
"Sebenarnya dia kemana? Apa mungkin dia lapar dan mencari tukang makanan yang lewat?" tanya Yudha lirih.
Yudha yang merasa penasaran pun, berinisiatif untuk mencari Leana di luar rumah. Sayangnya, saat dia membuka pintu, ternyata pintunya terkunci.
"Ck! Kenapa sih kalau dia pergi selalu saja mengunci pintu?" keluh Yudha.
Yudha terlihat berjalan mondar-mandir di depan pintu, sudah satu jam dia menunggu Leana namun tak kunjung datang.
Sesekali dia terlihat menyugar rambutnya dengan kasar, dia benar-benar tak habis pikir dengan tindakan yang Leana lakukan terhadap dirinya.
Kalau saja rumah yang dia tempati bukan rumah kontrakan, kalau saja ini bukan malqm hari, pasti Yudha sudah mendobrak pintunya.
Dia merasa menjadi seorang tawanan, dia merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa tentang aslinya Leana seperti apa.
"Ya Tuhan, sebenarnya dia kemana? Aku bahkan sudah seperti Anjiing tawanan," kata Yudha.
Tak lama kemudian, dia mendengar seperti ada orang yang sedang berjalan di depan rumah. Yudha pun terlihat menyingkap gorden untuk mengintip siapakah orang tersebut.
Ternyata di luar sana ada Leana yang terlihat berjalan untuk masuk ke dalam rumah, Yudha langsung berdiri di depan pintu sambil bersedekap.
Wajahnya terlihat memerah menahan amarah, dia benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan oleh Leana terhadap dirinya.
Tak lama kemudian, pintu rumah nampak terbuka. Yudha bisa melihat penampilan Leana yang terlihat seperti orang habis lari marathon.
Rambutnya diikat secara asal, dia memakai baju dengan rapi namun badannya terlihat basah dengan keringat.
"Ehm!" Yudha berdehem dengan keras.
Leana langsung melompat karena kaget, bahkan kedua tangannya refleks terangkat keatas.
"Kodok loncat!" teriak Leana.
Melihat kelakuan Leana, Yudha terlihat menggelengkan kepalanya. Dia baru tahu jika Leana ternyata latah jika sedang kaget.
"Mas,! Kamu ngagetin aku," keluh Leana.
"Aku tidak mengagetkan kamu, Sayang. Kamu kaget karena kamu berjalan mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan, sebenarnya kamu habis dari mana?" tanya Yudha.
Leana terlihat kebingungan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Yudha, dia terlihat memilin ujung baju tidurnya seraya menunduk.
"Jawab Leana! Kamu dari mana? Aku sudah satu jam lebih menunggu kamu, dari mana kamu?" tanya Yudha.
Mendengar ucapan Yudha yang meninggi, membuat Leana langsung menengadahkan wajahnya. Dia memberanikan diri untuk menatap Yudha.
"Anu, Mas. Itu, aku tadi laper. Aku nyari makan di luar," jawab Leana gugup.
Yudha melihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 03:34. Dia menggelengkan kepalanya, dia merasa jika ucapan Leana tidak masuk akal.
__ADS_1
"Ini sudah hampir subuh, kamu beli makanan di mana? Terus makanannya mana? Kenapa tidak membawa apa-apa?" tanya Yudha.
Mendapatkan pertanyaan yang terus-menerus dari Yudha, membuat Leana bertambah gugup. Dia terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.
Sebenarnya Yudha merasa kasihan kepada Leana, namun dia merasa kesal karena sudah beberapa kali Leana bersikap tidak wajar.
"Jawab Leana, kenapa badan kamu penuh dengan keringat? Apa kamu habis ikut lomba lari maraton?" tanya Yudha ketus.
Leana yang bingung untuk menjawab apa, langsung menubrukan tubuhnya ke tubuh Yudha. Dia menangis di dalam pelukan lelaki yang selalu memberikan dia kepuasan, baik di atas ranjang ataupun kepuasan dalam hal materi.
"Ja--jangan ma--marah, pokoknya jangan ma--marah," Leana menangis sambil memeluk erat Yudha.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leana, Yudha pun merasa tak tega. Dia hanya bisa menghela napas berat, kemudian mengeluarkannya secara perlahan.
"Pergilah ke kamar, tidurlah biar kata sebentar. Bukankah hari ini kamu ada kuliah pagi?" tanya Yudha.
Leana terlihat menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Yudha, Yudha tersenyum, kemudian dia pun melerai pelukannya.
"Pergilah ke kamar, tidurlah. Nanti akan aku bangunkan pukul 07.00 pagi," kata Yudha.
