
Karena sangat panik, Jesicca tanpa sadar langsung membuka tiga kancing baju bagian atas miliknya. Lalu dia mengeluarkan sumber makanan Putri dengan cepat.
Putri terlihat menyesap sumber makanannya dengan cepat, tangannya bahkan mengelus-elus dada Jesicca yang satunya.
Melihat akan hal itu, Juki hanya bisa menelan salivanya dengan susah. bahkan lututnya seakan lemas dan dadanya berdetak tidak karuan.
Jesicca begitu asik mengusap-usap puncak kepala putrinya, tidak sedikitpun dia menoleh ke arah Juki.
Semakin lama Juki melihat buah kenyal yang terlihat begitu besar dan padat itu, semakin berdetak tidak karuan jantungnya.
Perlahan Juki menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, namun pandangannya tak terlepas dari dada Jesicca yang terlihat begitu menantang.
Sesekali dia terlihat menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan, bahkan Juki terlihat mengelus-elus dadanya.
Duda yang sudah lumayan lama berpuasa itu kini terlihat resah, bahkan keringatnya nampak mengembun di dahinya.
Jika selama ini dia bisa tenang, bahkan si Otong bisa tertidur dengan pulas. Tentu saja itu semua terjadi karena dia tak pernah berdekatan lagi dengan perempuan.
Juki hanya sibuk bekerja dan bekerja, hal itu dia lakukan agar tidak ada kesedihan di dalam hatinya.
Karena jika dia sedang duduk sendiri, tanpa ada teman yang menemani. Rasa rindu terhadap anak dan juga istrinya akan membuncah.
Bahkan tidak jarang dia akan menangis dalam keheningan malam, mengingat kebersamaan antara dirinya dan juga sang istri.
Dia juga selalu menangis kala mengingat dirinya yang sedang menggendong jasad dari putri tercintanya.
'Sial! Kenapa dia malah bangun?' umpat Juki dalam hati.
Juki semakin gelisah, dia mengambil bantal yang ada di atas sofa lalu menyimpannya di atas pahanya.
Melihat akan hal itu, bu Sari nampak tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika putranya ternyata masih sangat normal.
Padahal bu Sari sempat menyangka jika perasaan Juki sudah mati seiring tanah merah mengubur jasad anak dan istrinya.
"Ehm, Sayang. Sebaiknya kamu ganti baju dulu, nanti kalau Putri sudah tenang, kamu bisa bermain dengannya lagi," kata bu Sari.
Bu Sari sengaja mengatakan hal itu, agar Jesicca tidak menyadari apa yang terjadi kepada Juki.
"Ah, iya, Bu," kata Juki dengan tatapan mata masih mengarah ke dada Jesicca.
__ADS_1
Rasanya pemandangan seperti itu begitu sulit untuk dilewatkan, menurutnya terlalu indah dan terlalu lama dia tidak menikmatinya.
Jesicca sempat mendongakkan kepalanya saat Juki hendak pergi ke dalam kamarnya, dia bisa melihat raut wajah Juki yang terlihat memerah seperti menahan sesuatu.
Setelah Juki pergi ke dalam kamarnya, Jesicca langsung menatap wajah bu Sari. Kemudian dia bertanya.
"Mas Juki kenapa, Bu? Sepertinya dia sedang menahan sesuatu, karena wajahnya terlihat memerah. Apakah Mas Juki sakit?" tanya Jesicca.
Mendengar pertanyaan dari Jesicca, bu Sari nampak tersenyum. Kemudian dia pun berkata.
"Apa kamu tidak sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Bu Sari.
Mendengar pertanyaan dari bu Sari, Jesicca terlihat menggelengkan kepalanya seraya mengelus lembut puncak kepala putrinya yang kini mulai tertidur dalam dekapanmya.
Mungkin karena terlalu takut, sehingga rasa takut yang teramat itu malah membuat Putri sampai tertidur.
"Dia tidak tahan karena melihat itu--"
Bu Sari terlihat menunjuk dada Jesicca dengan ekor matanya, Jesicca langsung melihat ke arah tatapan mata bu Sari.
