Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 71


__ADS_3

"Lebih tepatnya, aku sering berdiam diri di sini untuk merenung. Seperti saat ini, di saat kamu datang di dalam hidupku dan menjanjikan semua kebahagiaan untukku, aku merenungkannya di sini," kata Putri.


"Kenapa harus di renungi? Apakah kamu merasa tidak yakin dengan diriku ini? Apakah kamu tidak bisa melihat betapa besarnya kesungguhanku sama kamu, hem?" tanya Reon.


"Bukannya seperti itu, hanya saja aku sebagai wanita selalu banyak pertimbangan. Bahkan, aku juga sudah melakukan shalat istikharah. Dan--"


Mendengar Putri yang tidak meneruskan ucapannya, Reon terlihat begitu penasaran. Dia langsung menatap lekat Putri, lalu dia bertanya kepada calon istrinya tersebut.


"Lalu, apa jawaban dari shalat istikharah yang kamu sudah lakukan?" tanya Reon.


Reon menatap Putri dengan harap-harap cemas, dia takut jika jawaban dari Putri tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


"Satu minggu ini aku selalu melakukannya, dan Tuhan selalu saja menghadirkan wajah kamu di dalam setiap mimpiku," jawab Putri malu-malu.


Wajah Reon terlihat berbinar ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Putri, dia benar-benar merasa bahagia dengan apa yang terlontar dari mulut Putri.


"Benarkah? Jadi itu artinya kamu sudah yakin memilihku untuk menjadi suami kamu?" tanya Reon.


Sungguh Reon merasa sangat bahagia sekali dengan apa yang dikatakan oleh Putri, Reon berharap keputusan Putri tidak berubah sampai di mana hari mereka akan menikah nanti.


Sungguh Reon juga berharap semoga pernikahannya dengan Putri adalah yang pertama dan juga yang terakhir, tidak akan ada kata perceraian


"Sangat yakin!" jawab Putri.


"Oh, Tuhan. Aku sangat bahagia," kata Reon.

__ADS_1


Reon terlihat hendak memeluk Putri, tapi dengan cepat Putri mendorong dada bidang Reon. Terlihat ada kekecewaan di wajah Reon, dia tersenyum lalu berkata.


"Kamu pria yang baik, pasti kamu akan bisa menjaga aku. Kamu tidak akan pernah menyentuhku jika kita belum halal," kata Putri.


Reon terlihat menunduk malu dengan apa yang dikatakan oleh Putri, seharusnya dia memang menjadi pria yang melindungi Putri, bukan merusak Putri dengan mengajaknya berpelukan, ciuman atau bahkan dengan melakukan hubungan suami istri sebelum menikah.


"Maaf, kalau selama ini aku selalu tidak sabar. Hanya saja setiap aku melihat wajah kamu, apalagi bibir mungil kamu. Aku selalu tergoda, aku mau mencicipinya," jelas Reon.


Putri tidak marah mendengar apa yang dikatakan oleh Reon, justru dia tersenyum hangat ke arah lelaki yang terlihat begitu mencintainya itu.


"Sekarang aku mau tanya sama Mas," kata Putri.


"Tanya apa, tanyakan saja!" kata Reon.


"Aku mau sepuasnya," jawab Reon menggebu.


Putri tertawa melihat bagaimana cara Reon menjawab pertanyaan dari dirinya, Reon terlihat seperti anak kecil yang begitu bahagia kala permintaannya akan segera dituruti.


"Kalau begitu bersabarlah, karena tidak akan lama lagi kita akan menikah. Mas boleh melakukan apa pun yang Mas mau, jika aku sudah menjadi milik kamu, Mas." Putri tersenyum manis.


Awalnya Putri memang tidak ingin menerima Reon sebagai calon suaminya, apalagi Putri merasa belum kenal dengan pria yang berstatus sebagai atasannya tersebut.


Akan tetapi, setelah dia melihat kesungguhan dari Reon dan bagaimana cara Reon bersikap, hati Putri mulai tergerak.


Terlebih lagi setelah dia melakukan shalat istikharah selama satu minggu, setiap malamnya selalu saja wajah Reon yang datang di dalam mimpinya.

__ADS_1


Itu artinya, Tuhan telah menunjukkan kepada Putri jika Reon adalah jodoh untuk dirinya. Putri percaya akan hal itu, karena itu tidak terjadi dalam satu kali saja.


"Mas jadi semakin cinta sama kamu, Mas mau ngiket kamu biar kamu ngga ngelirik cowok mana pun," kata Reon. Putri terlihat mengerucutkan bibirnya seraya menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ngga mau!" jawab Putri cepat.


"Harus mau," kata Reon tidak mau kalah.


"Apaan sih kok pemaksaan banget?" kata Putri kesal.


Reon tertawa, kemudian dia merogoh saku celananya. Lalu, dia memberikan kotak bening berukuran sangat kecil kepada Putri.


Karena kotak tersebut berwarna bening, Putri bisa melihat jika isi dari kotak kecil tersebut merupakan cincin putih yang terlihat begitu indah sekali.


"Apa ini?" tanya Putri.


"Cincin pengikat, dengan kamj memakai cincin ini, artinya kamu hanya milik aku. Kamu ngga boleh nerima pria mana pun untuk dijadikan sebagai calon suami," kata Reon.


Putri langsung tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Reon, dia terlihat mengangguk lalu mengulurkan tangan kirinya seraya menggerak-gerakan jari manisnya.


Reon langsung tertawa melihat tingkah dari Putri, lalu dia membuka kotak bening tersebut dan mengambil isinya. Lalu, dia memasangkan cincin putih itu di jari manis Putri.


***


Selamat malam Bestie, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, maaf ngga bisa up terus. Othor terlalu sibuk di real life, sayang kalean semua.

__ADS_1


__ADS_2