Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Mini


__ADS_3

Tiba di depan rumah yang selama ini Angga tempati bersama bi Narti, dia langsung memarkirkan mobilnya dan langsung turun tanpa memedulikan wanita yang juga ikut turun dan dengan tergesa mengikutinya.


Bi Narti yang sedang menunggu Angga di kursi teras langsung bangun dan menghentikan langkah Angga.


"Kenapa pulangnya malam sekali? Lalu, itu siapa?" tanya bi Narti seraya menunjuk wanita yang berada di belakang Angga.


Angga menghentikkan langkahnya, lalu dia berbalik dan melihat wanita yang tak dia kenal itu berdiri tak jauh darinya.


"Bukankah kamu itu istriku? Sekarang ikutlah kekamarku, kita akan melakukan malam pertama. Ayo? Aku sudah tak tahan ingin memakanmu," kata Angga dengan seringai di bibirnya.


Angga terlihat mendekati wanita itu, dan langsung mencekal pergelangan tangannya.


"Ayo, kita akan memulai acara ritual malam pertama kita. Jangan terlalu lama berdiri di luar, aku sudah tidak sabar!"


"Mom! Tolong Michele," teriak wanita itu sambi memejamkan matanya.


Angga tersenyum lalu melepaskan cekalan tangannya.


"Aku tidak mengenalnya, Bu. Tolong urus wanita yang mengaku sebagai istriku itu, aku lelah." Angga mengecup kening Bi Narti lalu pergi ke kamarnya.


Selepas kepergian Angga, bi Narti mengajak wanita yang bernama Michele itu untuk masuk kedalam rumah.


Bi Narti membawa Michele ke ruang tamu.


"Kamu siapa?" tanya Bi Narti.


Bi Narti terlihat memperhatikan penampilan Michele, dia cantik, muda dan baju yang dia kenakan nampak mahal.


"Saya Michele, Bu." Michele menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.


Dia takut jika bi Narti akan mengusirnya saat itu juga, dia tak tahu harus kemana.


"Kenapa bisa keluyuran malam-malam?" tanya Bi Narti.


Michele memberikan diri untuk menatap bi Narti, lalu dia pun berkata.


"Aku kabur dari rumah, daddy mau menjodohkan aku dengan anak dari kolega bisnisnya. Dia pria dewasa, aku takut. Aku dinikahin sama anak ibu aja, ya. Walaupun terlihat judes dan garang tapi dia perhatian," ucap Michele.


Michele nampak mengingat-ingat kala pertemuan pertamanya dengan Angga, saat dia berlari dari kejaran para bodyguard daddynya. Dia malah bertabrakan dengan Angga.


Bi Narti langsung menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari Michele, dia baru sekali bertemu dengan putranya, namun Michele terlihat menyukai putranya, Angga.


"Ibu tahu? Tadi siang aku tertangkap. Tapi, aku berusaha untuk kabur lagi. Aku tidak mau menikah dengan lelaki dewasa itu pokoknya, serem!" Michele terlihat bergidig.


Bi Narti terkekeh mendengar penuturan dari Michele, dia mengelus lembut punggung Michele lalu berkata.

__ADS_1


"Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, jangan pernah berprasangka buruk. Jika kamu tidak suka dengan pria itu, kamu bisa berbicara secara baik-baik," nasehat Bi Narti.


"Aku takut, daddy tak percaya dengan apa yang aku ceritakan. Ibu tahu, lelaki dewasa itu sangat sopan dan santun saat berhadapan dengan daddy dan mommy. Tapi, pas kami sedang berduaan, dia berusaha untuk menciumku. Dia bahkan mengajak aku untuk melakukan itu, katanya kita akan menikah. Mau melakukan sekarang ataupun nanti, sama saja." Michele bercerita dengan air mata yang mulai mengalir.


Bi Narti yang merasa tak tega pun langsung memeluk Michele dan mengelus lembut punggungnya.


"Daddy dan mommy kamu pasti sangat menyayangi kamu, tidak mungkin mereka tak mau mendengarkan ucapan putrinya yang cantik ini." Bi Narti berusaha untuk menghibur Michele.


Michele terlihat mengurai pelukannya, kemudian dia pun menatap wajah bi Narti dengan lekat.


"Ibu yakin kalau mereka akan percaya padaku?" tanya Michele.


