Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 100


__ADS_3

"Kalau begitu, aku udah boleh, kan?" tanya Mich.


Kinara langsung menolehkan wajahnya ke arah Mich, setelah Mich menanyakan hal itu kepada dirinya. Karena jujur saja Kinara tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Mich.


"Boleh apa?" tanya Kinara dengan dahi yang mengernyit dalam.


Mich kebingungan untuk menjelaskan kepada istrinya jika dirinya kini begitu menginginkan wanita cantik yang berada di hadapannya, dia malah mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Kamu tuh kenapa sih, Om? Kenapa malah aneh kayak gitu?" tanya Kinara.


Mich nyengir kuda, lalu dia mulai menjelaskan kepada istrinya dengan apa yang dia inginkan saat ini.


"Anu, Kinar. Aku mau kamu, maksud aku. Aku mau peluk kamu," ucap Mich asal.


Kinara langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Mich, padahal jika memang Mich ingin memeluk dirinya, pria itu tidak usah meminta izin kepada dirinya.


Dia sudah seratus persen halal untuk disentuh oleh pria itu, seharusnya Mich langsung memeluk dirinya tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Om ini aneh, sini peluk." Kinara langsung merentangkan kedua tangannya, Mich terkekeh dan langsung mengangkat tubuh gadis mungil itu lalu mendudukkannya di atas pangkuannya.


Kinara langsung memeluk suaminya, dia bahkan menyandarkan kepalanya pada pundak kekar suaminya. Mich mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih, lalu dia menunduk dan mengecup kening istrinya.


"Kamu cantik banget, Sayang. Tapi, gaun pengantin yang kamu pakai ribetin deh. Aku bantu bukain ya?" tawar Mich.


Kinara langsung melerai pelukannya saat mendengar tawaran dari Mich, justru sejak tadi dia memang ingin membuka gaun pengantin yang dia rasa membuat dirinya susah untuk bergerak.


"Bukain, Om. Ini bikin aku sesak napas," pinta Kinara.


Mich langsung melebarkan senyumannya, jika dia membantu Kinara untuk melepaskan gaun pengantinnya, itu artinya sebentar lagi dia bisa melihat tubuh polos istrinya.


"Baiklah, Sayang. Aku akan membantu kamu untuk membuka gaun pengantin ini," ucap Mich.


Setelah mengatakan hal itu, Mich langsung meminta Kinara untuk berdiri. Lalu, dia menurunkan resleting belakang gaun pengantin yang Kinara pakai. Setelahnya, dia meloloskan gaun pengantin itu dari tubuh mungil istrinya.


Mata Mich langsung membulat dengan sempurna ketika melihat tubuh istrinya yang begitu seksi di matanya, kulit tubuhnya terlihat begitu bersih tanpa cacat sedikit pun.


Menyadari Mich yang sedang menatap tubuhnya, Kinara langsung menutup dadanya dengan kedua tangannya. Lalu, gadis itu pun berkata.


"Om, jangan lihatin Kinar kaya gitu. Kinar malu, Kinar pake piyama tidur dulu ya?" izinnya pada Kinara.


Sontak Mich langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, justru Mich ingin melihat kepolosan tubuh istrinya. Bukan tertutup piyama tidur.


''Jangan! Justru Om mau kamu buka bra dan juga ini-nya," ucap Mich seraya menyentuh segitiga pengaman milik istrinya.


Kinara sontak langsung mengernyitkan dahinya dengan dalam, dia merasa aneh karena suaminya meminta dirinya untuk membuka sisa kain yang melekat pada tubuhnya.


Dia juga terlihat merapatkan kedua pahanya, karena rasa geli dan gelenyar aneh langsung terasa sampai ke ubun-ubun.


Kinara jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah suaminya itu ingin melihat dia masuk angin? Kenapa Mich malah melarang dirinya untuk memakai baju?


"Loh, kok gitu sih Om? Kalau akunya nggak pakai baju, nanti aku masuk angin loh." Kinara menatap Mich dengan tatapan penuh protes.

__ADS_1


Mich tersenyum mendengar penuturan dari istrinya, dia lupa jika istrinya itu benar-benar sangat polos. Kinara memang sangat nakal, tetapi dalam artian nakal yang sebenarnya.


Dia seperti anak kecil yang suka membuat orang tuanya kesal, tetapi jika untuk urusan ranjang istrinya itu tidak mengerti apa pun.


"Gini ya, Sayang. Kamu tuh nggak bakalan masuk angin, sini baring." Mich menepuk kasur yang sejak tadi dianggurin.


"Tapi, Om. Kinar pakai baju dulu ya, aku malu, Om." Kinara masih mencoba untuk bernegosiasi.


"Pake bajunya nanti aja, sekarang kamunya baring dulu di atas tempat tidur." Mich duduk di atas tepian tempat tidur, lalu dia kembali menepuk kasur empuk di atas ranjang pengantinnya.


Kinara menurut, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.


Mich tersenyum saat melihat Kinara begitu patuh merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Mich melakukan hal yang sama. Dia langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Lalu, dia menarik lembut Istrinya ke dalam pelukannya. Dia usap punggung Istrinya dengan begitu lembut, lalu dia menunduk dan mengecup kening Kinara dengan penuh kasih.


"Sekarang kamu adalah milikku, jadi... aku sudah berhak atas kamu. Aku mau kamu, Sayang. Boleh, kan?" tanya Mich.


Kinara mendongakkan kepalanya, lalu dia menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh pertanyaan. Dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Mich.


