Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 14


__ADS_3

Kinara terlihat berjalan menuju kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya, dia merasa kesal, marah, sedih dan juga jijik secara bersamaan.


Dia juga merasa kecewa terhadap Jeremy, selama ini dia begitu mengagumi sosok Jeremy. Namun, semakin ke sini dia merasa semakin ilfil dengan perlakuan dari Jeremy terhadap dirinya.


Dengan mudahnya Jeremy mempertontonkan kemesraannya dengan wanita lain, dengan mudahnya Jeremy mengeluarkan kata-kata yang membuat hatinya berkali-kali sakit.


Dengan mudahnya juga Jeremy mengatakan jika dia ingin menjadikan dirinya sebagai pacar, sumpah demi ikan badut yang tersesat di dalam lautan lepas, Kinara tidak mau.


"Ishh! Dia itu menyebalkan sekali," kata Kinara seraya membuka helm dan melemparkannya ke atas tempat tidur.


Tanpa Kinara duga, helm milik Satria terlihat jatuh menggelinding ke lantai. Kinara langsung berlari dan mengambil helm tersebut, dia mengusap-ngusapnya dan menyimpannya dengan baik-baik di atas meja.


"Fyuh! Untung helmnya tidak rusak," kata Kinara seraya mengelus dadanya.


Kinara terlihat terus saja menggerutu seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sepertinya mandi dengan air dingin akan lebih menenangkan pikirannya.


Lagi pula dia belum shalat ashar, dia harus segera menjalankan kewajibannya terhadap Sang Khalik.


****


Di ruang tamu.


Larasati terlihat menghampiri Jeremy yang terlihat bergumam tidak senang atas kelakuan Kinara terhadap dirinya.


Jeremy yang melihat kedatangan Larasati langsung tersenyum, kemudian dia mulai bersuara.


"Sepertinya saya pulang saja, Tante. Maaf kalau kedatangan saya sudah mengganggu," kata Jeremy.


"Tidak apa-apa, justru tante yang minta maaf karena kelakuan Kinara yang kurang sopan. Dia memang masih kecil, usianya saja masih empat belas tahun. Jadi, sangat wajar jika dia berkelakuan seperti itu" kata Larasati.


Jeremy seakan mendapatkan dua kali kalimat yang membuat perasaannya tidak enak, dia terlihat tersenyum canggung.


" Iya, Tante. Saya paham, kalau begitu saya permisi," ucap Jeremy.


"Ya, silakan. Hati-hati," jawab Larasati.


Setelah berpamitan kepada Larasati, Jeremy terlihat melajukan motornya dengan sangat kencang. Tentu saja tujuannya saat ini bukan untuk pulang ke rumahnya.


Namun, dia ingin pergi ke tempat tongkrongan dirinya bersama dengan teman-temannya biasa menghabiskan waktu. Dia ingin melampiaskan kekesalannya di sana.


***


Malam telah menjelang, Kinara sudah terlihat berkumpul dengan Larasati, Jonathan dan juga Satria di ruang makan.

__ADS_1


Tidak ada pembicaraan apa pun di antara mereka berempat, mereka terlihat bersiap untuk melakukan makan malam, tanpa suara.


Apalagi saat ini Kinara masih sangat merasa kesal terhadap Jeremy, tentu saja dia yang biasanya terlihat cerewet dan juga ceria kini mendadak bungkam.


Satria tersenyum, kemudian dia menepuk pundak adik kesayangannya itu.


"De, kamu kenapa? Sariawan?" tanya Satria.


Mendengar pertanyaan dari abangnya, Kinara terlihat memelototkan matanya. Lalu dia berkata.


"Sariawan gundulmu!" seru Kinara.


Baik Larasati, Jonathan maupun Satria terlihat tertawa dengan terbahak-bahak dengan apa yang dikatakan oleh Kinara.


***


Acara makan malam telah usai, kini keluarga kecil itu sedang berkumpul di dalam ruang keluarga. Satria terlihat begitu asik dengan ponselnya, Larasati terlihat mengobrol santai bersama dengan Jonathan.


Berbeda dengan Kinara, dia terlihat cemberut sendirian. Lalu, anak itu terlihat menghampiri kedua orang tuanya dan duduk diantara Larasati dan juga Jonathan.


