
"Laras sudah memgambil semuanya, dia--"
Yudha pun lalu.mulai menceritakan apa yang terjadi selama hampir 2 bulan ini, dia juga bahkan menceritakan kebodohannya karena tidak bisa mengenali Larasati dengan baik saat pertama mereka bertemu.
Mendengarkan apa yang diucapkan oleh Yudha, Jesicca terlihat lemas sekali. Sekarang dia menjadi bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
Akan tetapi, satu hal yang Jesicca yakin. Yudha selalu mengalirkan uang hasil Resto ke rekening peribadinya, setidaknya dia akan merasa tenang untuk urusan tempat tinggal dan juga mobil.
"Tapi, Mas. Bukankah selama ini uang Resto kamu mengendalikan? Itu artinya kita masih bisa membeli rumah untuk tempat tinggal kita," ucap Jesicca.
Mendengar penuturan Jessica, Yudha langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Uangnya tinggal 1 M, kalau dibelikan rumah dan juga mobil, tentu saja dia tidak akan mempunyai simpanan lagi.
"Uangnya sudah Mas transferkan ke rekening Laras," jawab Yudha lemah.
Mendengar ucapan dari Yudha, Jesicca benar-benar kaget. Dia tidak menyangka jika Yuda dengan bodohnya bisa mentransferkan uangnya kepada mantan istrinya.
"Kok bisa sih, Mas?" tanya Jesicca.
"Ceritanya panjang, Mas ada uang buat beli rumah dan juga mobil. Tapi, untuk kebutuhan sehari-hari tidak ada," kata Yudha.
Dia pun jadi mengingat kebodohannya kala mentransfer uang untuk Larasati, kenapa dia tidak mengecek nama pemilik rekening yang Larasati tunjukkan? Kenapa dia asal transfer saja?
"Yang penting kita punya tempat tinggal dulu, Mas. Masalah uang gampang dari penghasilan Resto," kata Jesicca.
Mendengar ucapan istrinya, Yudha langsung tersenyum kecut. Kemudian dia pun berkata.
"Resto adalah milik Larasati, tentu saja akan kembali kepada sang pemilik. Mas sudah tidak berhak lagi atas Resto tersebut," kata Yudha.
Mata Jesicca terlihat membulat dengan sempurna seperti akan jatuh dari wadahnya, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari suaminya tersebut.
"Lalu, Mas kerja apa kalau Resto saja sudah diambil sama Mbak Laras?" tanya Jesicca.
"Larasati mengizinkan aku untuk bekerja di sana, namun hanya sebagai karyawan biasa yang digaji dalam setiap bulannya," kata Yudha.
Jesicca terlihat bisa bernapas dengan lega, setidaknya masih ada pekerjaan yang menghasilkan uang daripada Yuda menganggur. Rasanya itu lebih baik.
"Kenapa semuanya bisa terjadi, Mas? Bukankah dulu kamu sudah membalik nama Resto atas nama kamu?" tanya Jesicca.
__ADS_1
"Ya, dan semuanya cacat hukum. Ini gara-gara pengacara sialan itu!" ucap Yudha.
"Sudahlah, Mas. Sekarang mending kamu sarapan, terus cari rumah dan kendaraan buat kamu bekerja. Nanti untuk makan sehari-hari aku akan menjual perhiasanku," ucap Jesicca memberi solusi.
"Ya, kamu benar. Perhiasan kamu banyak, setidaknya dikala sulit seperti ini akan berguna," ucap Yudha.
"Kamu benar, Mas. Tapi sepertinya kita sudah tidak bisa mempekerjakan Bi Minah lagi," kata Jesicca.
"Tidak apa, nanti kita beli rumah sederhana saja. Supaya kamu tidak capek dalam mengurusnya," kata Yudha.
"Ya," ucap Jesicca pasrah.
Walaupun sebenarnya dia akan merasa kesusahan untuk beradaptasi dalam menjalani kehidupan barunya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena pada kenyataannya, harta yang selama ini dia nikmati adalah harta milik orang lain. Bukan mutlak miliknya.
Setelah mendapatkan keputusan, Yudha pun segera sarapan. Setelah sarapan, dia pun segera pergi untuk membeli rumah sederhana dan juga kendaraan untuk dia bekerja sehari-hari.
