
Pagi ini Larasati dibuat resah, pasalnya sejak dari tengah malam Jonathan terus saja bolak-balik ke kamar mandi.
Hal itu bisa terjadi karena tadi malam Jonathan memakan buah Cermai dengan sangat banyak, padahal Larasati sudah memperingatkan agar Jonathan tidak memakan buah tersebut dengan jumlah yang banyak.
Bukan karena apa, hanya saja... setelah Larasati mencicipi buah tersebut, rasanya benar-benar sangat asam.
Namun, herannya saat Jonathan memakan buah tersebut, dia merasa buah tersebut sangat manis dan juga enak. Hal itu membuat Jonathan tidak ingin berhenti untuk memakannya.
"Kita ke dokter, ya, Sayang. Kamu udah lemes banget kaya gini," ajak Larasati.
"Minta daddy Keanu saja untuk mengirimkan dokter, aku lemas, Yang. Kayaknya untuk jalan juga akan susah," jawab Jonathan dengan mata terpejam.
Ya, setelah bolak-balik ke kamar mandi, kini Jonathan hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur.
Beruntung rasa mulas yang dia derita sudah mulai berangsur baik, hanya saja tubuhnya seakan sudah tidak mempunyai tenaga.
"Iya, Mas Jo, Sayang." Larasati menghampiri Jonathan, dia menunduk dan menautkan bibirnya.
Hal itu dia lakukan agar Jonathan bersemangat kembali, tanpa Larasati duga Jonathan langsung memeluk pinggangnya dengan erat dan membalas tautan bibirnya dengan sangat lembut dan menuntut.
Larasati dorong dada Jonathan dengan pelan, hingga akhirnya tautan bibir mereka terlepas. Raut kecewa langsung terlihat dari wajah Jonathan.
"Kenapa dilepas?" tanya Jonathan dengan raut wajah kecewa.
Larasati langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari Jonathan, sedang dalam keadaan lemah saja dia masih mengharapkan hal yang lebih dari dirinya.
"Kamu lagi sakit, Sayang. Aku telpon daddy Keanu dulu, Mas anteng-anteng." Larasati bangun dan langsung mengambil ponselnya.
Larasati terlihat menghubungi tuan Keanu, sedangkan Jonathan terlihat mendengus sebal. Dia merasa menyesal, kenapa harus meminta tuan Keanu untuk mengirimkan dokter, pikirnya.
Kenapa tidak meminta haknya saja sebagai suami? Karena dia rasa jika dia memintanya, dia akan cepat sembuh. Pasalnya dari semenjak Larasati dikatakan hamil, Jonathan belum pernah mengajak istrinya untuk kembali berpeluh.
"Heh!" hanya helaan napas kasar yang mampu keluar dari bibir Jonathan.
"Daddy!" seru Satria yang ternyata kini sudah ada di samping Jonathan bersama dengan nyonya Meera.
Nyonya Meera terlihat membawakan bubur untuk Jonathan, dia takut menantunya itu lemas karena terus saja mengeluarkan isi perutnya.
"Boy! Kemarilah," pinta Jonathan.
Satria menurut, dia langsung naik ke atas ranjang lalu memeluk ayah sambungnya tersebut dengan sangat erat.
__ADS_1
"Daddy Jo, jangan syakit. Aku syedih, maaf kalena kemalin aku syudah membawa buah itu dengan syangat banyak. Kalena buah itu, Daddy Jo jadi syakit," ucap Satria lesu.
Jonathan tertawa pelan saat mendengar penuturan dari Satria, anak sambungnya tersebut. Dia membalas pelukan Satria, lalu mengecup kening Satria dengan sangat lembut.
"Daddy sakit karena memang sudah waktunya sakit, bukan karena buah yang Satria bawa. Jadi, satria tidak boleh merasa bersalah seperti itu," jawab Jonathan.
Satria melerai pelukannya, kemudian dia menatap wajah Jonathan dengan intens.
"Benalkah syepelti itu?" tanya Satria.
"Yes, Boy," jawab Jonathan.
Wajah Satria yang tadinya sendu, berubah menjadi riang kembali. Padahal Ia sudah merasa sangat bersalah saat mendengar Jonathan mengalami sakit perut dan terus bolak-balik ke kamar mandi karena memakan buah Cermai yang sudah dia bawa.
