
Tiba di dalam kamar, Juki langsung melepaskan tautannya. Kemudian dia menghempaskan tubuh Jesicca ke atas tempat tidur.
Juki yang sudah tidak sabar langsung membuka kancing kemejanya satu persatu dan melemparkannya, lalu dia juga membuka kain penutup bawah miliknya dan segera menghampiri Jesicca yang terlihat menatap dirinya dengan tatapan tidak percaya.
"Mas, mau apa? Ini sudah setengah lima, sebentar lagi Ibu dan juga Putri pasti pulang." Jesicca bangun dan hendak turun dari ranjang.
"Kalau begitu kita main cepat!" kata Juki.
Juki merasa jika dirinya tidak mungkin harus menahan hasratnya, karena dia sudah benar-benar menginginkan Jesicca saat itu juga.
Saat Jesicca sudah turun dari ranjang, Juki membuka kain yang melekat di tubuh istrinya dengan cepat.
Jesicca bahkan sampai kaget dibuatnya, lalu... Juki menyudutkan istrinya sampai terpentok jendela. Tak lama kemudian, Juki nampak memasuki istrinya dari belakang.
"Mas!" pekik Jesicca.
"Shuuuttt!"
Juki langsung menutup bibir istrinya dengan ciuman lembut dengan miliknya yang terus saja menghujam kelembutan milik istrinya.
"Kamu mau juga?" tanya Juki dengan napas terengah.
"Mas aja kalau mau main cepet, aku takut ibu akan pulang sama Putri." Jesicca terlihat mencengkram gorden.
Jesicca tidak mungkin menikmati permainan yang katanya hanya akan Juki lakukan sebentar saja itu.
Dia benar-benar merasa takut jika mertuanya akan segera datang, malu rasanya tinggal di rumah mertua namun dia malah berbuat semaunya.
Benar saja apa yang ada di dalam pikiran Jesicca, baru saja lima belas menit mereka melakukannya. Tiba-tiba terdengar suara bu Sari di balik pintu.
"Jesicca, Sayang. Apa kamu di dalam?" tanya Bu Sari.
Jesicca tak berani menjawab, karna Juki terlihat mempercepat gerakannya. Hal itu membuat Jesicca kesusahan untuk berbicara, bahkan dia terlihat mencari sesuatu yang bisa dia pegang.
"Ada, Bu. Lagi bantu aku dulu, sebentar lagi," kata Juki mencoba menstabilkan suaranya.
"Ya sudah, ibu tunggu di ruang keluarga," kata Bu Sari.
"Iya, Bu!"
Setelah mengatakan hal itu, Juki lihat memeluk tubuh Jessica dengan erat. Kedua tangannya meremat kedua dada istrinya dari belakang, lalu Juki terlihat mempercepat gerakannya dan tak lama kemudian dia nampak menggigit manja pundak jesicca dan memperdalam miliknya.
Saat itu Jesicca bisa merasakan jika miliknya terasa hangat dan basah, bahkan rasa hangat itu sampai membasahi kedua pahanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang." Juki melepaskan miliknya dan menggendong Jesicca ke kamar mandi.
Dia menyalakan shower dan segera mandi bersama dengan istrinya.
"Maaf, kalau aku--"
"Tidak apa-apa, aku paham." Jesicca menyelak ucapan Juki.
Jesicca terlihat melakukan ritual mandinya dengan cepat, begitupun dengan Juki, dia tidak mau berlama-lama lagi.
Dia takut jika Putri akan menangis dan meminta asinya, tiba di ruang keluarga ternyata Putri terlihat sedang anteng bermain dengan bu Sari.
Wanita paruh baya itu bahkan terlihat membelikan Putri mainan baru, lima buah boneka Barbie yang terlihat sangat cantik dan juga lucu.
"Bu!" sapa Jesicca.
Bu Sari yang terlihat sedang menunduk seraya membantu Putri mengambil boneka Barbie, langsung memalingkan wajahnya ke arah Jesicca.
Dia sempat memerhatikan penampilan Jesicca, bajunya terlihat sudah berganti. Bahkan rambutnya terlihat masih basah, bu Sari tersenyum.
Itu semua pasti karena ulah Juki, pikirnya. Dia sangat paham jika putranya sudah lama berpuasa, sudah dapat dipastikan jika putranya baru saja meminta haknya sebagai seorang suami.
