Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Lapar


__ADS_3

Juki tempat memindai penampilan Jesicca dari atas kepala sampai ujung kaki, Juki juga tak melewatkan Putri dari tatapan matanya.


"Kamu ngapain malam-malam bawa anak keluar rumah? Masih baby lagi, ngga kasian apa ama entu bocah?" tanya Juki.


Jesicca sempat terdiam, dia ragu untuk menjawab pertanyaan dari Juki. Namun, kalau tidak menjawab, takut ada kesalahpahaman.


"Saya lapar, Mas. Saya mau nyari tukang nasi goreng," jawab Jesicca.


"Ya Tuhan, laper malam-malam malah keluar bawa anak. Laki kamu suruh nyari makan, nanti anak kamu bisa sakit!" tegas Juki.


Jesicca menunduk mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, akan senang sekali jika mendapatkan perhatian dari seorang suami, pikirnya.


Sayangnya itu tidak mungkin, karena Yudha sudah meninggalkan dirinya bersama dengan wanita lain. Bahkan mungkin saja Yudha sudah bahagia dengan kehidupan barunya, pikirnya.


"Kenapa diam?" tanya Juki.


"Saya, maksudnya saya sudah diceraikan oleh suami. Jadi, saya kalau mau apa-apa ya, harus sendiri." Jesicca terlihat membenarkan penutup kepala Putri.


Mendengar apa yang dikatakan okeh Jesicca, Juki nampak memandang iba pada Jesicca.


"Kamu duduk aja di sana, biar saya yang membelikan nasi gorengnya," kata Juki.


"Tidak usah, Mas. Saya takut merepotkan, biar sa--"


"Jangan membantah, kamu mau anak kamu itu sakit?" tanya Juki menyelak.


Sakit karena ditinggal anak dan istri membuat Juki trauma, dia takut akan terjadi sesuatu pada baby yang gendong oleh Jesicca.


Apa lagi Juki menyaksikan sendiri anak dan istrinya menghembuskan napas terakhirnya, hal itu benar-benar membuat dia takut.


"Ti--tidak, tentu saja tidak." Jesicca berkata seraya menggelengkan kepalanya.


Juki tersenyum, lalu dia berkata.


"Kalau begitu duduklah, biar saya yang mencarikan makanan." Juki langsung pergi tanpa menoleh ke arah Jesicca.


Jesicca hanya bisa menghela napas, baru saja bertemu tapi sudah posesif, pikirnya. Jesicca langsung duduk di kursi yang ada di teras depan rumah bu Sari, sesekali dia mengusap puncak kepala putrinya.


Beruntung Putri begitu anteng, dia bahkan seolah tidak terganggu kala tertidur dalam gendongan Ibunya.


Dua puluh menit kemudian.


"Maaf lama, soalnya ngantri," kata Juki seraya menyerahkan sekantong plastik besar kepada Jesicca.

__ADS_1


Jessica sempat mengernyitkan dahinya karena bungkusan yang diberikan Juki terlihat besar, dia lapar ingin mencari nasi goreng. Namun, kenapa makanan yang diberikan oleh Juki terlihat begitu banyak?


"Loh, kok?"


Jesicca menunjuk kantong besar yang diberikan Juki kepadanya.


"Sekalian saya belikan kue dan juga camilan, biar kamu ngga kelaperan lagi," kata Juki.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, Jesicca nampak tak enak hati. Baru saja kenal pikirnya, namun Jesicca terlihat seakan memanfaatkan kebaikan Juki.


"Tapi ini berlebihan," kata Jesicca.


"Tidak ada yang berlebihan, apa lagi kamu sedang menyusui, bukan?" tanya Juki.


Mendapatkan pertanyaan dari Juki, Jesicca langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya, makanya saya merasa lapar terus. Karena Putri sangat kuat kalau soal asi," kata Jesicca.


"Ya sudah, kamu masuk ke kamar kamu. Kasihan putri kamu," kata Juki.


"Iya, Mas. Terima kasih," kata Jesicca.


Jesicca hendak bangun dari duduknya, dia ingin masuk ke dalam kamarnya dan segera makan karena perutnya sudah terasa keroncongan. Namun, dia mengurungkan niatnya karena Juki kembali membuka suaranya.


