ke dalam rumah pakai helm segala? Emangnya nggak engap?" tanya Larasati.
Larasati tidak begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Satria, karena Kinara adalah sosok anak yang sangat kuat.
Dia jarang sekali sakit sekalinya sakit, sekalinya sakit dia akan merengek dan bertingkah sangat manja sekali. Tidak mungkin pergi begitu saja, seingatnya.
__ADS_1
"Ngga tahu, Buna. Kinar cuma bilang kalau dia meriang," jawab Satria.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Jonathan terlihat panik. Dia langsung bangun dan hendak menyusul putrinya ke dalam kamarnya.
Namun, dengan cepat Satria menahan pergelangan tangan Jonathan. Jonathan langsung menghentikan langkahnya, lalu menatap tangannya yang dicekal oleh Satria.
"Ya ampun, Bang. Apa yang Kamu lakukan ini sudah seperti adegan dalam film India," kata Jonathan soraya terkekeh.
Satria langsung menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, dalam keadaan seperti ini saja bisa banget daddynya itu bercanda, pikirnya.
"Ya, habisan Daddy langsung mau pergi-pergi aja. Dengerin dulu Abang ngomong, Daddy duduk dulu. Abang mau cerita," kata Satria.
Jonathan merasa penasaran dengan apa yang akan Satria ceritakan, karena selama ini Satria jarang sekali banyak bicara. Apalagi sampai bercerita tentang banyak hal.
"Ya, baiklah. Daddy akan mendengarkan," kata Jonathan.
Jonathan terlihat duduk tepat di samping Satria, kemudian dia merangkul pundak putranya tersebut dan bertanya.
"Ada apa sih dengan Kinar?" tanya Jonathan dengan raut wajah yang penuh dengan rasa penasaran.
Mereka tidak menyangka jika putrinya yang masih berusia empat belas tahun sudah mulai mempunyai rasa ketertarikan terhadap lawan jenis, padahal Kinar terlihat jarang menunjukkan rasa simpati terhadap seorang pria.
"Yang bener kamu, Bang?" tanya Larasati.
Satria langsung berdecak sebal kala Larasati bertanya seperti itu terhadap dirinya padahal Satria tidak sedang bercanda, namun raut wajah Larasati terlihat tidak percaya.
"Serius, Buna. Buna ngga percaya banget sih sama Abang, ya sudah kalau nggak percaya!" kata Satria kesal.
Satria terlihat bangun dan berlalu dari ruang keluarga tersebut, Satria lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dari pada harus berbicara dengan Jonathan dan Larasati yang terlihat tidak memercayai dirinya.
Setelah kepergian Satria, Larasati dan juga Jonathan terlihat saling pandang. Kemudian mereka tersenyum, karena mereka merasa lucu dengan apa yang Satria katakan.
"Ya sudah, kalau begitu Mas di sini aja. Biar aku yang lihat ke kamar Kinar, siapa tahu dia benar-benar lagi galau dan kecewa karena gebetannya ternyata sudah memiliki pacar," kata Larasati.
Jonathan terkekeh, dia merangkul pundak istrinya lalu mengucap singkat bibir istrinya tersebut.
"Ya sudah, kamu ibunya. Hanya kamu yang mampu menenangkannya," kata Jonathan.
__ADS_1
"Hem," jawab Larasati.
Setelah berpamitan, Larasati terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar Kinara. Tiba di depan kamar Kinara, Larasati terlihat mengetuk pintu kamar putrinya tersebut.
Cukup lama Larasati menunggu di depan pintu kamar, hingga pada akhirnya Kinara membuka pintu kamar tersebut.
Ceklek!
Pintu kamar Kinara nampak terbuka, Larasati langsung menghela napas berat ketika melihat wajah sendu Kinara.
"Ada apa, Buna?" tanya Kinara.
"Tidak apa-apa, Sayang. Buna hanya ingin bicara sebentar, Buna boleh masuk?" tanya Larasati lembut.
"Tentu, Buna. Masuklah, tidak ada yang melarang juga," jawab Kinara.
Larasati merangkul pundak putrinya tersebut, kemudian dia menonton Kinara untuk segera duduk di atas sofa.
Kinara langsung memeluk Larasati, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak bundanya tersebut. Dia seolah sedang mencurahkan kesedihannya lewat pelukan.
"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu kelihatan sedih sekali? Cerita dong sama Buna kalau ada apa-apa, biar perasaan yang mengganjal di hati kamu akan terasa lega," kata Larasati.
Awalnya Kinara diam saja, dia merasa enggan untuk menceritakan apa yang dia rasakan kepada bundanya tersebut.
Dia merasa malu, dia juga takut diejek oleh bundanya. Karena memang di usianya yang masih sangat muda, belum pantas untuk dirinya berpacaran.
Namun, setelah Larasati merayunya. Akhirnya Kinara menceritakan tentang apa yang dia alami saat ini, Larasati tersenyum, kemudian dia mengelus puncak kepala putrinya dengan lembut.
"Mempunyai rasa ketertarikan terhadap lawan jenis itu tidak masalah, Sayang. Namun, kamu masih sangat kecil. Sebaiknya dahulukan saja belajar, perbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik. Raihlah kesuksesan, nanti pria manapun akan datang jika kamu sudah sukses," kata Larasati.
"Ya, Buna." Kinara menjawab seraya mengeratkan pelukannya.
****
Masih berlanjut.
Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
__ADS_1