
Sejatinya ikatan antara anak dan orang tua sangatlah kuat, walaupun Yudha sama sekali tak pernah memedulikan kelahiran Satria, namum anak itu kini bersikap begitu manis terhadap dirinya.
Bahkan Satria terlihat begitu merindukan dirinya, dia terlihat berceloteh ria. Sesekali dia mengecup pipi Yudha dan tertawa bersama.
Leana yang memang tidak menyukai anak-anak hanya terdiam sambil menikmati makanannya, sesekali dia memutar bola matanya.
Larasati dan Jonathan sudah selesai dengan acara makan malamnya, mereka pun langsung menghampiri Satria yang kini tengah duduk di pangkuan Yudha.
"Sayang, Buna mau pulang," ucap Larasati.
Satria lalu memalingkan wajahnya ke arah Larasati, lalu dia kembali menatap wajah Yudha.
"Sebental, Buna. Aku mau pamitan dulu sama Papa," kata Satria.
Mendengar ucapan Satria, Jonathan dan Larasati saling pandang. Kemudian, Jonathan terlihat menggedikkan kedua bahunya.
Satria terlihat mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Yudha, kemudian dia mengecupi setiap inci wajah Yudha.
Lalu, dia pun memeluk Yudha dengan erat. Satria nampak melerai pelukannya, kemudian dia berbisik di telinga Yudha.
"Papa jangan tellalu dekat sama wanita yang ada di sebelang meja Papa," kata Satria.
Mendengar ucapan putranya, dia melirik kearah Leana yang terlihat begitu asyik menyantap makanannya.
Dia seolah tak memedulikan keberadaannya, Satria dan juga Jonathan serta Larasati.
"Memangnya kenapa?" Bisik Yudha.
"Tantenya, jahat. Dia engga syopan, ada olang lain tapi acuh aja. Tantenya kaya ngga pelnah syekolah," kata Satria.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Satria, Yudha terlihat tertawa. Sebenarnya dalam hati dia mengakui, jika Leana terlihat begitu acuh terhadap Satria.
Padahal Yudha sudah memperkenalkan Satria sebagai putranya dari istri pertamanya, namun Leana begitu acuh dan tak peduli.
"Papa malah tertawa aku kesyel sama, Papa. Daddy Jo, gendong!"
Dengan manjanya Satria mengulurkan kedua tangannya, Jonathan tersenyum lalu dengan senang hati dia langsung menggendong Satria.
Satria terlihat menguap beberapa kali, rupanya anak itu sudah sangat mengantuk. Dia memeluk dan menyandarkan kepalanya di pundak Jonathan, tak lama kemudian dia nampak memejamkan matanya.
"Bro, gue pamit pulang duluan. Sudah malam," kata Jonathan.
"Ya, terima kasih sudah baik terhadap Satria," kata Yudha.
Mendengar ucapan Satria, Jonathan terlihat tersenyum. Lalu, dia menepuk pelan pundak Yudha.
"Gue tulus menyayangi Rara dan juga Satria," jawab Jonathan.
"Hem," jawab Yudha.
Tanpa Jonathan berkata apa pun, sebenarnya Yudha sudah sangat tahu jika Jonathan begitu tulus mencintai Larasati dan menyayangi putranya Satria.
__ADS_1
"Aku pulang duluan, Mas," pamit Larasati.
Sebenarnya Larasati ingin sekali melayangkan protesnya, dia merasa sangat kesal karena Yudha malah terlihat pergi bersama dengan wanita lain.
Padahal Jessica sedang membutuhkan support dari dirinya, Larasati sempat bertemu dengan bi Minah kala dia sedang berbelanja di pasar.
Bi Minah menceritakan semuanya kepada Larasati, tentu saja dia merasa geram. Karena ternyata Yudha tidak berubah juga, masih saja suka tergoda dengan pemandangan luar yang menipu.
"Ya," jawab Yudha.
Tangan kiri Jonathan terlihat menggendong Satria dengan penuh kasih, lalu tangan kanannya terlihat menggenggam tangan Larasati.
Mereka terlihat keluar dari Resto tersebut, Yudha hanya bisa menatap kepergian Larasati dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.
Tiba di parkiran, Jonathan terlihat melepas genggaman tangan Larasati. Kemudian, dia pun membukakan pintu untuk Larasati.
Larasati tersenyum, lalu dia segera masuk dan duduk di samping kemudi.
"Terima kasih," kata Larasati.
Jonathan nampak tersenyum. "Sama-sama," katanya.
Setelah itu, Jonathan pun menurunkan Satria yang ternyata sudah terlelap dari gendongannya, kemudian dia mendudukkan Satria di atas pangkuan Larasati.