Di lain tempat.
Dia merasa puas karena sudah bisa mengambil semua miliknya kembali, walaupun Yudha masih bisa bernapas lega dengan uang yang dia punya saat ini.
Larasati menganggapnya itu sebagai upah karena Yudha sudah mengurus Resto miliknya selama 2 tahun ini.
"Ehm, Mbak. Tadi malam aku membaca majalah bisnis, Mbak tahu? Pengusaha kaya yang bernama Elias Ardhan Dinata tengah sakit, bahkan saat menonton tv pun semua salurannya menampilkan tentang pemberitaan Tuan Elias," jelas Angga.
Mendengar ucapan Angga, Larasati terlihat begitu cemas. Wajahnya yang tadi terlihat bahagia, kini berubah menjadi pucat pasi.
"Mbak kenapa? Apa aku sudah salah bicara?" tanya Angga.
Bukannya menjawab, Larasati malah menangis. Tubuhnya merosot ke lantai, dia memeluk lututnya dengan kedua tangannya.
"Daddy, Daddy sakit apa?" tanya Larasati di sela isak tangisnya.
Angga yang tidak paham dengan ucapan dari Larasati, langsung menatap Bi Narti. Dia seolah meminta jawaban kepada ibunya tersebut.
"Tuan Elias Ardhan Dinata adalah ayah kandung dari Larasati," jelas Bu Narti.
__ADS_1
"Tapi, kenapa Mbak Laras tidak menyandang nama keluarga besar Dinata?" tanya Angga bingung.
"Karena aku lebih memilih Mas Yudha dari pada keluargaku, hingga akhirnya Daddy mencoret Namaku dari keluarga besar Dinata." Larasati terlihat menyesali perbuatannya.
Angga yang telah paham pun langsung menghampiri Larasati, dia duduk di samping Larasati dan mengelus lembut punggung wanita yang sudah dia anggap sebagai kakaknya tersebut.
"Temui dia di rumah sakit, dia pasti sangat membutuhkan suport dari Mbak." Kembali Angga mengelus lembut punggung Larasati.
Dia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Larasati saat ini, pasti saat ini Larasati sangat terpukul.
"Aku rindu Daddy, tapi aku malu. Apa yang harus aku katakan saat aku bertemu dengannya nanti," kata Larasati.
"Minta maaf, lalu mendekatkan diri pada kedua orang tua, Mbak. Semarah-marahnya orang tua, tidak ada yang membenci anaknya," kata Angga.
Mendengar ucapan Angga, Larasati langsung mendongakkan kepalanya. Dia menatap Angga dengan lekat, senyum cibir dia berikan kepada Angga.
"Sok bijak, kamu aja masih bocah," kata Larasati.
"Ish! Usiaku memang masih muda, tapi aku memang selalu bijak. Bersiaplah, dandan yang cantik. Jangan sampai kedua orang tua Mbak tidak mengenali wajah kusut Mbak, aku akan mengantar Mbak ke Rumah Sakit," kata Angga.
"Daddy sakit apa?" tanya Larasati.
"Malarindu," jawab Angga seraya terkekeh.
Mendengar jawaban dari Angga, Larasati langsung mencubit perutnya. Angga yang memang berbadan kecil namun jangkung itu langsung meringis kesakitan.
"Mbak tega!" ketus Angga.
"Sudah-sudah, bersiaplah. Biar Bibi membantu Den Satria bersiap," kata Bi Narti.
"Tapi, Bi." Larasati terlihat begitu bingung.
Dia memang begitu merindukan daddy Elias, dia juga bahkan begitu merindukan mommy Meera Catleya Dinata.
Namun jika mengingat bagaimana dia dulu meninggalkan keluarganya demi Yudha, rasanya dia sangat malu untuk menampakkan wajahnya di depan kedua orang tuanya.
"Temuilah kedua orang tua kamu, Laras. Bibi pun orang tua, kasih sayang orang tua seluas samudera. Mulut orang tua memang terkadang sangat pedas, namun berbeda dengan isi hatinya, mereka hanya ingin melihat anak-anak yang dilahirkan bahagia," nasehat Bi Narti.
__ADS_1