"Om, dari tadi kamu tuh bilang aku adalah milik kamu. Maksudnya apa sih? Jelasin sama Kinar, karena Kinar ngga paham," ucap Kinara seraya mengusap pipi Mich dengan lembut.


"Ya ampun, Kinara, Sayang. Jadi kita kan udah nikah nih, aku tuh mau--"


Mich langsung mendekatkan bibirnya ke arah cuping telinga istrinya, kemudian dia berbisik tepat di telinga istrinya tersebut.


Mata Kinara langsung membulat dengan sempurna setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Mich, gadis itu bahkan langsung memundurkan wajahnya seraya menatap wajah suaminya.


"Hem! Aku mau anu sama kamu," jawab Mich disertai senyum di bibirnya.


"Tapi, Om. Kinara masih kecil, masa udah anu-anu?" tanya Kinara gugup.


"Kita sudah sah menjadi suami istri, Sayang. Sudah sah juga buat anu-anu, aku udah ngga tahan. Dia mau masuk," ucap Mich seraya menarik lembut tangan Kinara untuk mengusap miliknya.


"Ya ampun! Apa itu, Om? Kok gede banget!" pekik Kinara seraya menarik tangannya dengan cepat.


Mich langsung tertawa melihat tingkah dari istrinya, inilah resikonya menikah dengan bocah. Namun, walaupun seperti itu dia benar-benar mencintai istrinya tersebut.


"Kamu tidak pernah belajar biologi, hem?" tanya Mich.


"Pernah, Om," jawab Kinara.


"Jadi, kamu pasti tahu itu apa, kan?"


"Tau, Om." Kinara berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya, dia hendak turun dari tempat tidur.


"Mau ke mana, hem?" tanya Mich.


"Anu, Om. Kinar mau mandi dulu, lengket soalnya." Kinara terlihat begitu gugup sekali, Mich sampai tersenyum jahil dibuatnya.


"Okeh! Kalau gitu aku mandiin," ucap Mich.

__ADS_1


Mich langsung menggendong tubuh istrinya, lalu dia membawa Kinara ke dalam kamar mandi. Kinara tentu saja langsung memberontak, dia benar-benar merasa takut. Terlebih lagi saat merasakan milik suaminya yang sangat besar.


"Jangan, Om! Jangan dimandiin, Kinar mau mandi sendiri aja. Jangan ya, Om." Kinara mengiba.


Mich malah tertawa, lalu dia merebahkan tubuh istrinya di atas bathtub. Lalu, dia mengguyur tubuh istrinya dengan air hangat.


"Om, jangan! Kinara mandi sendiri aja," ucap Kinara gugup.


Mich tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Kinara, setelah air di dalam bathtub penuh, Mich langsung melucuti pakaiannya. Kinara hanya mampu mengerjapkan matanya dengan tatapan aneh ketika melihat milik Mich yang berdiri dengan tegak.


Glek!


"I--itunya gede banget, Om. Jangan dimasukin ya, Om. Nanti ngga bakal muat," ucap Kinara mengiba.


"Aku mau mandi bareng sama kamu, memangnya siapa yang mau masuk?" goda Mich seraya masuk ke dalam bathtub dan memeluk Kinara dari belakang.


"Argh!" jerit Kinara kala merasakan milik Mich menempel pada bokongnya.


"Shuuut! Jangan berteriak, dia belum masuk." Mich langsung mengulurkan tangannya dan meremat kedua dada istrinya dengan lembut.


Kinara langsung menggigit bibir bawahnya, dia merasakan hal aneh yang luar biasa. Antara enak, geli dan juga seperti ada aliran listrik yang menyengat sampai ke inti tubuhnya.


Inti tubuhnya langsung berdenyut, dia seakan ingin dimasuki. Kinara merasa malu dengan apa yang dia rasakan saat ini, Mich tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi dari Kinara.


Melihat Kinara yang hanya diam saja seraya memejamkan matanya, Mich langsung mengecupi leher jenjang Istrinya. Hal itu membuat tubuh Kinara menggeliat kegelian.


"Om!" erang Kinara dengan tubuhnya yang terus saja menggeliat. Kinara sudah seperti cacing yang disiram dengan air garam.


"Kiss, Sayang. Om mau kiss," ucap Mich.


Mich langsung menyambar bibir Kinara dengan begitu lembut, bibir yang sangat dia rindukan dan ingin dia nikmati kembali.


"Engh!" lenguh Kinara di sela ciuman panas tapi lembut dari Mich itu.


"Kinar, Sayang. Aku udah ngga tahan, mandinya cepetan, Yang."


Kinara langsung menganggukkan kepalanya, dia setuju jika mereka harus mandi dengan cepat. Namun, tidak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Mich.


"Aku ngga mau udahan mandinya, Om. Nanti itunya mau masuk lagi, Kinar takut ah!" ucap Kinara seraya bergidik ngeri.


"Eh? Ini kalau udah masuk enak loh, ngga bakal sakit. Lagian punya aku ini pasti muat kok, jangan takut dong, Yang?" pinta Mich.


"Idih! Ngga baka muat, Om. Itunya gede banget, Kinar takut." Kinara menatap Mich dengan mengiba.


"Kamu tuh tega banget sama aku," keluh Mich.


Mich langsung bangun dan mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower, setelah selesai dia langsung meninggalkan istrinya sendirian di dalam kamar mandi.


"Apa dia marah?" tanya Kinara pada dirinya sendiri seraya menuangkan sampo ke atas kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2