Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Tiba di kediaman Dinata, Larasati langsung membawa Satria ke dalam kamarnya. Anak itu terlihat mengantuk, bahkan matanya sudah hampir terpejam.


Dia rebahkan tubuh mungil putranya dan dia juga ikut merebahkan tubuh lelahnya di samping putranya, dia elus punggung putranya dengan penuh kasih hingga Satria nampak terlelap.


Larasati terlihat mengecup kening putranya, lalu dia turun dari ranjang dan segera ke kamar mandi. Dia segera berwudhu dan melaksanakan shalat dzuhur.


"Ya Allah, jika Jonathan memang jodoh terbaik untukku, dekatkanlah dia padaku dan juga pada putraku. Tapi, jika Jonathan sama saja seperti Mas Yudha. Tolong tunjukkan semuanya sebelum terlambat, aku tidak mau kejadian pilu yang pernah menimpaku terjadi lagi lewat Jonathan, aamiin." Air mata Larasati luruh setelah dia memanjatkan do'anya.


Selesai shalat dan berdo'a, Larasati ikut terlelap bersama dengan putranya, Satria. Dia ingin menenangkan pikirannya, mungkin dengan tidur bisa membuat dirinya lebih bisa berpikir positif lagi.


Di Cafe.


Angga nampak tak bersemangat, karena wanita yang dia cinta sudah pulang terlebih dahulu. Bi Narti yang mengetahui apa yang dirasakan oleh putranya, langsung menghampiri.


"Jangan bersedih, Ibu yakin masih ada stok perempuan baik yang Tuhan siapkan untuk kamu," kata Bi Narti.


"Ibu!" keluh Angga.


"Bekerjalah dengan baik, Ibu mau pulang. Pinggang ibu sakit, kayaknya encoknya kumat." Bi Narti terlihat memegangi pinggangnya.


Mendengar ucapan bi Narti, Angga terkekeh. Dia lalu memeluk bi Narti dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Pulanglah, Bu. Beristirahatlah! Nanti kalau pekerjaan Angga sudah selesai, Angga pulang," ucap Angga.


Bi Narti menganggukkan kepalanya di dalam pelukan putranya, dia mengurai pelukannya lalu berkata.


"Ya, Ibu pulang," kata Bi Narti.


"Mau Angga antar tidak?" tanya Angga.


"Tidak usah, Nak. Kamu bekerjalah, Ibu akan meminta Freddy Untuk mengantarkan ibu. Naik motor lebih cepat," kata Bi Narti.


"Ya, ini ibu kota. Akan lebih cepat jika menaiki motor," jawab Angga.


Setelah berpamitan kepada Angga, bi Narti pulang dengan diantar oleh Freddy salah satu karyawan dari Larasati.


Selepas kepergian ibunya, Angga pun kembali ke meja kasir. Hari ini dia enggan untuk ke dapur, dari pagi dia merasa jika moodnya sudah tidak baik. Lebih baik tidak memasak ataupun membuat kue, jika nanti akan mengecewakan pelanggan, pikirnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Angga sudah menutup Cafe. Para karyawan juga sudah pulang ke kediaman masing-masing.


Berbeda dengan Angga yang seakan malas untuk pulang, dia merasa masih perlu menenangkan dirinya.


Akhirnya Angga memutuskan untuk pergi ke taman, dia ingin mencoba menenangkan diri dan melepas penatnya di sana.


Tiba di taman, dia langsung memarkirkan mobilnya. Dia turun dari mobil dan membeli minuman juga camilan, lalu dia terlihat duduk di sebuah bangku taman.


"Heh!"

__ADS_1


Terdengar helaan napas dari bibir Angga, dia merasa sedih sekali. Karena setiap hari perasaannya terhadap Larasati malah terasa semakin besar.


Cukup lama dia terdiam seraya memandang rembulan yang menampakan sinarnya, terkadang dia tersenyum kala mengingat kebersamaannya bersama Larasati dan juga Satria.


Terkadang dia tersenyum getir, kala mengingat kebersamaan Larasati dan juga Jonathan yang terlihat sangat dekat.


"Hey! Mas! Ini maknannya sayang loh kalau dianggurin," kata seorang wanita yang kini sudah duduk di samping Angga.


Angga yang sedang asyik melamun langsung memalingkan wajahnya ke arah wanita tersebut, dia sempat memperhatikan penampilan wanita tersebut.


Wanita itu nampak memakai baju kurang bahan, lalu Angga terlihat menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Angga.


