
Setelah diperiksa dan diberi obat, akhirnya keadaan Jonathan bisa lebih baik. Dia tertidur dengan lelap setelah meminum obat, sedangkan Larasati dan juga Satria malah asik bermain di ruang keluarga.
Di lain tempat.
Ridwan terlihat begitu serius dalam bekerja, sehingga dia dapat dengan mudah memperlajari sistem yang ada di perusahaan properti tersebut.
Pukul dua belas siang Ridwan nampak keluar dari ruangannya, tentu saja setelah melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik.
Saat dia hendak ke kantin untuk makan siang, dia melihat bu Airin yang sedang berdebat dengan seorang pria tampan di depan ruangannya.
Bahkan lelaki itu terlihat mencengkram kuat pergelangan tangan bu Airin, seraya memaki. Ingin rasanya Ridwan menghampiri mereka dan menegur lelaki tampan itu.
Namun, dia merasa tidak berhak dan juga dia tidak tahu apa masalahnya. Dia takut salah, tapi... karena penasaran dia akhirnya mencuri dengar.
"Aku harap kamu mempertimbangkannya lagi," kata pria tampan tersebut.
"Tidak akan! Kamu sudah mengecewakanku berkali-kali," jawab Bu Airin tegas.
"Tapi itu semua karena kamu yang tidak mau aku ajak--"
"Cukup Rio! Aku tidak mau mendengar apa pun alasan kamu," kata Bu Airin.
Rio terlihat memandang remeh ke arah bu Airin, lalu dia berkata.
"Aku yakin tidak akan ada lelaki yang mau menikahi perawan tua sepertimu selain aku, apalagi kamu tipe wanita yang sok jual mahal!" kata Rio seraya menghempaskan tangan Bu Airin dengan kasar.
"Cukup Rio! Kalau kamu datang hanya untuk menghinaku, lebih baik kamu pergi! Aku rela melajang seumur hidupku daripada harus menikah dengan lelaki seperti kamu!" ucap tegas Bu Airin.
"Oke, aku akan pergi. Tapi, sebelum aku pergi dari hidup kamu untuk selamanya. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Di Resto pavorit kita?" ajak Rio.
Bu Airin terlihat menghela napas kasar, dia memang begitu enggan untuk pergi bersama dengan Rio.
Namun, jika dia mengajak untuk pergi ke Restoran, rasanya itu tidak masalah. Karena di sana pasti ramai dengan orang, tidak mungkin Rio berani berbuat bermacam-macam kepada dirinya, pikir Bu Airin.
"Baiklah, aku mau. Tapi, berjanjilah Kamu tidak akan menggangguku lagi setelah ini," kata Bu Airin.
"Ya, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Rio dengan seringai licik di bibirnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bu Airin dan juga Rio nampak pergi meninggalkan perusahaan tersebut, entah kenapa Ridwan merasa curiga dengan seringai yang sempat dia lihat dari bibir Rio.
Pada akhirnya Ridwan berinisiatif untuk mengikuti kepergian mereka berdua, tiba di sebuah Resto mewah, Rio mengajak bu Airin untuk masuk dan mereka pun langsung memesan makanan favorit mereka.
Ridwan ikut masuk kedalam Resto tersebut, dia sengaja mencari tempat duduk yang tidak jauh dari sana. Hal itu dia lakukan agar dia bisa memantau pergerakan antara Rio dan juga bu Airin.
Tak ada obrolan serius yang Ridwan lihat antara bu Airin dan juga Rio, mereka terlihat makan siang dalam diam.
Sesekali Rio terlihat melirik ke arah bu Airin, entah kenapa perasaan Ridwan semakin tidak enak saja.
Tiga puluh menit kemudian, Rio terlihat mengajak bu Airin untuk keluar dari Resto tersebut.
Tentu saja Ridwan juga langsung mengikuti langkah kedua insan berbeda jenis kelamin tersebut.
Tiba di depan Resto, wajah bu Airin terlihat memerah. Dia terlihat gelisah, Rio yang melihat akan hal itu langsung menyeringai licik, lalu dia merangkul pundak bu Airin.