Larasati langsung mendekap tubuh mungil putranya, lalu mengelus lembut puncak kepalanya.
Setelah memastikan Larasati dan Satria duduk dengan nyaman, Jonathan menutup pintunya. Kemudian, dia setengah berlari untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Untuk sesaat Jonathan nampak terdiam, Larasati pun terlihat bingung dibuatnya. Tak lama kemudian, Jonathan pun mengeluarkan suaranya.
Mendengar pertanyaan dari Jonathan, Larasati sebenarnya ingin sekali tertawa. Namun, dia takut jika Jonathan akan tersinggung.
"Jo, kalau aku masih mencintai Mas Yudha. Aku tidak akan mengambil semua aset aku dari dia, tapi aku akan mengambil kembali lelaki tukang selingkuh itu kedalam pelukanku," kata Larasati.
"Ah, kamu benar." Jonathan terlihat lega.
"Lalu, bagaimana perasaan kamu sama aku?" tanya Jonathan.
"Bagaimana, ya?"
Bukannya menjawab, Larasati malah kembali bertanya. Hal itu membuat Jonathan sedikit kesal, namum dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu nyebelin!" ketus Jonathan.
Jonathan terlihat memalingkan wajahnya ke arah jendela, Larasati terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa. Dia tidak menyangka, jika Jonathan akan marah kepadanya.
"Jo!" Larasati mengusap lembut tangan Jonathan.
"Hem," jawab Jonathan tanpa menoleh ke arah Larasati.
"Jo..." panggil Larasati manja.
__ADS_1
Jonathan benar-benar tak tahan saat mendengar suara manja Larasati, dia langsung memalingkan wajahnya dan menatap Larasati dengan lekat.
"Apa?" tanya Jonathan.
"Aku--aku..." Larasati terlihat menggigit bibir bawahnya, dia bingung harus berkata apa.
Sudah hampir tiga minggu mereka bersama, tentu saja sikap manis Jonathan membuat Larasati dengan mudahnya bisa menerima lelaki tampan itu.
Melihat Larasati yang terlihat salah tingkah, Jonathan pun langsung tersenyum. Kemudian, dia pun mendekatkan wakahnya ke arah Larasati.
"Apa kamu sudah mulai menyukaiku?" tanya Jonathan.
"Hem," jawab Larasati seraya menganggukkan kepalanya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Larasati, Jonathan terlihat senang bukan main. Jika saja tak ada Satria yang sedang tertidur di pangkuan Larasati, dia pasti akan mengangkat tubuh Larasati ke atas pangkuannya.
Lalu, dia akan memeluk dan mencium bibir ranum Larasati.
"Ya Tuhan, aku senang sekali. Kalau kamu sudah mulai suka sama aku, boleh dong aku kiss kamu... lagi?" tanya Jonathan seraya menaik turunkan alisnya.
"No, nanti saja," jawab Larasati.
"Ck! Hanya cium, masa kalah sama anak SD. Mereka aja udah cium-ciuman," ucap Jonathan penuh protes.
"Mana ada yang seperti itu!? Kamu ngaco," kata Larasati.
"Ra, Please. Satu kecupan saja, biar aku pules bobonya," rayu Jonathan.
"Ya ampun," keluh Larasati.
"Please, Ra." Wajah Jonathan terlihat begitu memelas.
Beruntung kini Satria telah tertidur di dalam pangkuannya, kalau tidak, sudah dapat dipastikan jika dia akan memukul dan memelototi lelaki yang begitu mencintainya itu.
"Baiklah, satu kecupan saja," kata Larasati.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Larasati, Jonathan pun langsung menautkan bibirnya ke bibir Larasati.
Ucapannya tak sesuai dengan apa yang dia lakukan, karena tautan bibirnya tak kunjung Jonathan lepaskan.
Bahkan setelah Larasati mendorong dada Jonathan pun, dia seolah tak perduli. Dia mencium Larasati dengan lembut dan penuh cinta.
"Jo!" protes Larasati, suaranya terdengar pelan namun penuh penekanan.
"Sorry, Ra. Abisan bibir kamu manis banget," ucap Jonathan beralasan.
"Jo! Jangan bercanda!" ketus Larasati.
"No, aku tidak bercanda. Kita nikah besok yu, kayaknya aku udah ngga kuat," ajak Jonathan.
Larasati nampak memelototkan matanya, Jonathan nampak tertawa.
__ADS_1
"Maaf, kalau belum satu bulan belum boleh nikah, ya?" ucap Jonathan seraya menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.
Sebenarnya Larasati ingin sekali menertawakan tingkah Jonathan, namun dia menutup mulutnya dengan rapat agar tidak kelepasan.