Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Kesempatan


__ADS_3

"Aku ingin menjadi Ayah untuk Satria, kalau kamu tidak mau jadi istriku tak apa." Dengan santainya Jonathan langsung menghampiri Satria dan memberikan dua kantong besar yang dia bawa kepada bocah lelaki tersebut.


"Telima kasih, Daddy," kata Satria.


"What?" Larasati terlihat kaget saat mendengarkan putranya memanggil Jonathan dengan sebutan Daddy.


Larasati benar-benar tidak menyangka, jika Satria bisa dengan mudahnya memanggil Jonathan dengan sebutan daddy.


Bahkan Larasati tidak mengetahui, kapan Jonathan bertemu dengan Satria. Larasati tidak mengetahui sejak kapan terjadi keakraban antara Satria dan juga Jonathan.


Dia hanya tahu jika dua hari ini, dia begitu sibuk. Sehingga dia meninggalkan Satria bersama dengan kedua orang tuanya, namun dia tak pernah menyangka, jika ternyata Jonathan akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Satria.


Dia tidak menyangka jika Jonathan benar-benar mewujudkan apa yang dia katakan, dia akan terus mengejarnya walaupun Larasati tak menggubrisnya sama sekali.


Bahkan dia masih ingat kala Jonathan berkata 'Aku rela tak menikah seumur hidupku, asal bisa dekat sama kamu'.


Sebesar itukah cinta Jonathan untuk seorang Larasati?


"Jo, sejak kapan kamu menemui putra aku? Sejak kapan kamu bisa akrab dengan putra aku?" tanya Larasati.


Melihat Larasati yang kini mulai berbicara serius dengan Jonathan, membuat tuan Elias dan juga Nyonya Meera segera meninggalkan mereka berdua.


Mereka sengaja pergi agar Jonathan dan juga Larasati bisa berbicara dengan leluasa, mereka bahkan sengaja meninggalkan Satria di sana yang terlihat sedang anteng membongkar mainan yang telah diberikan oleh Jonathan kepada dirinya.


"Sejak dua hari yang lalu," jawab Jonathan jujur.


Mendengar jawaban dari Jonathan, Larasati terlihat menghela napas panjang. Lalu, mengeluarkannya dengan perlahan.


"Terus, maksud kamu apa? Mau deketin putra aku atau gimana?" tanya Larasati.


Mendengar pertanyaan dari Larasati, Jonathan nampak terkekeh. Dia lalu duduk di samping Larasati, kemudian menatap Larasati dengan lekat.


"Karena Bundanya tidak mau menikah denganku, jadi aku ingin mendekati putranya. Karena dengan melihat wajah putranya yang begitu mirip dengan Bundanya, membuat hatiku yang terasa sakit bisa terobati," jawab Jonathan dengan wajah sendunya.


Mendengar akan hal itu, hati Larasati seakan tercubit. Jonathan adalah sahabatnya dari kecil, Jonathan adalah lelaki yang selalu ada untuk Larasati.


Dikala dia sedih, Jonathan selalu menghiburnya. Dikala dia merasakan senang, Jonathan adalah orang pertama yang mengungkapkan ekspresi kebahagiaannya.


Namun, entah kenapa Larasati begitu sulit menerima Jonathan untuk menjadi bagian dari hidupnya.

__ADS_1


Padahal, Jonathan sudah mengungkapkan rasa cintanya kepada Larasati semenjak mereka duduk di bangku SMP.


Bahkan, saat itu Larasati sampai menduga jika Jonathan sedang bercanda terhadap dirinya.


Namun, setelah melihat sikap dan ketulusan dari Jonathan, Larasati pun sangat paham jika dia memang benar-benar tulus mencintai dirinya.


Sayangnya, saat dia berniat untuk memberikan kesempatan kepada Jonathan. Di saat itu pula Yudha masuk ke dalam kehidupannya, dia mampu membuat Larasati jatuh hati.


Bahkan saat itu, Larasati seolah dibutakan oleh cinta. Dia rela membangkang kepada kedua orang tuanya. Namun Jonathan tetap mencintai dirinya.


Tanpa sepengetahuan Larasati, bahkan Jonathan dan juga tuan Elias selalu memantau keseharian dari Larasati.


Saat pertama kali Larasati membangun Resto, tuan Elias meminta temannya untuk menjadi investor agar Resto milik Larasati bisa berkembang dengan pesat.


Bahkan, Jonathan pun meminta temannya Rendy untuk bekerja di Resto milik Larasati. Hal itu dia lakukan, agar dirinya merasa tenang.


Selain dari itu, tentunya agar Jonathan bisa melihat wajah cantik Larasati setiap harinya. Karena Rendy selalu rajin memberikan foto kegiatan sehari-hari dari Larasati kepada Jonathan.


