
Kinara benar-benar sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Abian, Bryan dan juga Cakra.
Dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan penyambutan yang sangat luar biasa dari ketiga putra berwajah sama tersebut.
Mereka bertiga benar-benar kembar identik dan sulit untuk dibedakan, berbeda dengan Angga dan juga Mini yang sudah terbiasa hidup bersama dengan mereka bertiga.
Mereka bisa dengan mudahnya membedakan ketiga putra kembarnya tersebut, karena Abian mempunyai tahi lalat di dahi kanannya.
Bryan mempunyai tahi lalat di bagian bawah matanya, sedangkan Cakra memiliki tahi lalat di atas bibirnya.
Sayangnya mereka mempunyai tahi lalat yang begitu kecil, hal itu membuat orang lain akan susah melihatnya kalau sedang terburu-buru.
Namun, selain dari tahi lalat yang mereka punya, Mini dan juga Angga bisa membedakan ketiga putra kembarnya dengan melihat sorot matanya.
Sorot mata Cakra terlihat begitu jahil dan juga lebih nakal dari keduanya, berbeda dengan Abian yang terkesan lebih ikut-ikutan kepada kedua saudara kembarnya tersebut.
Karena dia tidak mau dikatakan sebagai lelaki yang lemah, sedangkan Bryan terkadang dia akan lebih kalem di saat tertentu.
"Buna! Daddy! Ayah! Aku ngga mau tinggal sama mereka, mau ngontrak rumah saja," pinta Kinara.
Mini yang merasa bersalah langsung menghampiri Kinara, lalu dia terlihat membantunya untuk naik ke permukaan.
Mini benar-benar merasa tidak enak hati, karena Kinara baru saja datang. Namun, sudah mendapatkan penyambutan yang luar biasa dari ketiga putranya tersebut.
"Maafkan ketiga putra Aunty, oke? Aunty Minta maaf atas nama ketiga putra kembarku," kata Mimi.
Sebenarnya Kinara benar-benar merasa sangat kesal terhadap ketiga sepupunya tersebut. Namun, dia tidak bisa bertindak sembarangan terhadap ketiganya.
__ADS_1
"Tapi mereka nyebelin Aunty, mereka bisa bikin aku darah tinggi," kata Kinara.
"Sebenarnya mereka baik, Kok. Kamu hanya perlu pendekatan saja," kata Mini pelan tapi terdengar jelas di telinga Kinara.
Mata Kinara langsung mendelik dengan apa yang dia dengar, baik dari mananya coba kalau awal pertemuan mereka saja sudah kacau balau seperti ini?
"Baik apanya, Aunty? Mereka sangat menyebalkan!" keluh Kinara.
Kinara terlihat bangun, lalu dia berjalan dengan cepat. Dia berniat untuk meninggalkan Mini.
Sayangnya, keadaannya yang basah malah merugikan dirinya sendiri. Dia langsung jatuh karena marmer yang dia injak sangat basah.
Brugh!
"Aww! Daddy! Aku ngga jadi tinggal di sini, aku pulang aja." Kinara menangis karena nasibnya dirasa sangat sial.
Untuk sesaat Kinara terdiam, tapi tidak lama kemudian dia mengambil handuk dari tangan Bryan dan segera bangun. Tentunya dengan bantuan Bryan.
"Terima kasih," kata Kinara masih dengan air mata kesal bercampur sedih yang mengalir di pipinya.
"Kasihan, sini Sayang. Kita ke kamar kamu saja, berendam pake air hangat terus ganti baju. Takutnya nanti kamu akan sakit," kata Larasati khawatir.
Bi Narti yang sejak tadi melihat kelakuan ketiga cucunya yang begitu nakal, langsung mengusap lengan Kinara.
"Maafkan kelakuan ketiga cucu, Nenek," kata Bi Narti.
"Hem," jawab Kinara.
__ADS_1
Kinara selalu diceritakan oleh Larasati, jika bi Narti dan Angga adalah penolong untuk dirinya di saat dulu dia susah.
Oleh karena itu, Kinara tidak bisa bersikap tidak baik kepada bi Narti ataupun Angga. Karena Kinara sangat sadar, jika kedua manusia itu adalah manusia yang begitu berarti untuk Larasati.
Kedua mahluk hidup itu begitu berharga dan begitu berpengaruh di dalam kehidupan ibunya tersebut.
"Kalau begitu Nenek antar ke kamar kamu, oke?" tawar Bi Narti.
"Iya, Nek!" jawab Kinara.
Akhirnya Kinara, Larasati dan juga bi Narti masuk ke dalam kamar Kinara yang sengaja disiapkan di lantai dua.
Kamar milik Kinara bersebelahan dengan kamar milik Satria dan juga kamar ketiga putra kembarnya.
"Masuklah, berendamlah dengan air hangat. Nenek akan membuatkan kamu teh jahe dulu," kata Bi Narti.
"Iya, Nek," jawab Kinara.
Bi Narti tersenyum karena akhirnya Kinara mau menjawab ucapannya, walaupun wajahnya masih terlihat judes.
Kinara terlihat masuk ke dalam kamar mandi untuk merendam tubuhnya, sedangkan Larasati terlihat menyiapkan baju untuk putrinya tersebut.
Ya, sebelum Larasati datang. Dia meminta Angga dan juga Mini untuk membelikan baju untuk Kinara dan juga Satria.
Karena mereka akan datang hanya dengan membawa barang yang diperlukan saja, hal itu Larasati sengaja lakukan agar mereka tidak kerepotan saat sedang melakukan perjalanan.
***
__ADS_1
Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.