
Dua hari sudah Putri mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, dua hari pula Yudha tak datang menemui Putri.
Bahkan Bi Minah berkata, jika Yudha tak pernah pulang sama sekali. Pikiran Jesicca benar-benar tak menentu, dia merasa resah dan gundah.
Dalam hati dia bertanya-tanya, kemanakah suaminya pergi? Apa yang dia lakukan setelah tidak bekerja di Resto? Apa yang sedang dia lakukan sampai tak sempat pulang?
Jesicca benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk memikirkan apa pun tentang suaminya itu, dia benar-benar merasa kecewa.
Bi Minah yang melihat Jesicca hanya bengong pun merasa kasihan, dia tahu jika beban pikirannya sangatlah berat.
"Nya, pulanglah dulu. Sudah dua hari Nyonya tidak pulang, istirahatlah dulu. Putri biar saya yang jaga, siapin asinya saja. Kalau putri bangun tinggal saya kasih asi," kata Bi Minah.
Jesicca yang terlihat sedang asyik dalam lamunannya, seakan tertarik ke dunia nyata oleh ucapan bi Minah.
"Tapi, Bi. Aku ngga mau pisah sama Putri," kata Jesicca.
Matanya terlihat berkaca-kaca, dia benar-benar merasa sedih. Setidaknya tidak ada Yudha di sampingnya, akan tetapi dia bisa bersama dengan putrinya.
"Hanya pulang untuk beristirahat, bukan untuk berpisah. Inget Nyonya, jangan sampai sakit. Kasihan Putri kalau Nyonya sakit," ucap Bi Minah.
Mendengarkan apa yang diucapkan oleh bi Minah, Jesicca pun terlihat membenarkan ucapan dari asisten rumah tangganya tersebut.
Awalnya dia merasa ragu untuk meninggalkan putrinya, namun benar kata bi Minah, jika dia harus beristirahat agar tidak sakit.
Lagi pula dia sangat tahu bi Minah seperti apa, bi Minah adalah orang baik. Dia pasti akan menjaga putri dengan setulus hatinya.
Jesicca lalu melirik jam yang bertengger cantik di dinding, waktu menunjukkan pukul dua siang. Lumayan pikirnya, dia bisa beristirahat sampai sore tiba.
"Baiklah Bi. Titip Putri, aku pulang sebentar," kata Jesicca.
Sebelum pergi, tentu saja Jesicca memompa asinya. Lalu, memasukkannya ke dalam botol steril. Hal itu dia lakukan agar Putri tidak kekurangan asi saat dia tinggalkan.
"Aku pulang dulu," pamit Jesicca.
Setelah berpamitan kepada bi Minah, Jesicca pun langsung mengusap lembut pipi putrinya. Kemudian, dia kecup keningnya dengan sangat lembut.
Setelah itu, dia pun segera pergi dari ruangan tersebut. Seperti biasanya, dia memesan ojek online untuk bisa sampai ke rumahnya.
Karena, hanya alat transportasi itu yang dirasa lebih murah yang bisa dia jangkau dengan keuangannya saat ini.
Tiba di rumahnya, Jesicca langsung masuk kedalam kamarnya. Dia menghembuskan tubuhnya di atas ranjang, lalu memejamkan matanya.
Tubuhnya benar-benar lelah, bahkan hati dan pikirannya pun sangat lelah. Tak lama kemudian, Jesicca pun nampak tertidur dengan lelap.
Bruk!
Brak!
__ADS_1
Dug!
Mata Jesicca rasanya baru saja terpejam, namun telinganya menangkap suara yang begitu gaduh di dalam kamarnya.
Jesicca berusaha untuk membuka matanya, setelah matanya terbuka dengan sempurna. Dia terlihat sangat kaget, karena melihat Yudha yang sedang mengacak-acak lemari pakaiannya.
Bahkan banyak pakaian dan juga buku-buku di atas lantai yang terlihat berserakan.
"Mas, akhirnya kamu pulang juga. Putri sakit, dia berada di Rumah Sakit. Kita jengukin Putri, Mas." Jesicca terlihat menghampiri Yudha.
Dia memeluk suaminya dan menumpahkan segala kesedihannya dengan menangis di pelukan suaminya, tanpa Jesicca duga... Yudha malah mendorong tubuh Jesicca hingga tersungkur di lantai.
"Mas!" teriak Jesicca seraya meringis menahan sakit.
"Di mana sertifikat rumahnya?" tanya Yudha.