Tentu saja Jonathan meminta Rendy, agar dia tidak mengatakan hal tersebut kepada Larasati.


Setelah Larasati didepak secara kasar oleh Yudha pun, Jonathan dan tuan Elias masih terus memantau pergerakan Larasati.


Bahkan mereka bekerja sama dengan Bi Narti, agar bisa menjaga Larasati. Walaupun, hanya dari jarak jauh.


Larasati pun jadi berpikir, mungkin inilah saatnya untuk dia memberikan kesempatan kepada Jonathan, sahabatnya itu.


"Jo, sepertinya aku akan memberikan kamu waktu selama satu bulan untuk mendekati aku dan putraku. Jika kamu berhasil meluluhkan hatiku, aku mau menjadi istri kamu," jawab Larasati.


Mendengar ucapan dari Larasati, Jonathan nampak membulatkan matanya dengan sempurna. Bahkan saking senangnya, dia langsung memeluk Larasati dengan erat.


Melihat apa yang dilakukan oleh Jonathan terhadap bundanya, Satria terlihat begitu heboh. Dia langsung naik ke atas meja makan dan bertepuk tangan sambil tertawa dengan riangnya.


"Yeyy, Daddy peluk Buna. Tapi kok, wajah Buna melah begitu? Buna sakit?" tanya Satria.


Mendengar pertanyaan dari Satria, Larasati segera melepaskan pelukan Jonathan. Lalu, dia pun memegangi pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Melihat tingkah Larasati, Jonathan langsung terkekeh. Dia benar-benar merasa sangat bahagia, karena akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk bisa mendekati wanita yang dia cintai.


"Ehm, bagaiamana kalau kita pergi ke taman hiburan saja? Itung-itung nyenengin hati calon istri aku, sama putra tampan aku?" tanya Jonathan.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Jonathan, membuat wajah Larasati semakin merona. Dia benar-benar merasa salah tingkah saat ini, ternyata Jonathan yang dulu terlihat kaku sudah berubah total.


Kini dia terlihat pandai merayu dan juga hangat dalam bersikap, benar-benar perubahan yang luar biasa, pikirnya.


"Kok malah malu-malu seperti itu? Mau tidak?" tanya Jonathan lagi.


"I--iya, Jo. Aku mau," jawab Larasati.


"Yes!" kata Jonathan seraya mengepalkan tangannya ke udara.


Larasati langsung terkekeh melihat kelakuan dari Jonathan, setelah mendapatkan persetujuan dari Larasati, Jonathan pun lalu mengalihkan pandangannya kepada si kecil Satria.


Dia mengangkat tubuh mungil Satria dan mendudukkannya di pangkuannya, lalu Jonathan pun langsung berkata.


"Jadi bagaimana jagoan, mau atau tidak jalan-jalan sama Daddy?" tanya Jonathan.


Satria terlihat tertawa, dia begitu senang karena akhirnya dia akan pergi untuk jalan-jalan.


"Mau, Dad. Aku mau jalan-jalan, aku mau naik kuda-kudaan," jawab Satria.


"Daddy juga mau main kuda-kudaan," ucap Jonathan seraya mengerling nakal kearah Larasati.


Larasati langsung memukul pundak Jonathan, dia tahu kemana arah pembicaraan dari temannya itu.


"Sakit, Buna!" ucap Jonathan seraya mengangkat tubuh mungil Satria dan menggelitik perut bocah tampan itu.


Satria langsung tertawa dengan terbahak-bahak, karena dia merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Jonathan.


Melihat rona bahagia di wajah putranya, Larasati benar-benar sangat senang. Apa lagi Jonathan begitu perhatian terhadap putranya, apa pun yang membuat putranya senang, hal itu pula yang membuat hati Larasati ikut senang.


"Baiklah, mari kita berangkat!" ajak Jonathan.


Mendengar kata ajakan dari Jonathan, membuat Satria begitu senang bukan kepalang.


Bahkan dia langsung memeluk Jonathan dan menghadiahi ciuman bertubi-tubi di wajah Jonathan.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Satria, hati Jonathan langsung menghangat. Dia benar-benar merasa senang sekaligus bangga, karena Satria bisa dengan mudahnya menerima dirinya.


Apa lagi saat dia meminta Satria untuk memanggilnya daddy, dengan cepat Satria pun menuruti, hatinya benar-benar berbunga.

__ADS_1


Sebenarnya dalam hati Jonathan bertanya-tanya, apakah Satria mengerti dengan arti kata daddy yang dia ucapkan atau dia menganggap jika daddy itu hanyalah sebuah nama panggilan?


Entahlah dia tak tahu, yang terpenting Jonathan senang karena Satria mau memanggilnya daddy Jo.


__ADS_2