Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Di Luar Dugaan


__ADS_3

Yudha melajukan mobilnya dengan cepat, dia benar-benar tak sabar ingin segera pergi menuju rumah Larasati.


Dia benar-benar tak sabar ingin segera bertemu dengan Larasati, dia juga sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan anak lelaki yang terlihat begitu tampan dan juga menggemaskan.


Anak laki-laki yang terlihat begitu mirip dengan Larasati, dia benar-benar tak sabar ingin segera mendapatkan penjelasan dari Larasati.


Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah benar Larasati adalah sosok wanita yang pernah dia cintai dan dia buang dengan sia-sia?


Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya, hatinya gundah, hatinya merasa resah.


Perasaannya bercampur aduk menjadi satu, dia bingung apa yang dia rasakan saat ini. Namun satu hal yang dia tahu, dia harus mendapatkan segera penjelasan dari Larasati.


Tiba di depan perumahan yang Larasati tempati, Yudha langsung menepikan mobilnya. Untuk sejenak dia terdiam, dia menimbang-nimbang apa yang seharusnya dia lakukan.


Setelah lama berpikir, akhirnya Yudha pun mengambil ponselnya dan dia mengetikkan pesan kepada Larasati.


"Baby, Mas ingin bertemu." Tangan Yudha dengan lincah mengetik pesan tersebut.


Untuk sesaat dia menunggu balasan dari pesan tersebut, dan tak lama kemudian satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Yudha pun langsung tersenyum karena itu merupakan balasan pesan dari Larasati.


"Datanglah, Mas. Aku menunggu," jawaban dari Larasati.


"Aku akan pastikan semuanya," kata Yudha.


Yudha lalu melajukan mobilnya menuju rumah Larasati, tentu saja sebelumnya dia mengucapkan kata permisi kepada security yang berjaga di sana.


Tanpa banyak bicara security tersebut langsung mengizinkan Yudha untuk masuk, sepertinya Larasati memang sudah memberitahukan kepada security tersebut untuk mengizinkan Yudha masuk.


Tiba di depan rumah Larasati, Yudha langsung memarkirkan mobilnya. Dia turun dengan tergesa dan langsung mengetuk pintu rumah Larasati.


Tak perlu menunggu lama, pintu nampak terbuka. Sosok Larasati pun kini sedang berdiri tepat di hadapannya, wanita yang masih mengenakan baju yang sama saat tadi dia lihat di Bandara.


Namun, tanpa riasan make up sama sekali, Yudha pun bisa langsung mengenali jika wanita yang di kini berada hadapannya benar-benar wanita yang pernah dia sakiti dan dia usir dari rumahnya sendiri.


Yudha seakan tak bisa berkata apa pun, dia hanya bisa berdiri sambil menatap wajah wanita yang kini terlihat menatapnya dengan tatapan wajah datar dan dingin.


"Ada perlu apa, Mas?" tanya Larasati.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Larasati, Yudha pun langsung tersentak kaget. Dia seakan tersadar dari pikirannya yang sedang melanglang buana entah ke mana.


"Bi--bisa kita bicara?" tanya Yudha gugup.


"Bisa," ucap Larasati.


Larasati terlihat membukakan pintunya dengan lebar, lalu dia berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumahnya.


Yudha langsung mengekori langkah wanita yang dulu begitu dia cinta dan dia puja, namum cintanya seakan runtuh kala mengenal Jesicca, wanita yang lebih muda dari Larasati dan selalu bersikap agresif di atas ranjang.


Selain itu Yudha juga dia tergoda oleh kemolekan tubuh milik Jesicca, tanpa dia sadari jika saat pertama bertemu dengan Larasati pun tubuhnya sangat indah.


Hanya saja tubuh Larasati berubah karena dia mengandung putranya, dia berjuang untuk mempertahankan kehamilannya. Buah hati yang dulu mereka sangat inginkan, buah cinta mereka.


"Duduklah, Mas." Yudha menurut dia pun duduk tepat di hadapan Larasati.


