Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Ungkapan Hati Larasati


__ADS_3

POV Larasati


Aku terbangun di tengah malam, ku lirik wajah pria di sampingku yang begitu tampan dan rupawan. Jonathan, sahabat yang kini menjadi suamiku.


Dari kecil dia selalu mengatakan cintanya kepadaku, tapi... entah kenapa tak ada rasa sedikitpun untuk dirinya di hati ini.


Hanya sahabat, itu yang selalu aku ungkapan kepada dirinya. Walau sekuat apa pun dia berusaha mengejarku, tetap saja rasa cinta itu tidak pernah tumbuh di hatiku.


Aku melihat dia tertidur dengan sangat pulas, ingin sekali aku membangunkan dirinya dan berkata jika malam ini aku ingin pergi untuk jalan-jalan.


Namun, saat kulihat jam digital yang berada di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 01.00 malam, sudah dapat dipastikan jika suami tercintaku tidak akan mengizinkan aku untuk pergi di malam hari.


Aku gerakan tubuhku sepelan mungkin, agar tidak mengganggu tidur pulas suamiku. Aku duduk di atas sofa panjang dekat jendela, ingatanku kembali ke masa di mana aku sangat tergila-gila pada sosok Yudha Hardana.


Padahal, dia hanya lelaki sederhana. Setiap hari dia bekerja sebagai pelukis jalanan, tapi perhatiannya membuat aku jatuh cinta kepada dirinya.


Cara dia menuangkan apa yang ada di hatinya lewat sebuah lukisan, membuat aku tertarik untuk semakin dekat dengan dirinya.


Waktu berjalan dengan cepat, hubungan kami semakin dekat. Mas Yudha mengajak aku untuk membina rumah tangga diusiaku yang baru saja genap dua puluh dua tahun.


Hari itu baru saja aku merayakan hari ulang tahunku bersama dengan keluargaku dan juga Jonathan, mas Yudha mengajak aku bertemu di taman.


Tiba di sana, mas Yudha langsung berjongkok dan menggenggam tanganku dengan erat.


"Laras, dari awal bertemu aku sudah sangat menyukaimu. Aku sangat mencintaimu, semakin hari aku semakin jatuh cinta sama kamu. Rasanya aku begitu takut kehilangan kamu, maukah kamu menikah denganku?"


Kala itu mas Yudha mengeluarkan cincin emas sederhana saat melamarku, aku tidak peduli dengan cincin emas itu.


Aku hanya peduli pada cintanya yang terlihat begitu besar, aku menerimanya.


"Mau, aku mau," jawabku kala itu.


Tanpa aku sadari ternyata keputusan untuk menerima mas Yudha adalah sebuah kesalahan terbesar untukku, sebuah keputusan yang membuat hidupku hancur berantakan.


Kedua orang tuaku tidak menyetujui hubungan kami, karena mas Yudha memang tidak pernah meminta diriku secara resmi kepada kedua orang tuaku.

__ADS_1


Mas Yudha selalu saja mengajakku untuk bertemu di luar rumah, sedangkan mommy dan juga daddy ingin melihat mas Yudha yang datang secara bersungguh-sungguh ke kediaman Dinata.


Sayangnya, mas Yudha tidak pernah ada keberanian untuk datang dan meminta aku secara baik-baik kepada kedua orang tuaku.


Sayangnya, rasa cintaku kala itu membutakan diriku untuk tetap menikah dengan mas Yudha. Aku tetap bersikukuh menikah dengannya walaupun tanpa restu dari kedua orang tuaku.


Menyesal?


Tentu saja aku sangat menyesal, karena ternyata mas Yudha bukanlah tipe lelaki yang setia sesuai dengan apa yang dia katakan saat pertama kali bertemu.


"Kamu jangan takut, Sayang. Walaupun kedua orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita, tapi aku akan selalu setia padamu. Aku akan selalu ada untukmu dalam suka maupun duka," ucapnya kala itu.


Namun kenyataannya, dengan teganya dia berselingkuh dengan alasan perubahan tubuhku yang menjadi gendut, padahal tubuhku menjadi gendut karena kehamilanku.


Aku hamil karena ulahnya, aku hamil karena mengandung benih yang dia taburkan.