"Hem, pasti Nak. Sekarang tidurlah di kamar tamu, besok ibu antar kamu ke rumah orang tua kamu," kata Bi Narti.


"Terima kasih, Bu," ucap Michele.


Bi Narti langsung mengantarkan Michele ke kamar tamu.


*/*


Pagi ini Jonatahan nampak tergesa datang ke rumah Larasati, dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan calon istrinya itu.


Jonathan bahkan sudah tiba di kediaman Dinata saat jam menunjukkan pukul enam pagi, dia benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan pemilik hatinya.


"Aunty, Rara belum keluar kamar?" tanya Jonathan.


"Aku, boleh menemui Rara di kamarnya ngga, Aunty?" tanya Jonathan.


"Temuilah," ucap Nyonya Meera.


"Yes! Tank's Aunty," ucap Jonathan seraya berlalu.


Jonathan langsung berjalan dengan tergesa menuju kamar Larasati, tiba di depan kamar Larasati, Jonathan langsung mengetuk pintu kamar tersebut.


"Masuk, Mom. Pintunya tidak dikunci," ucap Larasati yang menyangka jika itu nyonya Meera.


Jonathan dengan perlahan membuka pintu kamar Larasati, saat pintu terbuka dia bisa melihat Larasati yang tengah duduk di atas sofa sambil memangku Satria.


"Ra!"


Jonathan langsung masuk dan duduk tepat di samping Larasati, dia merangkul pundak calon istrinya dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Daddy, aku mau," pinta Satria.


Jonathan terkekeh, lalu dia pun menunduk dan mengecup kening Satria.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain kesini? Ini masih pagi loh," kata Larasati ketus.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Larasati, membuat Jonathan mengernyit heran.


"Kangen, Ra. Kamu kok tumben judes gitu, kenapa?" tanya Jonathan.


"Kenarin bilangnya mau ngerjain tugas dari Om Hendry, tapi aku lihat kamu gendong cewek," ucap Larasati.


Dia sudah tidak bisa menahan rasa kesal dan cemburunya, lebih baik meluapkannya dengan mengutarakan isi hatinya.


Larasati bahkan sampai meneteskan air matanya, dia merasa lebih baik putus saja dari pada nantinya diselingkuhi lagi.


"Kemarin kamu lihat aku?" tanya Jonathan.


"Iya, pokoknya aku mau putus aja. Aku ngga mau nikah sama cowok tukang selingkuh, belum nikah aja udah bopong cewek kaya gitu. Muda lagi, seksi banget lagi," kata Larasati


"Ya ampun sayang, dia Mini. Dia anaknya Om Hendry, dia kabur dari negara B. Dia tidak mau dijodohkan, jadinya--"


Jonathan terlihat menggedikkan kedua bahunya.


"Beneran Mini anaknya Om Hendry yang idungnya kecil itu, kan?" tanya Larasati.


"Hem, sampai sekarang panggilannya Mini. Gara-gara idung kecilnya," ucap Jonathan.


"Tapi kenapa bisa cantik dan tinggi seperti itu, dia dikasih makan apa sama Om Hendry?" tanya Larasati.


"Ya ampun, Sayang. Sudah berapa tahun kamu tidak bertemu dengannya?" tanya Jonathan.


Larasati nampak terdiam, seingkatnya terakhir dia bertemu dengan Mini, saat anak itu berusia 12 tahun.


"Berapa tahun?" tanya Jonathan.


"Sembilan tahun," jawab Larasati.


"Tentu saja dia mengalami pertumbuhan dalam waktu selama sembilan tahun itu," kata Jonatahan.


"Tapi beneran, kan, kalau cewek yang kemarin itu bukan selingkuhan kamu?" tanya Larasati.


"Bukan, Sayang. Masa kamu ngga percaya sih sama aku," kata Jonathan.


"Emang ngga percaya, pokoknya sebelum aku ketemu sama Mini, aku ngga bakal percaya sama kamu. Kita putus aja," kata Larasati.


"Jangan, Yang. Itu dia masalahnya, Mini kabur lagi. Tadi malam dia kabur lewat jendela, aku lagi pusing ini. Kayaknya ngga kerja dulu, nyari Mini dulu," kata Jonathan.


"Memangnya ngga ada orang suruhan Om Keanu yang nyari?" tanya Larasati.

__ADS_1


"Ada, tapi Om Hendry tetep minta aku ikut nyari," jawab Jonathan lesu.


__ADS_2