
Hari masih terlihat gelap, namun mata Jonathan terlihat sudah terbuka. Dia merasa sangat senang karena di sampingnya ada wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Larasati terlihat masih kelelahan, berbeda dengan dirinya yang merasa segar dan juga terlihat ceria.
Jonathan memiringkan wajahnya, lalu dia menatap wajah cantik istrinya. Dia tersenyum kala melihat wajah Larasati yang tertutup oleh rambutnya, dia usap dan dia kecup pipi istrinya.
"Kamu cantik banget, Yang. Padahal belum mandi, rambutnya acak-acakan. Tapi manis banget kelihatannya, jadi makin cinta." Kembali Jonathan mengecup pipi istrinya.
Sebenarnya dia ingin sekali membangunkan istrinya dan mengajaknya untuk kembali memadu kasih, namun dia merasa tidak tegak pada istrinya tersebut.
Jonathan melirik jam digital yang berada di atas nakas, waktu menunjukkan pukul empat pagi. Dia bangun lalu duduk di tepian ranjang.
"Lebih baik aku mandi saja, karena sebentar lagi waktu subuh tiba," kata Jonathan.
Jonathan terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tanpa memakai apa pun, dia pikir hanya ada Larasati saja di sana, itu pun dalam keadaan tidur.
Tanpa sepengetahuan Jonathan, Larasati sudah terbangun. Dia sengaja berpura-pura tidur, karena dia takut jika Jonathan akan kembali mengajak dirinya untuk bercinta.
Bukan karena tidak mau berbakti kepada suami, hanya saja badannya terasa sakit semua. Karena Jonathan mampu bermain dalam durasi yang lama, tak seperti sang mantan yang selalu tumbang dalam dua sampai tiga puluh menit saja.
Bahkan Jonathan mengajak Larasati untuk mencoba berbagai gaya, membuat dirinya ingin tertawa. Karena walaupun begitu, kelakuan Jonathan tetap terlihat sangat amatiran.
"Ck! Sebenarnya dia makan apa? Kenapa miliknya bisa besar seperti itu? Bahkan dia bisa bermain dengan sangat lama?" tanya Larasati lirih.
"Sudah bangun, Yang?" tanya Jonathan yang ternyata sudah keluar dari dalam kamar mandi.
"Eh?"
Larasati terlihat kaget sekali, dia bahkan sampai menarik selimutnya sampai sebatas leher. Dia takut Jonathan akan menerkamnya kembali, karena kini Jonathan hanya memakai handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Melihat kelakuan Larasati, Jonathan langsung terkekeh. Kemudian dia mengambil handuk dan melemparkannya ke arah Larasati.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku masih tahu waktu. Sekarang sudah mau subuh, cepat mandi! Kita shalat berjamaah, nanti kalau sudah shalat baru aku akan menerkam kamu, tapi jika sekarang kamu mau, aku--"
Jonathan terlihat menatap Larasati dengan tatapan nakalnya, dia seakan ingin menggoda istrinya tersebut.
Larasati langsung mengambil handuk yang dilemparkan oleh Jonathan, lalu dia berlari ke kamar mandi seraya memakai handuk tersebut.
"Kenapa dia lucu sekali?" gumam Jonathan.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan langsung mengambil baju koko lengkap dengan sarungnya. Kemudian dia memakainya.
Setelah itu, dia menyiapkan mukena untuk istrinya. Agar bisa cepat dalam melaksanakan shalat subuhnya.
*/*
Pukul tujuh pagi Larasati dan Jonathan nampak berjalan beriringan menuju Resto yang ada di hotel tersebut, mereka akan melaksanakan ritual sarapannya.
Sebenarnya Jonathan sangat ingin meminta jatahnya kembali setelah selesai shalat subuh, sayangnya sang istri tidak bersedia.
Dia takut jika Jonathan akan mengajaknya bercinta dengan durasi yang lama, sedangkan di hotel itu masih ada keluarga Jonathan dan juga keluarga dirinya.
Tentu saja Larasati tidak ingin menjadi bahan bercandaan dua keluarga besar itu, pikirnya.
"Buna!" teriak Satria saat melihat Larasati mendekat ke arahnya.
