Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Boncap 2


__ADS_3

Hari-hari yang Larasati dan juga Jonathan lalui selalu diliputi dengan penuh kebahagiaan.


Mereka sangat senang dan juga bangga karena bisa melihat pertumbuhan Kinara dan juga Satria yang kini telah tumbuh menjadi sosok remaja yang begitu tampan dan juga cantik.


Kedua buah hati Larasati itu juga begitu pintar dalam menyelesaikan pelajaran sekolah, bahkan mereka juga mengikuti banyak ekstra kulikuler di sekolah tempat mereka menimba ilmu.


Tidak jarang mereka mengikuti lomba dan berakhir dalam sebuah kemenangan, walaupun tidak melulu mendapatkan juara satu.


Namun, terkadang Larasati dan juga Jonathan merasa kesal dan jengkel terhadap Kinara. Karena anak itu terkadang berulah, anak tomboy itu lebih suka bergaul dengan banyak teman lelaki.


Dia selalu ikut bermain bola dan terkadang mengikuti lomba balap motor liar, padahal usianya baru empat belas tahun, baru kelas tiga SMP, namun tingkahnya benar-benar di luar dugaan.


Berbeda dengan Satria, lelaki tampan yang sebentar lagi memasuki usia delapan belas tahun itu selalu menjadi anak yang penurut.


Dia tidak pernah membuat orang tua'nya marah, bahkan dia selalu membantu Yudha dalam mengurusi anak-anak Panti jika memang dia memiliki waktu luang.


"Bang, kamu sudah pulang?" tanya Larasati ketika melihat Satria yang baru saja turun dari mobil Yudha.


"Ya, Buna." Satria menghampiri Larasati dan mengecup keningnya dengan sayang.


Yudha yang masih berada di sana langsung tersenyum saat melihat kelakuan manis dari putranya, dia selalu berharap dan berdo'a, semoga putra-putrinya akan menjadi anak yang sholeh dan sholehah dan selalu membanggakan dirinya.


Tentu saja dia juga berharap agar kedua putra dan putrinha bagus agamanya dan berguna bagi nusa dan bangsa.


"Ra, aku pulang dulu. Satria, jangan nakal! Jaga Buna, Papa anter Putri pulang sekalian langsung ke Panti," pamit Yudha.


"Ya, hati-hati," jawab Satria dan Larasati bersamaan.


Selepas kepergian Yudha, Larasati menuntun Satria untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat Satria hendak masuk kedalam kamarnya, Larasati malah mengikutinya.

__ADS_1


Tiba di dalam kamar Satria, Larasati duduk di ujung tempat tidur. Dia memperhatikan Satria yang sedang merapikan peralatan sekolahnya.


"Satria, Sayang. Kinar tadi meminta izin untuk belajar bersama dengan teman-temannya, apakah itu benar?" tanya Larasati


Satria menghentikan aktivitasnya, dia kemudian menghampiri Larasati dan duduk tepat di samping bundanya tersebut.


"Entahlah, Buna. Tapi, jawaban yang keluar dari mulut Kinar saat aku mengajaknya untuk pulang terasa hambar dan tidak meyakinkan. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan," jawab Satria.


Larasati menghela napas berat, kemudian dia menghembuskannya dengan perlahan.


"Dasar anak itu, selalu saja berulah. Sepertinya Buna harus mengirimkan seorang pengawal yang mau mengawasinya selama berada di luar rumah," kata Larasati.


Satria terkekeh mendengar penuturan bundanya, kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Ya, sepertinya anak gadis Buna memang harus dijaga dengan ketat," kata Satria.


Sebenarnya Satria sempat mendengarkan selentingan kabar jika adiknya tersebut akan melakukan pertandingan bola futsal.


Ting!


Satu buah pesan masuk kedalam ponsel Satria, dengan cepat dia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


"Ade elu bukan main futsal bro, dia kini sedang bersiap untuk balap Liar." Alby mengirim informasi.


Membaca pesan dari temannya, Alby. Satria terlihat syok. Dia tidak habis pikir, kenapa adik perempuannya itu suka sekali bermain balap liar.


Ting!


Satu pesan chat kembali masuk pada ponsel milik Satria, kali ini Alby mengirimkan foto Kinara yang sudah bersiap dengan motor balap milik temannya.

__ADS_1


"Astagfirullah!" pekik Satria.


Larasati terlihat kaget mendengar suara Satria, dengan cepat dia mengambil ponsel milik Satria dan matanya langsung membulat dengan sempurna kala melihat putrinya kini sedang berada di arena balap.


Bahkan putrinya tersebut terlihat menaiki motor balap tanpa menggunakan helm, sungguh dia tidak habis pikir dengan kelakuan putrinya tersebut.


"Ini di mana, Sayang? Anterin Buna ke sana, Buna takut akan terjadi apa-apa terhadap Kinar," kata Larasati penuh khawatir.


"Aku tahu di mana tempatnya, Buna. Sekarang Buna tunggu di mobil, minta pak sopir untuk mengantar kita pergi. Aku akan berganti baju terlebih dahulu," kata Satria.


"Ya, Sayang." Tanpa banyak bicara lagi, la Lrasati langsung berlari keluar dari kamar Satria.


Dengan cepat Satria berganti baju, dia ingin segera pergi karena begitu khawatir terhadap adik perempuannya itu.


Terkadang dia merasa heran dengan kelakuan dari Kinara, kelakuan Putri dan juga Kinara begitu berbeda jauh.


Putri begitu diam dan jarang bicara, berbeda dengan Kinara yang super aktif dan juga bandel.


Namun, entah kenapa Satria begitu menyayanginya. Satria begitu mengasihinya. Bahkan jika ada orang yang berani menyakitinya, Satria adalah yang akan menjadi orang pertama yang melindunginya.


"Ck! Anak itu selalu saja bikin ulah," gerutu Satria.


Setelah mengganti bajunya, Satria langsung menyusul Larasati dan meminta pak sopir untuk melajukan mobilnya menuju tempat di mana adiknya Kinar sedang melakukan balap liar.


Tiba di tempat arena balap liar tersebut, Larasati dan juga Satria terlihat berjalan dengan tergesa.


Alangkah kagetnya mereka saat melihat Kinara yang sedang melajukan motor milik temannya dengan sangat kencang.


Terlihat sekali ada kepuasan di wajahnya, bahkan bibirnya tak hentinya mengembang.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Kinar!" pekik Larasati.


__ADS_2