
Setelah kepergian Leana, Yudha pun nampak bersiap. Dia ingin membuka toko peralatan untuk melukis, karena hanya itu yang dia kuasai.
Yudha berkeliling menggunakan mobilnya mencari-cari tempat yang pas untuk berjualan, tentu saja untuk yang pertama kalinya dia pergi ke pusat kota.
Karena menurutnya, selain tempatnya yang strategis, di pusat kota juga pasti banyak orang yang sengaja datang untuk menghabiskan waktu luangnya.
Siang harinya Yudha nampak beristirahat untuk makan siang, setelah itu dia kembali melakukan pekerjaannya, mencari tempat yang pas untuk dia memulai usahanya.
Sayangnya, sudah hampir seharian dia berkeliling namun tak kunjung mendapatkan tempat yang bagus.
"Aku sangat lelah, lebih baik pulang terlebih dahulu." Yudha pun melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan milik Leana.
Tiba di sana, Yudha langsung masuk dan menghempaskan tubuhnya keatas sofa yang ada di ruang tamu.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, namun Leana belum pulang.
"Sebenarnya dia kemana? Kenapa belum pulang?" tanya Yudha lirih.
Yudha memutuskan untuk mandi, sambil menunggu Leana pulang, pikirnya.
Lima belas menit kemudian, Yudha pun nampak keluar dari dalam kamar dengan menggunakan piyama tidurnya.
Saat dia hendak duduk di ruang tamu, pintu nampak terbuka. Datanglah Leana dengan wajah yang terlihat begitu penat.
"Sayang, kamu dari mana saja?" tanya Yudha.
Mendengar pertanyaan dari Yudha, Leana sangat kaget. Bahkan dia terlihat mengelus-elus dadanya.
"Eh? Aku, aku habis kerja kelompok," kata Leana.
Untuk sesaat Yudha terlihat hanya diam saja, dia merasa tidak percaya jika Leanna baru saja pulang kerja kelompok.
"Kok pulangnya sore banget?" tanya Yudha.
Mendapat pertanyaan yang terus-menerus dari Yudha, membuat Leanna nampak gugup. Dia bahkan terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.
"Ehm, itu. Anu, buat tugas kuliah besok soalnya," jawab Liana.
Yudha terlihat menarik napas panjang, kemudian dia pun mengeluarkannya secara perlahan. Lalu, Yudha pun kembali berkata.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi. Nanti kita makan," ucap Yudha.
Leana menurut, dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan segera mandi. Sedangkan Yudha terlihat duduk di ruang tamu sambil memesan makanan lewat online.
Dua puluh menit kemudian, Leana nampak menghampiri Yudha dan langsung duduk di pangkuan Yudha.
"Laper," rengek Leana.
Mendengar ucap manja Leana, Yudha nampak terkekeh lalu mengecup bibir Leana beberapa kali.
"Mas sudah pesankan makanan, mungkin tak lama lagi akan datang," kata Yudha.
__ADS_1
Yudha tersenyum mendengar rengek manja Leana, dia suka akan hal itu.
"Yang laper bukan bibir yang atas, tapi bibir yang bawah." Leana mengalungkan lengannya di leher Yudha, lalu dia menggoyangkan pinggulnya.
Yudha terlihat menengadahkan wajahnya, lalu dia menutup matanya. Dia menikmati sensasi kenikmatan yang disuguhkan oleh Leana.
"Stop, Sayang. Aku ngga tahan, kita makan dulu. Nanti nanggung baru nyelup udah ada yang ketok pintu," kata Yudha.
Leana tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan menahannya. Tapi, setelah makan aku mau langsung naik," kata Leana.
Yudha langsung terkekeh, dia suka sekali dengan keagresifan dari Leana.
"Sesuai keinginan kamu, Sayang," jawab Yudha.
Leana terlihat turun dari atas pangkuan Yudha, kemudian dia duduk di samping Yudha dan memeluk Yudha dengan erat.
"Lama," keluhnya.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi, enak banget ya, punya aku?" Leana menganggukkan kepalanya, "puas banget kamu sama punya aku?" tanya Yudha lagi.
"Hem, ngga terlalu gede. Tapi keras dan enak," jawab Leana seraya terkikik dengan ucapannya sendiri.
"Ck! Ngga gede tapi bikin kamu ketagihan," kata Yudha seraya menggelengkan kepalanya.
"Abisan keras banget, itu yang bikin enak. Kamu ngga akan tahu," kata Leana.
