Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tertuduh


__ADS_3

"Halo ges, kembali lagi bersama dengan Amira. Aku tuh sebenarnya baru pulang sekolah, tapi karena rindu dengan Dede Putri, aku mau ngajak kalian buat ketemuan sama Dede Putri yang cantik dan pipinya gembil bak kue bapau."


Amira terlihat sedang merekam kegiatannya melalui kamera ponselnya, anak dari Amalia yang kini sedang duduk di bangku kelas 4 SD itu memang suka sekali merekam kegiatannya.


Jika dirasa hasil rekamannya bagus, dia akan menguploadnya melalui sosial media. Karena dia memang bercita-cita ingin menjadi seorang reporter.


"Eh tunggu deh, kok warungnya tutup ya. Biasanya kalau jam segini Dede Putri sedang diayun di depan warung sama ibu, tapi ngga ada."


Amira terlihat celingukan seperti sedang mencari keberadaan Putri, lalu seulas senyum terbit dari bibirnya.


"Wah, ternyata sendal tante Jesjes ada. Berarti orangnya ada di dalam, yuk kita kepoin mereka lagi apa di dalam."


Amira terlihat mengayun-ayunkan tangannya, lalu dia mencoba untuk membuka pintu rumah Jesicca.


"Tuh, bener, kan. Kayaknya tante Jesjes ada di dalam deh, nih buktinya pintunya nggak dikunci. Yuk kita cari tante Jesjes di dalam sama Dede Putri, mungkin mereka sedang tidur."


Amira terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan, dia terlihat mengedarkan pandangannya. Mencari sosok dua wanita berbeda usia yang sedang dia rindukan.


Tangannya terlihat mengarahkan kamera ponselnya ke seluruh ruangan tersebut, dia berharap akan segera menemukan keberadaan Jesicca dan juga Putri.


BRAK!


"As-tag-fi-rul-llah!" teriak Amira seraya mengelus dadanya.


Pandangan mata Amira mengarah ke kamar Jesicca, karena memang suaranya berasal dari kamar tersebut.


"Wah, wah, wah. Ges, suara apa itu? Sepertinya asal suaranya dari dalam kamar tante Jesjes, kuy kita kepoin bareng-bareng."


Amira terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju kamar Jesicca, dia melihat kamar jesicca tidak tertutup dengan sempurna.


Amira pun mendorong pintu kamar tersebut dengan perlahan sambil mengarahkan kamera ponselnya, mata Amira langsung membulat dengan sempurna kala melihat apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.


Amira melihat Maman yang sedang berada di atas tubuh jesicca, dia terlihat sedang memukul wajah Jesicca beberapa kali.

__ADS_1


Bibir Jesicca bahkan sampai sobek dan berdarah, Jesicca terlihat meronta. Namun Maman dengan beringas mencoba untuk membuka baju yang dikenakan oleh Jesicca.


Amira terlihat ketakutan, dia terus saja memundurkan langkahnya seraya memegang ponsel di tangannya. Hingga sampai di ruang tamu, tanpa sengaja dia pun menyenggol vas bunga yang ada di sana.


PRANG!


Vas bunga tersebut terlihat pecah dan hancur berantakan, melihat akan hal itu Amira semakin ketakutan. Dia langsung berlari ke pojok ruangan dan duduk sambil memeluk kedua lututnya.


Di dalam kamar.


Maman yang mendengar suara berisik terlihat menghentikan aksinya, dia takut ada orang yang masuk ke dalam rumah Jesicca.


Hal itu dimanfaatkan oleh Jesicca, dia mendorong tubuh Maman dengan kencang. Alhasil tubuh kurus Maman langsung jatuh tersungkur, bahkan dahinya terpentok sudut meja.


"Sialan!" teriak Maman kala merasakan sakit dan darah mengalir dari pelipisnya.


Jesicca ketakutan, dia terlihat berlari dan hendak keluar dari kamar tersebut. Hal itu membuat Maman marah dan langsung menarik tubuh Jesicca hingga tersungkur ke lantai.