"Memangnya kenapa?" tanya Jesicca.


"Tadi sore Ibu saya jatuh di kamar mandi, dia butuh teman. Kalau tidak keberatan, saya minta kamu jaga Ibu saya mulai besok. Karena saya harus kerja ke luat kota," kata Juki.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, Jesicca nampak terkaget. Karena saat dia berpamitan kepada bu Sari, bu Sari masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Inalillahi, saya mau Mas," jawab Jesicca cepat.


Di satu sisi Jesicca sangat senang karena dia mendapatkan pekerjaan, itu artinya dia akan mendapatkan upah dan akan bisa menyambung hidupnya.


Namun, di satu sisi juga dia merasa sangat sedih. Karena ternyata bu Sari dalam keadaan sakit, bahkan dia sampai perlu dijaga.


"Syukurlah kalau begitu, saya titip ibu saya. Besok pagi kamu langsung ke rumah, ya?" pinta Juki.


"Siap, Mas," jawab Jesicca cepat.


"Ya sudah, saya masuk dulu. Sudah terlalu lama saya meninggalkan Ibu," pamit Juki.


"Iya, Mas," jawab Jesicca.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada Jesicca, Juki nampak masuk kedalam rumahnya. Setelah melihat pintu tertutup dengan rapat, Jesicca baru melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kostannya yang berada di lantai dua.


Karena memang rumah bu Sari memiliki tiga lantai, lantai pertama dia pakai untuk tempat tinggal bersama dengan putranya Juki. Lantai kedua dan ketiga dia pakai untuk kost-kostan, lumayan bukan dapat uang mengalir tanpa harus cape bekerja.


Tiba dalam kamar kostnya, Jesicca langsung merebahkan tubuh mungil Putri di atas ranjang. Lalu, dia segara mengambil nasi goreng yang dibelikan oleh Juki.


"Alahamdulillah, nasi gorengnya enak banget," kata Jesicca ketika dia menyuapkan suapan terakhirnya.


*/*


Di kediaman Dinata.


"Sayang, ayo. Ini udah tegang banget," kata Jonathan.


"Ish! Lagian aku udah bilang, aku datang bulan. Masa ngga bisa nahan sehari aja sih!" keluh Larasati.


"Kan bisa pake cara lain, satu kali ini aja, Yang. Lain kali ngga bakal minta lagi," pinta Jonathan dengan wajah prustasi.


Bagaimana tidak prustasi, jika Jonathan terus saja memancing hasrat Larasati. Padahal Larasati sudah bilang jika dia sedang datang bulan, namun Jonathan bilang hanya bermesraan sebelum tidur saja. Alhasil, miliknya kini sudah sangat siap untuk bertempur.


"Sayang, kamu tega? Aku ngga mau loh main solo, geli." Jonathan nampak bergidig kala membayangkan tangannya yang memainkan mikiknya sendiri.


Larasati terkekeh geli melihat kelakuan suaminya, dia tahu kalau Jonathan memang tidak menyukai hal itu.


"Baiklah, Sayang." Larasati terlihat menunduk dan mulai membuka kain penutup bagian bawah milik Jonatahan.


Tak lama kemudian, Jonathan nampak menutup matanya dengan kuat. Bibirnya terlihat terbuka dan tangannya langsung mencengkram kuat sprei yang ad di sisi kanan dan kirinya.


Sensasi kenikmatan luar biasa kini sedang dia rasakan kala miliknya tengan masuk ke dalam liang bergerigi milik istrinya, terasa hangat, basah dan... ah, Othor pun tidak tahu rasanya kaya apa.


"Iya, Sayang. Kaya gitu, he'em. Enak," racau Jonathan.


Larasati tak menanggapi apa kata suaminya, dia terus saja melakukan tugasnya. Walaupun dalam hati merasa geli sendiri. Karena saat dirinya menikah dengan Yudha, dia tidak pernah melakukan hal itu.


*


*


Bersambung....


Selamat pagi menjelang siang kesayangan, semoga kalian sehat selalu dan semangat menjalani puasa untuk yang sudah mulai. Othor besok mulainya.


Othor mau ditanya dong, Othor punya sesuatu yang baru soalnya. Mau minta dukungan juga, please... tanya atuh da begeur (baik).

__ADS_1


__ADS_2