"Ya Tuhan, maaf, Bu. Saya tidak bermaksud untuk--"
Ucapan Jesicca tertahan, karena bu Sari langsung menyelak.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bu Sari, Jesicca nampak tersenyum lega. Karena ternyata bu Sari sangat paham dengan apa yang terjadi terhadap dirinya.
Padahal, tadinya Jesicca sudah sangat takut jika dirinya akan dicap sebagai wanita penggoda dengan apa yang sudah dia lakukan tadi.
Dia jadi berpikir, jika mulai saat ini dia harus lebih waspada dan hati-hati lagi jika sedang berada di luar kamarnya.
Apa lagi saat sedang menyusui Putri, karena kalau orang lain yang melihatnya, bisa saja tidak bisa menahan diri dan langsung menerkam Jesicca.
Di dalam kamar.
Juki terlihat mondar-mandir tak karuan karena miliknya kini yang sudah sangat menegang, dia tidak menyangka jika dirinya bisa merasakan hal itu kembali.
Dia mengira jika miliknya tidak akan bangun lagi setelah kepergian sang istri, namun ternyata dia salah.
Baru melihat bagian dada Jesicca saja sudah membuat dirinya gelisah, apalagi melihat anggota tubuh Jesicca yang lainnya, pikirnya.
__ADS_1
Dua mengakui jika ukuran dada Jesicca memang sangat besar, berbeda dengan milik istrinya. Tapi mungkin saja hal itu terjadi karena Jesicca memang sedang menyusui, tebaknya.
"Kenapa hal ini bisa terjadi? Apa karena aku sangat membutuhkan hal itu? Atau karena Mbak Jesicca yang terlalu menggoda?" tanya Juki lirih.
Dia menatap miliknya yang terlihat mengembang dengan sempurna di balik kain panjang yang masih melekat di tubuhnya.
"Tong, napa elu bangun sih? Inget! kaga ada lawan," kata Juki seraya memandang nanar miliknya.
Dia terlihat menyugar rambutnya dengan kasar, kemudian dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Karena semakin lama dia diam, dia merasa sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara aneh dari bibir Juki. Matanya dia pejamkan, otaknya membayangkan wajah ayu Jesicca seraya mengingat-ingat bulatan kenyal nan padat itu.
Ya, dada Jesicca memang terlihat membesar setelah menyusui Putri. Air asinya terlihat begitu banyak dan melimpah.
Hal itu membuat Jesicca tidak usah memberikan susu formula kepada Putri, cukup dengan air asinya saja Putri sudah terlihat sangat kekenyangan.
Satu jam kemudian, Juki terlihat keluar dari kamarnya. Dia sudah memakai pakaian santai ala rumahan, bu Sari tersenyum melihat putranya tersebut.
Lalu, dia meminta putranya untuk duduk di samping dirinya. Dia ingin berbicara dengan putranya tersebut.
"Ada apa, Bu?" tanya Juki.
"Ibu perhatikan sepertinya kamu menyukai Jesicca, apa tidak sebaiknya kamu menikah saja dengan Jesicca? Toh Jesicca juga hanya seorang janda, dia mempunyai putri yang cantik. Siapa tahu Jesicca beserta putrinya bisa mengobati luka hatimu setelah kepergian anak dan istrimu," ucap bu Sari panjang lebar.
Bu Sari terlihat menatap putranya dengan tatapan sendunya, bukan hanya Juki yang sedih atas kepergian Anissa dan juga Amera, namun dirinya juga merasa kehilangan.
Karena Anisa merupakan sosok menantu yang sangat luar biasa di mata bu Sari, dia juga merasa kehilangan atas kepergian putrinya Juki, Amera.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bu Sari, Juki nampak terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa kepada bu Sari.
Dia memang tidak menyukai Jesicca, dia tidak mencintai Jesicca. Tapi dia sangat menyukai Putri, dia sangat menyayangi Putri.
Dia juga mengakui kalau dirinya masih sangat normal, bahkan baru melihat dada Jesicca yang menyembul seperti itu saja, miliknya sudah bangun. Bahkan dirinya terasa sangat resah
BERSAMBUNG....
*
*
__ADS_1
*
Selamat malam, selamat beristirahat. Satu bab untuk menemani waktu santai kalian.