Maman menyeringai, lalu dia menaiki tubuh Jesicca dan merobek baju yang dia pakai. Matanya terlihat membulat kala melihat dada Jesicca yang terlihat begitu besar, dengan rakus dia langsung meraup dada Jesicca


Seperti ada beberapa orang yang hendak masuk ke dalam rumah Jesicca, Maman tak kehabisan akal. Dia langsung turun dari tubuh Jesicca dan mengangkat tubuh Jesicca.


Kini posisi mereka terbalik, Jesicca kini berada di atas tubuh Maman. Hal itu membuat Jesicca terkesan sedang memaksa Maman untuk menjadi pemuas naffsunya.


Beberapa orang yang masuk langsung melihat adegan itu, tentu saja mereka mengira Jesicca sebagai wanita gatal dan tidak tahu malu.


Awalnya mereka mendengar keributan di rumah Jesicca mereka abaikan, karena mereka kira Jesicca dan juga Maman sedang merapikan barang dagangan sepulang dari pasar.


Karena memang biasanya terdengar begitu riuh kala Jesicca pulang dari pasar, karena Jesicca selalu membeli banyak barang ketika pergi ke pasar.


Hal itu dia lakukan karena jarak dari kampung yang dia tinggali ke pusat kota lumayan jauh, sehingga hal itu mengharuskan Jesicca untuk menyetok banyak barang dagangannya.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" teriak Ibu A.

__ADS_1


"Wanita tidak tahu diri, sudah diterima di kampung ini malah kayak gitu," ucap Ibu B.


"Wah, padahal saya kira Neng Jesicca orang yang baik ternyata kayak gini," ucap pria C.


Beberapa orang yang datang nampak berbisik-bisik, sedangkan Jesicca langsung turun dari tubuh Maman dan segera mengambil sweater dan segera memakainya.


Maman yang merasa di atas angin langsung menghampiri beberapa orang yang datang dan mulai berakting.


"Dia wanita gatal ternyata, masa saya dipaksa buat jadi pemuas naffsunya. Kalian lihatkan tadi, dia sangat agresif, bahkan dia merobek bajunya dan menyodorkan dua buah huldinya untuk aku lahap," jelas Maman.


"Waaah, bener-bener. Ayo kita bawa Neng Jesicca ke rumah pak RT, harus segera ditindak lanjuti ini," ucap pria D.


"Iya, bener-bener," sahut yang lainnya.


Jesicca pun segera dibawa ke rumah pak RT oleh beberapa warga tersebut, Maman tersenyum seraya mengekori langkah mereka.


Jesicca berusaha untuk menjelaskan, bahkan sepanjang perjalanan dia pun menceritakan duduk perkaranya. Namun, tetap saja tidak ada yang percaya karena yang mereka lihat Jesicca sedang berada di atas tubuh Maman.


"Tolong percaya sama saya, Pak, Bu. Semuanya tidak seperti yang kalian lihat, Kang Maman yang mau memperkosa saya," kata Jesicca.


Semua orang yang mendengar perkataan Jesicca terlihat mencibir, tentu saja mereka tidak akan percaya dengan apa pun yang dikatakan oleh Jessica.


"Dasar perempuan bejat, bisa-bisanya menuduh orang sembarangan. Kang Maman memang duda, tapi dia tidak pernah berbuat hal buruk di kampung ini," ucap Ibu A.


Berulang kali Jesicca membela diri, sayangnya tidak ada yang percaya sama sekali terhadap dirinya. Kang Maman tentu saja menjadi manusia yang paling merasa menang, dia terus saja mengembangkan senyumnya sepanjang perjalanan menuju rumah pak RT.


Tiba di rumah pak RT, warga terdengar riuh memanggil nama pak RT. Mereka pun dengan cepat mengadukan kelakuan Jesicca kepada pak RT.


Kini, Jesicca seperti orang pesakitan. Dia bak seorang tahanan yang sedang disidang, dia tak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa menunduk ketika semua orang menuduh dan menghujatnya.


"Kami harap Pak RT bisa bersikap tegas, kalau perlu kita usir saja wanita pembawa sial ini," kata pria A.


*

__ADS_1


*


Bersambung....


__ADS_2