Leana mengangguk lalu pergi kedalam kamarnya, selepas kepergian Leana, Yudha terlihat duduk di atas sofa.
Dia terlihat memijat pelipisnya yang terasa sakit, dia mulai berpikir jika Leana benar-benar aneh sikapnya akhir-akhir ini.
"Sepertinya aku harus mengikuti Leana, aku harus tahu apa yang sebenarnya dia lakukan di belakangku," kata Yudha.
06:30 wib.
Larasati terlihat keluar dari dalam kamarnya, dia sudah terlihat rapi dan juga cantik. Dia terlihat melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Tiba di ruang makan, dia melihat Satria yang sedang bercanda dengan Angga. Satria terlihat duduk di pangkuan Angga, wajahnya terlihat bahagia.
Berbeda dengan lelaki yang berada di samping Angga, dia terlihat menekuk wajahnya.
Karena Satria seakan lupa pada Jonathan yang sudah menemaninya tidur tadi malam, bahkan saat Satria terbangun, balita tampan itu meminta Jonathan untuk memandikannya.
Larasati sangat paham, paati Jonatahan cemburu, pikirnya. Tapi, Satria di asuh dari bayi oleh Angga.
Sangat wajar rasanya jika Satria terlihat begitu lengket kepada pemuda berusia dua puluh satu tahun itu.
Larasati pun langsung menghampiri Jonathan, kemudian dia mengusap kedua bahu Jonathan dengan lembut.
"Jangan cemburu," ucap Larasati seraya tersenyum.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Larasati, membuat Jonathan yang tadinya berwajah masam, kini berubah lebih ceria.
Dia terlihat mengembangkan senyumannya, lalu dia pun berkata.
__ADS_1
"Tetap saja aku cemburu," ucap Jonathan.
Larasati dan juga Angga nampak terkekeh mendengar penuturan dari Jonathan, Angga baru tahu jika Jonathan merasa cemburu terhadap dirinya.
Namun, dia juga senang karena Jonathan adalah pria yang terbuka. Menurutnya itu akan lebih baik, karena Larasati akan lebih nyaman jika menikah dengan Jonathan nanti.
"Angga, kamu kapan datang?" tanya Larasati.
Larasati langsung menggendong Satria, kemudian mengecup keningnya.
"Belum lama, Mbak. Tadinya aku mau ke Resto, namun Om Elias menelponku. Katanya aku harus langsung kesini, ada yang rindu. Tapi bukan jandaku," kata Angga menggoda.
Mendengar ucapan Angga, Larasati terlihat memutarkan bola matanya. Berbeda dengan Jonathan yang terlihat mencebikkan bibirnya.
"Lihat tuh, Yang. Si brondong itu mencoba menggoda kamu, bagaimana aku tidak cemburu?" keluh Jonatahan.
Angga langsung tergelak mendengar ucapan dari Jonathan.
"Sabar, Bang. Jangan cemburu, aku tidak tertarik dengan Mbak' ku yang cantik ini. Bukan karena tak cantik, justru dia terlalu sempurna. Aku tak pantas bersanding dengannya, Abang lebih pantas. Apa lagi dengan apa yang sudah Abang lakukan selama ini," jelas Angga.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, Larasati terlihat sedikit kebingungan. Maksudnya apa dengan yang dilakukan oleh Jonathan selama ini?
Sebenarnya apa yang tidak dia tahu? Kenapa Angga terlihat sudah sangat akrab dengan Jonathan?
"Kalian--"
"Duduk dulu, Mbak. Biar aku jelaskan," kata Angga.
Larasati menurut, dia pun duduk tepat di samping Angga. Satria terlihat anteng duduk di pangkuan bundanya.
"Sebenarnya--"
"Angga!"
Jonathan langsung menyelak ucapan Angga, Angga tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya aku tidak berhak untuk mengatakannya, Mbak. Kalau Mbak ingin tahu, Mbak bisa langsung mengobrol dengan Bang Jo," kata Angga.
Larasati langsung menatap wajah Jonathan, Jonathan tersenyum kikuk sambil mengusap lehernya yang tiba-tiba terasa dingin karena tatapan Larasati begitu horor menurutnya.
"Jo, bisa jelaskan?" tanya Larasati.
"Nanti ya, Ra. Setelah kita sarapan," ucap Jonathan.
"Tapi--"
"Masakannya sudah siap semua nih, Mom masak makanan kesukaan kamu. Kita sarapan dulu ya, Sayang. Ngobrolnya di lanjut nanti," kata Nyonya Meera yang baru saja datang dari dapur.
__ADS_1