"Buat apa? Buat apa kamu nanyain sertifikat rumah? Yang harus kita pikirkan saat ini adalah kesehatan Putri, bukan sertifikat rumah!" seru Jesicca.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, Yudha terlihat sangat marah. Dia bahkan terlihat mensejajarkan tubuhnya dengan Jesicca, lalu dia menjambak rambut Jesicca dengan kasar, sehingga wajah Jesicca langsung bertatapan dengan Yudha.
"Dasar perempuan tidak berguna! Sekarang katakan di mana sertifikat rumahnya! Aku membutuhkannya," kata Yudha.
Jesicca terlihat berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Yudha dari rambutnya, rasa perih dan juga pedas langsung dia rasakan.
Dia benar-benar tidak menyangka jika Yudha akan memperlakukan dirinya seperti ini, dia tidak menyangka jika Yudha akan berbuat kasar.
"Aku akan menggadaikannya, uangnya akan aku pakai untuk modal usaha," jawab Yudha.
"Usaha apa, Mas? Kalau mau usaha kita bisa membangunnya bersama," kata Jesicca mencoba untuk membujuk Yudha.
"Tidak perlu, aku bisa melakukan usahaku sendiri," jawab Yudha cepat.
"Mas, tolong jangan gadaikan sertifikat rumah ini. Kita bisa melakukan hal yang lain selain menggadaikan sertifikat rumah," ucap Jesicca mencoba untuk bernegosiasi.
"Tidak bisa, cepat katakan di mana sertifikat rumahnya? Atau, kau akan menyesal," ucap Yudha.
"Memangnya apa yang akan Mas, lakukan kalau aku tidak memberikan sertifikatnya?" tanya Jesicca dengan suara menantang.
Yudha terlihat marah sekali, dia langsung mendorong tubuh Jesicca hingga terbentur ke tembok.
Jesicca terlihat meringis kesakitan, air matanya langsung mengalir dengan deras. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang suaminya lakukan.
"Cepat katakan bodoh! Atau aku akan berbuat lebih lagi dari ini," ucap Yudha dengan tatapan yang terlihat begitu mengerikan di mata Jesicca.
Jesicca benar-benar ketakutan saat melihat wajah Yudha yang terlihat begitu mengerikan, baru kali ini dia melihat sikap Yudha yang sesungguhnya terhadap dirinya.
"Di dalam laci, di pinggir tempat tidur," ucap Jesicca.
__ADS_1
Yudha langsung mengambil sertifikat rumah tersebut dari laci yang ditujukan oleh Jesicca, setelah itu dia kembali menghampiri Jesicca.
"Aku akan pergi, jangan pernah mencariku," ucap Yudha.
Setelah mengatakan hal itu, dia pun langsung keluar dari kamar tersebut dengan langkah tergesa.
Jesicca yang mendengarkan apa kata suaminya merasa syok, lalu dia pun mencoba bangun walau tubuhnya terasa sangat sakit.
Dia berusaha mengejar Yudha, hingga tepat di depan rumah Yudha terlihat masuk kedalam mobilnya.
Jesicca sempat tertegun, karena di dalam mobil Yudha, ada seorang perempuan muda yang duduk di sampingnya.
"Mas tunggu!" teriak Jesicca.
Jesicca terlihat menghampiri mobil Yudha, lalu dia pun kembali berkata.
"Jadi ini, Mas. Alasan kamu pergi dari rumah? Semua karena wanita ini?" tanya Jesicca pelan tapi penuh dengan penekanan.
"Ya, dia lebih muda, lebih cantik, lebih seksi dan lebih memuaskan," kata Yudha.
Deg!
Mendengar ucapan Yudha, hatinya benar-benar terasa tercabik-cabik, sakit bukan main.
"Tapi, Mas. Putri sedang sakit, setidaknya lihatlah dia sebentar," kata Jesicca.
"Aku tidak perduli," jawab Yudha.
Setelah mengatakan hal itu, Yudha langsung menutup kaca mobilnya dan dia pun berlalu dari sana.
Tubuh Jesicca langsung luruh ke tanah, dia menangis dan meraung meratapi nasibnya. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Yudha begitu tega berselingkuh di saat putri mereka dalam keadaan sakit seperti ini.
Bahkan dengan teganya Yudha mengambil sertifikat rumah mereka dan berniat untuk menggadaikannya.
"Tega kamu, Mas." Jesicca berkata disela isak tangisnya.
*
*
*
Selamat sore kesayangan, kita balas perbuatan Jesicca dulu ya....
Buat Babang Yudha tunggu sebentar lagi, biarkan dia berada di atas awan. Kemudian kita hempaskan ke kali, sabar ya kesayangan.
I Love you sekebon kembang πππππΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΌπΌπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌπΊπΌ
__ADS_1