Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Kebingungan Ridwan


__ADS_3

Pukul delapan pagi Ridwan sudah sampai di ruangannya, sebenarnya hari ini dia begitu enggan untuk bekerja.


Rasanya dia begitu malu jika dia harus bertemu dengan bu Airin, karena setelah kejadian kemarin siang membuat Ridwan merasa panas dingin.


Apa lagi saat membayangkan bentuk tubuh bu Airin yang nampak begitu menggoda, jangan lupa, Ridwan juga sempat melihat tubuh seksi bu Airin tanpa sehelai benang pun.


Hal itu tentu saja membuat dirinya benar-benar kalut, resah, merinding dan juga merasa sedikit menyesal karena sudah melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat.


Bahkan dia merasa bingung, harus bersikap seperti apa jika nanti dia bertemu dengan bu Airin.


Ridwan nampak duduk di kursi kerjanya, laptop di atas meja nampak menyala. Matanya memang tertuju kepada laptop tersebut, namun pikirannya menerawang jauh entah ke mana.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, Ridwan seakan tertarik kembali dari dunia lamunannya. Dia memalingkan wajahnya ke arah pintu, lalu dia pun berkata.


"Masuk! Pintunya ngga dikunci kok," kata Ridwan.


Seorang wanita cantik dan juga muda nampak mendorong pintu ruangan Ridwan, kemudian dia berkata.


"Maaf Pak Ridwan, ditunggu bu Airin di ruangannya," kata Angel, sekretaris dari Bu Airin.


Mendengar nama bu Airin disebutkan, tubuh Ridwan langsung meremang. Bahkan dia terlihat salah tingkah dan keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.


Angel nampak mengernyitkan dahinya kala melihat perubahan dari raut wajah Ridwan, dia jadi berpikir jika Ridwan sedang sakit.


"Maaf Pak Ridwan, anda kenapa? Apa anda sakit?" tanya Angle.


"Ah! Tidak, tidak sakit. Saya akan segera ke ruangan bu Airin, terima kasih atas informasinya," kata Ridwan.


Dengan cepat Angel tersenyum, lalu dia menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia berpamitan dari ruangan Ridwan.


Selepas kepergian Angel, Ridwan nampak bangun dan terlihat mondar-mandir tidak karuan.


Sesekali dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia mengusap dadanya dengan lembut. Dia berusaha untuk menenangkan hatinya.


Tak lama kemudian, dia terlihat menghirup udara dengan serakah dan kemudian mengeluarkannya dengan perlahan.


Ridwan benar-benar gugup saat ini, dia jadi bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah dia sanggup bertemu dengan bu Airin, Apakah dia sanggup bertatap mata dengan wanita matang itu?


Apakah dia sanggup berbicara dengan wanita yang kemarin siang sudah membuat dirinya merasakan hal yang tidak karuan?


Ridwan mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan bu Airin, setelah tiba di depan pintu dia terlihat mengetuk pintu ruangan bu Airin.


Setelah mendapatkan sahutan, Ridwan membuka pintu ruangan tersebut dengan ragu-ragu.


"Ibu memanggil saya?" tanya Ridwan dengan kepala yang menyembul di balik pintu yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Ya, masuklah!" kata Bu Airin dengan tatapan mata tetap tertuju pada layar laptopnya.


Ridwan nampak masuk dan berdiri tepat di hadapan Bu Airin, dia ragu untuk duduk atau harus tetap berdiri.


Bu Airin masih tetap saja menatap layar laptopnya, dia sedang memutar rekaman cctv yang ada di dalam apartemen miliknya.


"Duduklah!" kata Bu Airin.


"I--iya, Bu." Ridwan langsung duduk.


Bu Airin terlihat begitu fokus dengan apa yang dia lihat, tak lama kemudian wajahnya nampak memerah.


Ridwan hanya menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian, dia tidak berani untuk menatap wajah Bu Airin.


Berbeda dengan bu Airin, setelah selesai menonton rekaman cctv, dia terlihat ragu-ragu untuk menatap Ridwan.


"Ehm!"


Bu Airin nampak berdehem untuk menstabilkan perasaannya gugup dan malu yang kini dia rasakan.


Walau bagaimanapun juga, dia masih gadis. Walau memang pada kenyataannya dia sudah berumur.


"Kamu sudah punya pacar belum, Wan?" tanya Bu Airin.


"Hah? Pacar?" tanya Ridwan.