"Jo, duduklah dulu. Makan buburnya dulu sebelum dokter datang, biar ada tenaga," usul Nyonya Meera.
"Yes, Mom," jawab Jonathan.
Jonathan terlihat bangun dibantu oleh nyonya Meera, setelah itu dia duduk seraya menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
Nyonya Meera duduk di tepian ranjang, kemudian dia bersiap untuk menyuapi menantunya tersebut.
Baru saja satu suapan bubur masuk ke dalam mulut Jonathan, Larasati terlihat menghampiri dan berkata.
Nyonya Meera langsung beralih menatap tuan Elias yang kini sedang berdiri di ambang pintu, kemudian dia menyusul suaminya tersebut.
"Kamu kenapa ke sini, hem? Aku cuma mengantarkan bubur untuk menantumu sebentar saja," kata Nyonya Meera.
"Ya, aku tahu itu. Tapi, kamu tidak perlu menyuapinya. Aku cemburu," kata Tuan Elias seraya mengecup bibir Nyonya Meera.
Ya, walaupun mereka sudah berusia setengah abad lebih. Tapi keromantisan selalu saja mereka jaga, hal itu mereka lakukan selain karena rasa cinta, juga karena ingin mempertahankan rumah tangga mereka agar tetap harmonis.
"Kamu tuh kebiasaan, Dad. Malu sama Satria," ucap Nyonya Meera malu-malu.
"Aku tidak melihatnya!" seru Satria yang ternyata sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya.
"Ya ampun!" kata Nyonya Meera seraya menggelengkan kepalanya.
Tuan Elias langsung merangkul pundak istrinya, lalu dia berkata.
"Daddy pergi dulu, sekalian Mommy kalian Daddy pinjem dulu," kata Tuan Elias seraya berlalu.
__ADS_1
Jonathan dan Larasati saling pandang, kemudian mereka tersenyum melihat keromantisan diantara pasangan paruh baya tersebut.
Sungguh dalam hati Jonathan dan juga Larasati mengharapkan jika hubungan mereka akan tetap romantis seperti tuan Elias dan juga Nyonya Meera.
Jonathan dalam hatinya selalu mengagumi sosok tuan Elias yang selalu setia pada istrinya dan bersikap manis walaupun sudah berumur.
Jonathan juga selalu mengagumi sosok ayahnya, tuan Keanu, karena dia tetap setia terhadap ibunya walaupun sudah lama meninggal dunia.
Jonathan bahkan sering berkata kepada tuan Keanu untuk menikah kembali, karena walau bagaimanapun juga tuan Keanu adalah lelaki normal.
Dia membutuhkan pendamping hidup, dia membutuhkan istri untuk menyalurkan hasratnya.
Namun, tuan Keanu selalu bersikukuh untuk tidak menikah lagi, dia berkata jika dirinya sangat mencintai almarhumah istrinya.
Saat sedang asik dengan lamunannya, tiba-tiba saja ada suara yang begitu dia kenal yang Jonathan dengar.
"Ya ampun, Sayang. Kamu beneran sakit?" tanya Tuan Keanu yang kini sudah berada tepat di sampingnya.
"Jangan khawatir, Dad. Hanya membuang racun yang tersimpan dalam tubuh," jawab Jonathan.
"Ck! Makanya kamu tuh--"
Ucapan tuan Keanu terhenti kala Jonathan menggenggam tangan daddinya seraya melirik ke arah Satria, Tuan Keanu yang paham langsung tersenyum kemudian dia berkata.
"Tolong periksa putraku dengan cepat!" kata Tuan Keanu.
Dokter muda yang sedari tadi berdiri di samping Larasati, langsung menghampiri Jonathan dan mulai melakukan tugasnya.
Satria yang tahu jika daddy sambungnya akan diperiksa, langsung bangun dan turun dari tempat tidur.
Tuan Keanu langsung mengangkat tubuh Satria dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
Walaupun Satria bukan darah daging dari Jonathan, namun tuan Keanu sangat menyayangi anak lelaki yang sangat menggemaskan itu.
*
*
BERSAMBUNG....
Selamat pagi kesayangan, tadinya Othor mau up pas sahur. Eh, malah meriang. Ternyata penyebabnya tamu bulanan yang datang tanpa undangan.
__ADS_1
Selamat beraktivitas, semoga kalian sehat selalu.