"Ayolah Airin, cuacanya sangat panas. Aku akan segera mengantarkanmu untuk pergi ke perusahaanmu," kata Rio
Ridwan yang melihat keanehan dari gelagat Rio, langsung menghampiri bu Airin dan juga Rio.
"Permisi, maaf kalau saya mengganggu," kata Ridwan dengan mata yang terus menatap wajah Bu Airin.
"Saya bawahan dari Bu Airin, tadi Bu Airin sempat mengirimkan pesan kepada saya untuk menjemputnya," jawab Ridwan.
Baik Rio ataupun bu Airin terlihat kaget dengan jawaban yang dilontarkan oleh Ridwan, namun setelah cukup lama berpikir, bu Airin seakan mengerti dengan arti tatapan dari Ridwan.
"Ah, maaf Rio. Aku pulang dengan Ridwan saja," kata Bu Airin seraya melepaskan tangan Rio dari pundaknya.
Wajah Rio terlihat kesal sekali, bahkan dia menatap Ridwan dengan tatapan tidak suka. Namun, Ridwan seakan tidak gentar.
Dia langsung menarik lembut tangan kanan bu Airin agar segera mengikuti langkahnya, melihat kepergian Ridwan dan juga bu Airin, Rio hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna.
Tiba di parkiran, Ridwan langsung membuka jaket yang dia gunakan lalu memakaikannya kepada bu Airin. Setelah itu dia memakaikan helm di kepala bu Airin dan segera mengajaknya pergi dari sana.
Saat di perjalanan, bu Airin terlihat gelisah sekali. Kedua tangannya memang memeluk erat pinggang Ridwan, namun tubuhnya terlihat bergerak tidak karuan.
"Wan, tolong antarkan saya ke apartemen saja. Saya tidak enak badan," kata Bu Airin.
__ADS_1
Setelah bu Airin membisikan alamat apartemennya, Ridwan langsung tancap gas dan pergi menuju apartemen milik bu Airin.
Tiba di apartemen, bu Airin nampak kesusahan dalam berjalan. Dia terlihat begitu gelisah, wajahnya bahkan semakin memerah.
Ridwan yang merasa tak tega menawarkan diri untuk mengantarkan bu Airin untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Mau saya anter, Bu?" tanya Ridwan.
"Boleh, tolong anter. Saya lemes banget ini," jawab Bu Airin.
Ridwan memapah tubuh bu Airin dengan susah payah, tiba di depan apartemen, Bu Airin meminta Ridwan untuk membuka pintu apartemennya dengan memberikan kunci apartemen miliknya.
"Ibu duduk dulu di sini, biar saya ambilkan air putih untuk Ibu," kata Ridwan.
Ridwan terlihat berjalan menuju dapur, kemudian dia membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral.
Setelah itu, Ridwan kembali ke ruang tamu dan memberikan minuman tersebut kepada bu Airin.
Bu Airin seperti orang yang sangat kehausan, dia langsung meminum air yang Ridwan berikan sampai tandas.
"Masih haus, Wan!" keluh Bu Airin.
Ridwan langsung berlari ke dapur, kemudian dia mengambil sebotol air mineral dan kembali memberikannya kepada bu Airin.
Bu Airin langsung menenggak air minum tersebut dengan cepat, dia seperti orang yang benar-benar sangat kehausan.
"Ya ampun, Bu. Pelan-pelan minumnya, itu perutnya apa ngga begah? Sudah dua botol loh itu yang diminum," kata Ridwan.
Bukannya menjawab pertanyaan Ridwan, bu Airin malah membuka kemeja yang dia pakai. Lalu melemparkannya secara sembarang, Ridwan langsung memelototkan matanya kala melihat dada bu Airin yang terlihat begitu besar dan seakan hendak tumpah dari pengamannya.
"Astogeh! Ini nikmat apa kiamat?" tanya Ridwan seraya mengusap wajahnya.
*
*
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Selamat sore kesayangan, jangan lupa tinggalkan jejak yes. Buat cerita babang Juki entar malem aja, ngga enak ama yang puasa, hihihi.