Dokter berkata jika kandunganku sangat lemah, kala itu aku diharuskan bedres dan tidak boleh melakukan apa pun.


Hal itu memicu tubuhku menjadi semakin besar, karena selama hamil aku ingin terus makan apa pun yang aku lihat.


Bahkan dia selalu berkata.


"Diam dan duduklah dengan manis di rumah, jaga kandunganmu. Jaga calon anak kita, biar aku yang mengurus Restoran. Jangan berpikiran terlalu keras," ucapnya kala itu.


Sayangnya, ucapannya tidak semanis kenyataannya. Karena ternyata, mas Yudha bermain serong di belakangku.


Bahkan dengan teganya dia mengambil semua aset berharga yang aku punya, tanpa belas kasihan dia mengusir aku dari rumah yang aku beli dengan hasil keringatku sendiri.


Beruntung ada bi Narti yang selalu memberikan dukungannya untukku, apalagi Angga. Dia sosok bocah tengil yang selalu saja memberikan aku semangat dalam setiap hariku, dia selalu memberikan pelukan hangatnya untukku.


Bahkan, dia membantuku untuk mencapai kesuksesanku kembali. Dia juga membantu menyemangatiku agar tubuhku kembali langsing.


Tidak dapat aku pungkiri, pesona bocah tengil itu mampu menggetarkan hatiku. Setiap aku berdekatan dengannya, aku selalu merasa gelisah dan tidak tenang.


Namun, aku tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku. Karena aku sangat sadar siapa diriku, janda. Ya, aku hanya seorang janda dari pria berengsek bernama Yudha Hardana.

__ADS_1


Lagi pula Angga masih sangat muda, rasanya dia lebih pantas bersanding dengan wanita yang lebih muda dari dirinya.


Awalnya aku ingin merelakan semua aset yang sudah mas Yudha ambil, biarlah semuanya menjadi pelajaran berharga untukku.


Namun, Angga berkata jika semua yang Yudha ambil adalah hak milik dari Satria. Aku mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa mendekati mas Yudha dan mengambil semua aset berharga milikku kembali.


Kini semuanya sudah berakhir, semua milikku kembali ke tanganku. Mas Yudha juga sudah menjalani hidupnya dengan baik, walaupun pada kenyataannya banyak halang rintang yang menghadang.


Aku juga sudah memaafkan semua kesalahan yang pernah mas Yudha lakukan, karena tidak akan baik jika kita hanya memikirkan rasa dendam dan sakit hati.


Kini aku sudah sangat bahagia hidup bersama dengan Jonathan, lelaki yang awalnya adalah sahabatku. Namun, kini dia menjadi suamiku.


Aku bangga menikah dengan Jonathan, lelaki yang begitu mencintaiku. Ternyata benar apa kata pepatah, lebih baik dicintai daripada mencintai secara berlebihan.


POV Author


Larasati masih terdiam, dia masih setia dengan lamunannya. Jonathan yang merasa istrinya tidak ada di sampingnya, terlihat menggeliatkan tubuhnya, dia meraba-raba ke arah sampingnya.


Karena tidak mendapatkan sosok yang dia cari, Jonathan berusaha untuk membuka matanya yang terasa begitu berat.


Dia begitu kaget karena tidak ada Larasati di sampingnya, Jonathan bangun dan turun dari tempat tidur dengan tergesa.


"Yang, Sayang. Kamu di mana?" seru Jonathan.


Jonathan terlihat berlari kearah kamar mandi, takut-takut Larasati sedang berada di sana. Larasati yang sedari tadi sedang melamun, terlonjak kaget. Dia dia bahkan langsung menyusul suaminya dengan langkah tergesa.


"Mas Jo, aku di sini," sahut Larasati.


Jonathan yang hendak masuk ke kamar mandi, langsung membalikkan tubuhnya. Kemudian, dia langsung tersenyum saat melihat Larasati yang berada tak jauh dari dirinya.


BERSAMBUNG....


Selamat pagi kesayangan, selamat beraktivitas.


Menuju ending, ya....

__ADS_1


Othor merasa berat jadinya, tapi memang sudah mau selesai ceritanya.


__ADS_2