"Ada apa, hem? Kenapa putri Daddy terlihat begitu kesal?" tanya Jonathan yang tidak tahu apa yang terjadi antara Jeremy dan juga Kinara.


"Daddy!"


Jonathan langsung tertawa melihat tingkah putrinya, jika sudah seperti itu pasti Kinara sangat menginginkan sesuatu dan permintaannya itu harus segera dipenuhi.


Kalau tidak dituruti, dia akan cemberut sangat lama. Bahkan dia akan mogok makan di rumah. Namun, di luaran dia akan mencari makan di Restoran pavoritenya.


"Ada apa, hem?" tanya Jonathan.


"Daddy, Kinar pokoknya ngga mau tahu. Nanti kalau sudah lulus sekolah SMP, Kinar mau ngelanjutin sekolah ke Paris aja," kata Kinara.


"What?" tanya Satria, Larasati dan Jonathan secara bersamaan.


Mereka terlihat begitu kaget dengan apa yang diminta oleh Kinara, padahal Kinara adalah sosok anak yang manja.


Lalu bagaimana nasibnya jika dia berjauhan dengan keluarga dan saudaranya?


"Apa kamu tidak salah berucap, Sayang?" tanya Jonathan.


Kinara terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, tentu saja dia tidak salah berucap. Lebih baik dia pergi yang jauh sekalian, agar tidak bertemu dengan Jeremy lagi.


"No, Daddy," jawab Kinara.

__ADS_1


Jonathan dan juga Larasati terlihat menghembuskan napas berat, mereka benar-benar merasa keberatan jika harus melepas putri manjanya.


Bahkan untuk menempuh pendidikan sekalipun, karena rasanya mereka tidak akan sanggup berjauhan dengan Kinara.


"Tapi, Sayang. Kamu itu perempuan, Daddy tidak akan berani mengizinkan kamu pergi jauh," kata Jonathan.


Kinara melepaskan pelukannya dari Jonathan, kemudian dia berjalan menghampiri Satria. Kini Kinara terlihat tersenyum manis, lalu memeluk Abang kesayangannya tersebut.


"Siapa bilang aku sendirian Daddy? Nanti akan ada Abang yang menemani," jawab Kinara.


Tentu saja Satria terlihat begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Kinara, dia bahkan terlihat memundurkan wajahnya lalu memegang kening Kinara dengan punggung tangannya.


"Kamu nggak lagi ngigo, kan De? Kok permintaan kamu tinggi banget sih? Memangnya kamu bisa bahasa Inggris?" tanya Satria.


Setidaknya, walaupun Kinara tidak bisa berbahasa Prancis, namun dia harus bisa berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan warga di sana.


Itupun kalau Kinara memang benar-benar ingin meninggalkan Indonesia, pikirnya. Atau mungkin Kinara berbicara seperti itu karena masih merasa kecewa terhadap Jeremy.


"Nanti Kinar akan belajar," kata Kinara yakin.


"No," jawab Satria.


Menurut Satria akan lebih baik apa bila dia melanjutkan kuliahnya di negara A bersama dengan Mini dan juga Angga.


Walaupun mereka mempunyai tiga bocah kembar yang sangat nakal, tapi menurutnya itu lebih baik dari pada pergi ke Paris namun tidak ada saudara sama sekali di sana.


Kinar terlihat begitu kecewa mendengar jawaban dari Satria, Jonathan dan juga Larasati terlihat saling pandang kemudian mereka menatap Satria.


"Memangnya kenapa, Sayang? Kenapa kamu tidak mau ke Paris? Kamu tidak mau menjaga adik kamu?" tanya Jonathan.


"Bukan seperti itu, Daddy. Namun, kalau menurut aku. Lebih baik kita melanjutkan sekolah di negara A saja, di sana ada aunty Mini dan juga ayah Angga. Aku rasa kami akan lebih baik jika melanjutkan sekolah di sana," kata Satria.


"No!" jawab Kinara dengan lantang.


Tentu saja dia tidak mau direpotkan dengan ketiga anak dari Mini dan juga Angga, Larasati dan juga Jonathan langsung tergelak mendengar penolakan dari Kinara.


Mereka sangat tahu jika Kinara tidak menyukai ketiga sepupunya tersebut, karen dia selalu menganggap jika ketiga sepupunya itu selain nakal juga menyebalkan.


***


Masih berlanjut....


Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komentar.

__ADS_1


__ADS_2