"Duduklah di sini, Ibu akan membuatkan jus buah untuk kamu." Bu Sari menepuk ruang kosong di samping Putri.
"Ibu duduk saja, biar aku saja yang membuatkan jus buah untuk Ibu," jawab Jesicca.
"Tidak perlu, Ibu tahu kamu pasti capek karena oleh anak ibu. Sekarang duduklah," ucap Bu Sari dengan nada perintah.
Antara malu dan juga tidak enak hati, itulah yang Jesicca rasakan saat ini. Namun, dia juga tidak mungkin membantah apa yang diucapkan oleh mertuanya tersebut.
"Iya, Bu," jawab Jesicca pasrah.
Di lain tempat.
Yudha terlihat sedang senang sore ini, karena setelah memeriksakan dirinya ke Puskesmas ternyata keadaannya sudah sangat baik.
Penyakit yang dideritanya sudah sembuh walaupun tidak secara total, dokter berpesan kepada Yudha agar tidak melakukan hubungan seksualitas secara bebas.
Dokter juga berkata jika penyakit yang Yudha derita memang sudah sembuh, namun dokter masih harus melakukan pemeriksaan kembali takutnya masih ada virus yang berkembang.
Yudha benar-benar merasa jika keajaiban sedang menghampirinya, karena begitu banyak orang yang memiliki penyakit HIV tidak bisa sembuh sama sekali.
Mereka bisa hidup normal layaknya manusia lainnya, namun selama hidupnya mereka merasakan kesakitan fisik dan juga mental karena tidak ada kata sembuh total dari penyakit tersebut.
__ADS_1
Sebagai tanda syukurnya, Yudha bahkan membeli mainan dan juga makanan yang begitu banyak.
Kemudian, dia membagi-bagikannya kepada anak-anak Panti. Itu adalah cara bersyukur yang paling baik, pikir Yudha.
Anak-anak Panti tentu saja sangat senang, karena mendapatkan makanan dan juga mainan secara gratis.
Senyum di bibir Yudha semakin merekah, karena dia bisa membuat anak-anak kurang beruntung itu terlihat sangat bahagia.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih atas kesempatan kedua yang engkau berikan untukku, semoga saja aku bisa menjalani hidup ini dengan lebih baik lagi. Semoga saja kedua buah hatiku tidak malu memiliki Papa sepertiku," kata Yudha lirih.
Di kediaman Dinata.
Jonathan terlihat sedang kebingungan, baru saja dia pulang bekerja. Namun, dia merasa jika dirinya sangat ingin memakan buah Cermai.
Hal itu terjadi karena pada saat dia pulang bekerja, Larasati terlihat sedang menonton serial kartun Upin Ipin bersamandengan Satria.
Di dalam adegan film tersebut, salah satu tokoh dari pemain Upin Ipin sedang memakan buah Cermai.
Lidah Jonathan terasa langsung berliur, dia ingin sekali mencicipi buah yang terkenal asam tersebut. Namun, dia sangat bingung harus pergi kemana untuk mendapatkan buah tersebut.
"Pengen biah itu, Yang. Pengen banget," rengek Jonathan.
"Ish! Kamu tuh, mintanya jangan yang aneh-aneh. Di mana adanya buah kaya gitu?" keluh Larasati.
"Minta syama Mail, Dad. Dia jualan, dua singit," celetuk Satria.
Larasati dan Jonathan terlihat saling pandang, kemudian mereka menggelengkan kepalanya. Satria yang tidak paham hanya menggedikkan kedua bahunya, lalu dia kembali menonton serial kartun favoritnya.
''Yang, lidah aku tambah berliur. Pengen buah itu," rengek Jonathan.
"Sabar Mas Jo, Sayang. Aku search di bilibili dulu," kata Larasati.
Larasati terlihat mengambil ponselnya, tak lama kemudian dia terlihat mengutak-ngatik benda pipih tersebut.
"Aha!" kata Larasati.
"Ada, Yang?" tanya Jonathan.
BERSAMBUNG....
*
*
__ADS_1
Hayo, kira-kira Larasati bisa ngga, ya menemukan buah Cermai keinginan Babang Jo?
Tunggu jawabannya di bab selanjutnya, see you...