"Sayang!" Larasati langsung menggendong putra tampannya, lalu dia mengecup kening putranya dengan penuh kasih.
"Aku kangen, Buna kemana? Kenapa ngga bobo syama aku, aku jadinya bobo syama Nenek Nalti," Adu Satria.
Mendengar penuturan putranya, Larasati nampak tersenyum. Dia mengelus lembut puncak kepala putranya, kemudian dia pun berkata
"Ah... Buna, benel. Aku syudah besyal, aku ngga boleh cengeng. Aku mau punya Ade, jadi... aku ngga boleh bobo syama Buna lagi, Buna halus bobo syama Daddy Jo. Bial cepet jadi deh Dedeny," kata Satria.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Satria, Larasati nampak membuatkan matanya dengan sempurna. Tahu dari mana pikirnya tentang jika Larasati harus tidur bersama dengan Jonathan agar punya Ade lagi.
"Kata siapa, Sayang?" tanya Larasati.
"Kata Opa," Jawab Satria.
Semua orang yang ada di sana nampak tergelak mendengar apa yang diucapkan oleh Satria, balita itu memang benar-benar menggemaskan dan pandai membuat suasana lebih ceria.
Berbeda dengan Larasati yang nampak memelototkan matanya kepada tuan Elias, namun tuan Elias malah tertawa lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sudah-sudah, aku tahu kalian sangat cape. Untuk mengisi energi lebih baik kalian cepat sarapan," kata Tuan Keanu.
"Daddy!" seru Larasati dengan nada penuh protes.
Jonathan nampak terkekeh, kemudian dia merangkul kedua pundak Larasati dan menuntun istrinya untuk segera duduk, karena memang dirinya pun sudah sangat lapar.
__ADS_1
Acara sarapan pagi pun berlanjut, canda tawa pun terus saja terjadi di acara sarapan pagi mereka.
Keceriaan dan kebahagiaan terpancar di setiap wajah yang hadir di pagi itu, apa lagi Jonathan yang terlihat begitu bahagia.
Berbeda dengan Larasati yang terlihat malu sekaligus kesal, karena dia selalu saja jadi bahan ledekan dua keluarga besar itu.
Setelah sarapan selesai, Larasati memutuskan untuk kembali ke kamar pengantinnya. Karena Jonathan terus saja merayunya untuk kembali melakukan adegan icikiwir yang sudah sangat dia inginkan.
Lalu bagaimana dengan Satria?
Anak itu meminta kepada tuan Elias agar membawanya jalan-jalan ke taman hiburan, tentu saja tuan Elias tidak keberatan.
Justru dia sangat senang, karena bisa meluangkan waktu untuk pergi bersama dengan cucu kesayangannya.
Berbeda dengan Mini, dia terlihat berpamitan untuk segera pergi. Karena ada hal yang harus dia lakukan, beruntung om Hendry dan tante Resty menyetujui.
*/*
Di Lain tempat.
Angga sedang sarapan, hanya sebuah sandwich yang menjadi menu sarapannya pagi ini bersama dengan segelas susu.
Selepas sarapan, dia segara pergi menuju Cafe. Sepanjang perjalanan menuju Cafe dia hanya diam saja, karena memang tak ada teman bicara untuknya saat ini.
Tiba di Cafe, dia langsung memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam Cafe. Dia segera memakai celemek dan bersiap untuk membuat kue di dapur.
Satu jam, dua jam, sampai tiga jam berlalu. Angga telah selesai dengan pekerjaannya, dia duduk dan terlihat menghela napas berat.
"Kemana dia? Kenapa belum datang? Biasanya dia sudah datang dan meramaikan suasana dapur," kata Angga lirih.
Angga merogoh saku celananya, dia mengambil ponselnya dan menatap ponselnya dengan lekat.
"Ck! Biasanya ada saja pesan yang tidak penting yang dia kirimkan, sekarang... ponsel saja bahkan sangat sepi, Ibu juga. Kenapa betah sekali di sana?" keluh Angga.
Angga kembali menghela napas berat, lalu dia memutuskan untuk mambantu karyawan lainnya dalam melayani pengunjung.
*
*
__ADS_1
Hari ini mungkin Othor ngga up lagi, di sambung besok ya....