Untuk sesaat, Yudha memberanikan diri menatap wajah Larasati yang sudah sangat lama dia tak lihat.


Tatapan matanya berubah menjadi sendu, entah apa yang dia rasakan saat ini, namun yang pasti ada rasa penyesalan di dalam hatinya.


"Mas, mau bicara apa? Kenapa dari tadi hanya diam saja?" ucap Larasati membuka percakapan.


"I--itu, anu. Kamu apa kabar?" tanya Yudha.


Yudha benar-benar tidak tahu harus bicara apa, karena saat melihat sorot mata Larasati yang tajam dan seakan mengintimidasi dirinya, dia benar-benar bingung harus berucap apa.


Padahal saat di perjalanan menuju rumah Larasati, dia begitu emosional dan ingin segera menanyakan kepada Larasati tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Apa yang sebenarnya Larasati lakukan terhadap dirinya? Dan satu hal lagi yang ingin dia tanyakan, kenapa Larasati datang dengan penampilan yang lain di hadapannya?


"Aku baik, Mas. Apa ada lagi yang ingin Mas tanyakan?" tanya Larasati.


Yudha menatap wajah Larasati dengan lekat, entah kenapa dia merasa jika bibirnya menjadi kelu. Dia merasa susah sekali untuk berucap, ingin bertanya kepada Larasati pun seakan sulit.


"Aku--"


"Buna!"

__ADS_1


Seorang balita yang terlihat sangat tampan dan juga menggemaskan tiba-tiba saja berlari dan langsung menubrukan tubuhnya ke arah Larasati.


Dengan senang hati Larasati menyambut balita menggemaskan tersebut, lalu dia mengangkat tubuh mungil baliita tersebut dan mengecupi setiap inci wajahnya.


Melihat pemandangan seperti itu, membuat Yudha tidak bisa berkata apa pun. Tak lama muncul Bi Minah yang berjalan dengan tergesa.


"Maaf, Laras. Satria--"


"Tidak apa, Bi. Aku mengerti, Satria pasti begitu merindukanku. Aku pun sama," ucap Larasati seraya tersenyum hangat.


"Ya sudah, kalau begitu Bibi pamit ke dalam," ucap Bi Narti.


"Ya, beristirahat lagi. Biar Satria aku yang menjaga," ucap Larasati.


Bi Narti terlihat menganggukkan kepalanya, lalu dia pun segera masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh Larasati.


Setelah kepergian Bi Narti, Satria terlihat memeluk Larasati dengan erat sekali. Terlihat sekali jika anak itu begitu rindu terhadap Bundanya, bahkan Satria tah hentinya mengecupi pipi Larasati.


"Aku kangen, Buna." Satria terlihat mendekap Larasati dengan erat, seolah dia takut kehilangan lagi Bundanya.


Yudha yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis, entahlah kenapa dia jadi bingung sendiri. Kenapa dia jadi tidak bisa marah melihat pemandangan seperti ini.


Seharusnya dia marah dan meluapkan emosinya karena Larasati telah menipunya, wanita yang dia usir dengan secara tidak hormat itu kini kembali dengan penampilan yang lebih baik dan bahkan langsung menipu dirinya.


Bukankah dia seharusnya marah dan benci?


"Bicaralah, Mas! Aku ingin menghabiskan wakru bersama dengan putraku, aku merindukannya," kata Larasati.


"Apa dia--"


"Ya, dia anakmu, Mas." Larasati berucap dengan tatapan matanya yang tegas.


Melihat tatapan dari Larasati, membuat nyali Yudha menciut. Dia terlihat menunduk sambil mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin.


"Sebenarnya Mas kesini mau apa sih? Kenapa dari tadi terlihat seperti orang bingung begitu?"


Larasati bertanya dengan raut wajah tegas, namun dalam hatinya dia menertawakan Yudha. Dia sangat tahu jika lelaki yang berada di hadapannya itu adalah lelaki yang sangat plin-plan.

__ADS_1


__ADS_2