"Aku lapar, dari tadi aku memperhatikanmu tapi makanannya tak kamu sentuh. Buat aku ya?" ucap wanita itu.


Mendengar ucapan wanita itu, Angga terlihat memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.


Bajunya memang terlihat kurang bahan, namun Angga tahu jika itu adalah baju mahal dan rancangan sebuah butik ternama.


Bahkan Angga bisa melihat jika jam tangan yang dipakai wanita itu adalah jam tangan mewah, lalu... kenapa dia berkata lapar?


"Kamu mau camilan ini?" tanya Angga.


Wanita itu nampak menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Angga nampak menggelengkan kepalanya, karena pusar wanita itu nampak terlihat kemana-mana.


Angga nampak membuka jaket yang dia pakai, lalu memberikannya pada wanita itu.


"Pakailah, jangan sampai ada yang ingin mencicipi tubuh indahmu itu," kata Angga.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, wanita itu dengan cepat mengambil jaket dari tangan Angga dan memakainya.


"Terima kasih untuk jaketnya, em... itu makanannya boleh untuk aku, kan?" tanya wanita itu.


Angga terkekeh.


"Ambillah," kata Angga.


Mendengar akan hal itu, wanita itu dengan cepat mengambil camilan milik Angga dan memakannya dengan lahap.


Melihat akan hal itu, Angga terlihat tidak tega. Dia memperhatikan sekelilingnya, masih ada tukang nasi goreng dan juga tukang soto.


"Mau aku belikan nasi goreng tidak?" tawar Angga.


"Mau, laper." Dia berucap seraya mengelus lembut perutnya.

__ADS_1


"Aku akan membelikannya untukmu," kata Angga.


Angga segera bangun dan langsung menghampiri pedagang nasi goreng, sepuluh menit kemudian dia sudah datang dengan membawa satu piring nasi goreng lengkap dengan telor ceplok dan acarnya.


"Ini," kata Angga.


"Emm, harum. Bikin tambah laper, terima kasih." Wanita itu langsung menyambut nasi goreng dari tangan Angga dan memakannya dengan lahap.


Nasi yang Angga pesan, sudah masuk setengah porsi kedalam perutnya. Namun, tiba-tiba saja dia menghentikan kunyahannya.


"Ya Tuhan, maaf. Aku melupakanmu," ucap wanita itu.


Mendengar apa yang diucapkan oleh perempuan itu, Angga memalingkan wajahnya dan menaikkan kedua alisnya. Wanita itu tersenyum, kemudian dia menyodorkan sesendok nasi goreng pada Angga.


"Kenapa?" tanya Angga.


"Kamu juga harus makan, jangan bengong saja. Nanti kesurupan," ucap wanita itu.


"Mana a--"


Ucapan Angga langsung terhenti, kala satu sendok nasi goreng sudah mendarat di dalam mulutnya.


"Jangan bicara dulu, makan dulu, oke?" kata wanita itu.


Angga dengan terpaksa mengunyah nasi goreng tersebut, setelah nasi gorengnya habis Angga kembali membuka mulutnya hendak melayangkan protesnya.


Namun, lagi-lagi wanita itu menyuapi Angga. Sampai setengah piring nasi itu berpindah ke perut Angga.


"Anak pandai," ucap wanita itu seraya tersenyum hangat.


Angga hanya bisa menggelengkan kepalanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari wanita yang tidak dia kenal itu.


"Ehm, aku boleh tidak ikut sama kamu?" tanya wanita itu tiba-tiba.


"Hah? Ngga boleh!" tolak Angga.


"Aku mohon tolong aku, aku tidak mau dijodohkan dengan lelaki dewasa itu. Aku mending nikah sama kamu saja," ucap wanita itu.


"Mana ada yang seperti itu, kenal juga ngga." Angga berucap dengan nada penuh protes.


"Oh, ayolah. Kalau kamu tidak mau menikahiku tidak apa, setidaknya ajak aku tinggal sementara di rumah kamu," pinta wanita itu.


"Jangan gila!" bentak Angga.


Beberapa orang yang ada di sana sampai menoleh ke arah mereka berdua, hal itu pun tak disia-siakan oleh wanita itu.


"Suamiku, kenapa kamu tega sekali padaku. Kita baru saja menikah, ayolah kita pulang. Jangan seperti ini, ini malam pertama kita." Wanita itu terlihat menangis, Angga langsung memijat pelipisnya karena kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing.

__ADS_1


__ADS_2