*/*
Jika Leana dan juga Yudha sedang membicarakan hal yang absurd, berbeda dengan Larasati dan Jonathan yang sedang membicarakan tema pernikahan yang akan mereka laksanakan.
Larasati dan juga Jonathan sudah sepakat jika bulan depan mereka akan melaksanakan acara pernikahan dan resepsinya di hotel milik keluarga Dinata.
Bahkan karena terlalu senang, tuan Keanu dan juga tuan Elias sudah merencanakan akan menggelar acara resepsi pernikahan yang sangat mewah.
Larasati sudah berkata, jika dia ingin acara pernikahannya dilaksanakan secara sederhana saja. Sayangnya kedua kepala keluarga yang memang mempunyai pengaruh besar itu tidak mau mengalah.
Akhirnya Larasati pun pasrah, dulu dia pernah mengecewakan kedua orang tuanya. Kini, dia ingin berbakti terhadap kedua orang tuanya. Dia tidak ingin lagi mengecewakan mereka.
"Jadi, mau tema apa pernikahannya?" tanya Jonathan.
Untuk sesaat dia terdiam, dia membayangkan acara pernikahan yang sederhana namun terkesan mewah dan elegan.
"Tema pernikahannya minimalis aja, sederhana tapi penuh makna." Larasati tersenyum seraya membayangkannya.
Tuan Elias yang baru saja datang langsung melayangkan protesnya.
"No, Daddy tidak setuju." Tuan Elias langsung duduk di samping Larasati.
"Dad!" panggil Larasati dengan nada penuh protes.
__ADS_1
Tuan Elias merangkul pundak Larasati, kemudian dia menatap manik putrinya dengan lekat.
"Dad hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kalian, tapi... kalau kamu tidak suka, Dad mengerti." Tuan Elias terlihat menundukkan wajahnya.
"Ya ampun, Dad. Sorry, aku pernah mengecewakan kamu. Sekarang, aku akan menuruti keinginan Daddy. Katakanlah!" kata Larasati.
"Dad mau, tema pernikahannya glamour/mewah," kata Tuan Elias.
Larasati tersenyum, dia tahu akan keinginan dari Tuan Elias.
"Dad, aku hanya seorang janda. Pernikahan sederhana saja rasanya sudah cukp," kata Larasati.
"Kamu janda, namun Jonathan masih lajang. Tentu saja dia akan mendambakan sebuah pernikahan yang indah dan juga berkesan," ucap Tuan Elias.
Larasati terlihat memikirkan perkataan orang tuanya itu, hal itu memang benar adanya. Jonathan pasti mempunyai impian tentang pernikahan yang sesuai dengan keinginannya.
Larasati kemudian menatap Jonathan, dia tersenyum, kemudian dia berkata.
"Jo, aku akan menuruti konsep pernikahan sesuai yang kamu inginkan," ujar Larasati.
Jonathan tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Tuan Puteri. Kalau begitu tunggulah kejutan dariku," ujar Jonathan.
Larasati tersenyum, karena dia bisa melihat binar bahagia di mata kedua lelaki tampan berbeda generasi yang ada di sana.
"Buna!" rengek manja Satria.
Satria datang dan langsung duduk di pangkuan sang bunda, dia memeluk bundanya dengan wajah sendunya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Larasati.
"Aku kangen sama ayah Angga, pengen bobo baleng sama ayah," rengek Satria.
Mata Satria mulai memerah, bulir bening mulai merembes jatuh.
"Cup cup cup, ayahnya belum pulang kerja. Bobo sama Buna aja, ya...."
"No, aku kangen ayah Angga. Mau dibacain dongeng 'Sakadang Kuya'...."
Jonathan sangat cemburu mendengar keinginan dari putra Larasati tersebut, dia menghampirinya dan mulai membujuknya.
"Sama Daddy Jo, aja bobonya. Nanti Daddy Jo bacain dongeng super hero, mau?" tanya Jonathan.
"Mau, tapi besyok mau bobo sama ayah Angga." Satria terlihat begitu merindukan lelaki yang selama ini selalu ada untuk dirinya itu.
"Iya, cucu kesayangan Opa. Besok ayah Angga sama nenek Narti akan datang," bujuk Tuan Elias.
Wajah Satria yang tadinya sendu kini berubah menjadi bahagia, Satria bahkan langsung melompat ke pangkuan Tuan Elias dan langsung mengecupi setiap inci wajahnya.
"Maacih Opa," ucap Satria tulus.
__ADS_1