
Baik Rachel ataupun Satria tidak mengerti kenapa mereka kini disuruh berkumpul bersama, bahkan terkesan sangat formal.
Dalam hati baik Satria ataupun Rachel mereka terus saja bertanya-tanya. Namun, tidak ada yang berani menebak-nebak.
Bu Airin tersenyum, kemudian dia mengelus pundak Rachel dengan lembut. Dia sangat paham dengan keingintahuan dari Rachel.
"Jadi begini, Sayang. Kemarin Bunda sudah berbicara dengan Ibu dari Satria, setelah melihat tingkah laku kamu terhadap Satria, Bunda dan juga Buna Laras memutuskan untuk menikahkan kalian," jelas Bu Airin.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bu Airin, baik Satria ataupun Rachel nampak terlonjak kaget. Mereka tidak menyangka jika Satria dan juga Rachel akan dinikahkan.
Ada rasa senang di hati Satria, ada juga rasa resah. Karena Rachel terlihat begitu menghindari dirinya. Begitupun dengan Rachel, ada rasa senang di dalam hatinya karena dia bisa menikah dengan sosok lelaki pujaan hatinya.
Namun, ada rasa takut yang menyeruak di dalam hatinya. Rasanya dia belum siap untuk menjadi seorang istri.
Namun, jika dia menolak dia takut Satria akan memilih wanita lain untuk dijadikan istri. Sungguh dia tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya dirinya jika Satria berdampingan dengan wanita lain.
"Bunda tidak bercanda, kan?" tanya Rachel.
"Tidak, Sayang. Bahkan Bunda juga sudah membicarakan hal ini kepada Ayah kamu, Papa Yudha dan juga Daddy Jo," kata Bu Airin.
Rachel terlihat mengedarkan pandangannya, dia menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut.
Terakhir dia menatap Satria, untuk sesaat pandangan mereka beradu. Satria terlihat tersenyum. Namun, Rachel dengan cepat memalingkan wajahnya.
Rona merah terlihat menghiasi wajah Rachel, semua yang ada di sana nampak menertawakan dirinya. Raja dan juga Rama bahkan terlihat ikut menertawakan saudara perempuannya tersebut.
Larasati yang melihat kelakuan dari Rachel merasa lucu, dia menatap Satria lalu mulai membuka suara.
"Jadi, bagaimana, Nak? Apa kamu mau menikah dengan Rachel?" tanya Larasati.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Larasati, binar bahagia langsung terpancar dari wajahnya. Tentu saja dia sangat ingin menikahi Rachel, wanita yang selalu membayang-bayangi dirinya.
Wanita yang selalu memuja dirinya, wanita yang sudah menjadi penghuni tetap di dalam hatinya. Wanita yang diam-diam dia cintai selama beberapa tahun ini.
"Mau, Buna. Mau banget," jawab Satria penuh semangat.
Yudha, Jonathan dan juga Ridwan langsung tertawa. Satria terlihat seolah sudah tidak sabar ingin menikahi Rachel.
__ADS_1
Berbeda dengan Rachel, dia nampak malu sekaligus kesal dengan apa yang dikatakan oleh Satria. Namun, tidak dipungkiri jika dia juga merasa sangat senang.
Setelah mendapatkan jawaban dari Satria, kini pandangan Larasati beralih kepada Rachel. Larasati mengajukan pertanyaan yang sama kepada calon menantunya tersebut.
"Nak Rachel, kamu mau, kan jadi menantunya Buna? Kamu mau, kan jadi istrinya Satria? Satria ngga galak kok!" kata Larasati.
Rachel tersenyum canggung ke arah Larasati, kemudian dia berkata.
"Tapi Buna, aku masih kuliah. Kuliah aku saja baru semester lima loh, apa ngga sebaiknya nunggu lulus kuliah dulu?" tanya Rachel.
Larasati tersenyum, kemudian dia kembali berkata.
"Tidak apa-apa, Nak. Menikahlah dulu, Satria pasti tidak akan membatasi kamu untuk melanjutkan pendidikan," kata Larasati.
Satria merasa senang sekali karena Larasati mengatakan hal itu, kemudian Satria menatap Rachel dan berkata.
"Ya, aku tidak akan membatasi kamu. Yang penting kamu tetap setia sama aku," kata Satria.
"Cieee, yang dilamar," celetuk Raja, kakak dari Rachel yang berjarak satu tahun saja.
"Tapi, Bunda. Aku tidak enak sama Kakak, masa aku yang duluan menikah," kata Rachel.
Raja tersenyum, kemudian dia berkata.
"Aku tidak masalah jika kamu mau melangkahiku untuk menikah, yang terpenting kamu memberikan uang pelangkah yang banyak kepadaku," kata Raja.
Rachel terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menatap Raja dengan sangit.
"Aku saja masih kuliah, hidupku masih dibiayai oleh ayah dan Bunda. Masa kamu minta uang yang banyak sama aku, aku uang dari mana, Kak?" tanya Rachel.
Raja tertawa, kemudian dia menunjuk Satria dengan ekor matannya. Rachel ikut menatap Satria, Satria tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
Satria seolah memberi isyarat, jika dia tidak masalah jika harus memberikan uang pelangkah kepada abang dari Rachel tersebut.
" Tuh, kan, calon suami kamu aja setuju," kata Raja.
"Dih! Abang mata duitan," kata Rachel.
__ADS_1
"Biarin aja, wleee," kata Raja Seraya menjulurkan lidahnya.
Rachel terlihat kesal sekali, kalau saja di sana tidak banyak orang, ingin sekali rasanya dia memeting leher abangnya tersebut. Namun, dia masih ingat jika dirinya kini berada di mana.
"Jadi, bagaimana ini. Kamu mau, kan menikah dengan putra dari Papa Yudha?" tanya Yudha.
Rachel terlihat menunduk malu seraya meremat kedua tangannya secara bergantian, kemudian dia berkata.
"Ya, aku mau menikah dengan Abang Satria," jawab Rachel.
Satria terlihat begitu senang, bahkan dia hendak memeluk Rahel yang berada tepat di sampingnya. Namun, dengan cepat Larasati menahan kedua tangan putranya.
"Belum halal, Sayang. Jangan macam-macam," kata Larasati.
"Eh? Iya maaf, Buna. Aku kelepasan," kata Satria.
Ridwan yang sedari tadi hanya diam saja kini angkat bicara, setelah melihat raut wajah dari Rachel dan juga Satria akhirnya dia memutuskan.
"Sebaiknya disegerakan saja acara pernikahannya, aku takut mereka berdua malah akan melakukan hal yang tidak terduga di belakang kita," kata Ridwan.
"Eh? Enak saja, aku tidak seperti itu Ayah," kata Rachel.
Dia merasa tidak terima jika ayahnya berkata seperti itu, Rachel merasa jika selama ini dia begitu pandai menjaga diri dari lelaki mana pun.
"Yang namanya sudah cinta apa pun bisa terjadi, jadi... lebih baik kalian segera menikah saja dulu," timpal Jonathan.
"Ya, aku setuju," jawab barasati.
"Aku juga setuju," kata bu Airin.
****
Terima kasih untuk dukungan kalian, karena komen positif dari kalian bisa membuat Othor bersemangat kembali.
Othor tidak tahu kenapa, tapi di karya Othor yang berjudul Tumbal Perawan pun banyak yang komen negatif. Terus ada beberapa yang ngasih rate 1, 2 dan 3, karya Othor langsung turun drastis.
Othor sampai meminta bantuan sesama Author dan beberapa redears untuk kasih rate bintang lima supaya naikin rate kembali.
__ADS_1