Dia merasa tidak menyangka jika dirinya dipanggil ke ruangan bu Airin hanya untuk ditanyakan soal pacar. Dia pikir, ada hal yang lebih penting yang akan dibahas oleh bu Airin terhadap dirinya.


"Tidak, Bu. Saya masih jomblo, memangnya kenapa?" tanya Ridwan.


Bukannya menjawab, bu Airin malah kembali mengajukan pertanyaan.


"Kamu masih punya orang tua?" tanya Bu Airin.


"Alhamdulillah, Bu. Emak sama Bapak masih sehat bener, memangnya kenapa?" tanya Ridwan.


Ridwan dibuat semakin bingung dengan pertanyaan yang terlontarkan dari mulut bu Airin, dia dipanggil ke ruangan bosnya namun tidak ada sedikit pun hal yang menyangkut pekerjaan.


"Kalian biasa berkumpul di rumah jam berapa?" tanya Bu Airin lagi.


Mendengar pertanyaan kali ini, Ridwan semakin bingung. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Sebenarnya ada apa sih, Bu? Kenapa Ibu bertanya terus tentang hal yang bukan pekerjaan?"


"Tolong jawab saja pertanyaan saya!" tegas Bu Airin.


Ridwan terlihat menghela napas berat, kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Lalu, dia berkata.

__ADS_1


"Setiap selepas maghrib kami akan berkumpul bersama di ruang keluarga, apa ada lagi yang akan anda tanyakan, Bu?"


Setelah mendapatkan jawaban dari Ridwan, Bu Airin nampak menatap Ridwan dengan lekat, kemudian dia berkata.


"Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih, karena kemarin kamu sudah menyelamatkan saya." Bu Airin terlihat menghela napas berat.


"Sama-sama, Bu," jawab Ridwan dengan wajah memerah kala mengingat kejadian kemarin siang.


"Nanti malam kamu jangan kemana-mana, kedua orang tua kamu juga jangan pergi kemana-mana dulu. Karena saya akan datang ke rumah kamu," kata Bu Airin.


"Untuk apa, Bu?" tanya Ridwan dengan cepat.


"Nanti juga kamu tahu, tolong tinggalkan alamat rumah kamu!" kata Bu Airin.


"Baiklah!" jawab Ridwan pasrah.


Setelah terjadi obrolan antara Ridwan dan bu Airin, Ridwan terlihat keluar dari ruangan bosnya tersebut. Tak lupa dia meninggalkan alamat rumahnya, lebih tepat alamat rumah orang tuanya.


Selama Ridwan bekerja, pikirannya tidak fokus. Selalu saja ucapan demi ucapan dari bibir bu Airin yang terlintas di otaknya.


Sejujurnya dia sangat bingung kenapa bu Airin meminta alamat rumahnya? Kenapa bu Airin ingin menemui dirinya dan juga kedua orang tuanya di rumahnya?


Resmi sekali, pikirnya. Padahal mereka hanya berstatus sebagai atasan dan juga bawahan, tidak lebih.


Mereka tidak sedekat dalam artian berhubungan anatara seorang wanita dan juga pria, kenapa harus bertemu dengan kedua orang tua Ridwan, pikirnya.


Setelah seharian bergelut dengan pikirannya, akhirnya waktu bekerja sudah selesai. Ridwan terlihat pulang ke rumahnya dengan menggunakan motor sport kesayangan.


Tiba di depan rumah, Ridwan langsung memarkirkan motornya. Lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Emak! Bapak! Ridwan pulang," sapa Ridwan.


Bu Sopia dan pak Lukman yang sedang duduk di atas sofa ruang keluarga langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah Ridwan.


"Udah pulang, Wan?" tanya Bu Sopia.


"Sudah, Bu. Tadi Ridwan dipanggil ke ruangan bu Bos, katanya entar malam abis maghrib dia mau kemari. Emak sama bapak jangan kemana-mana," kata Ridwan.


"Lah, mau ngapain bu Bos elu kemari. Emangnya elu punya salah apa?" tanya Pak Lukman.


"Kaga tahu, Pak. Dia cuma bilang kek gitu," jawab Ridwan.


Bu Sopia dan juga pak Lukman terlihat saling pandang, kemudian mereka berdua terlihat menggedikkan kedua bahunya.


*


*

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Selamat siang kesayangan, selamat beraktivitas. Hayo? Ada yang tahu nggak kira-kira bu Airin mau ngapain ke rumah Ridwan?


__ADS_2