Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Laper Terus


__ADS_3

Yudha terlihat menitikan air matanya, dia merasa sedih sekaligus senang. Dia senang karena melihat Larasati kini bisa hidup bahagia dengan Jonathan.


Yudha juga merasa sedih, karena dirinya telah melepaskan berlian seindah dan secantik Larasati. Sungguh penyesalan selalu datang terlambat.


"Sotonya," kata Abang soto seraya menyerahkan semangkuk soto dan juga sepiring nasi kepada Yudha.


Yudha yang sedang melamun seakan tertarik kembali ke dalam dunia nyata, dia terlihat mendongakkan kepalanya menatap Abang soto.


"Terima kasih, Bang," kata Yudha.


"Sama-sama," jawab Abang soto.


Yudha yang merasa lapar langsung melahap soto yang dia pesan, sesekali dia memperhatikan kebersamaan Larasati dan juga Jonathan.


Tak lama kemudian Jonathan dan Larasati nampak pergi dari sana, mereka terlihat bergandengan dengan mesra.


"Silakan masuk, Ratuku." Jonathan membukakan pintu mobil untuk Larasati.


"Terima kasih, Kakang prabu." Larasati langsung masuk dan duduk, lalu dia memakai sabuk pengamannya.


Setelah memastikan Larasati duduk dengan nyaman, Jonathan terlihat menutup pintu mobilnya. Kemudian, dia sedikit berlari dan masuk ke dalam mobil, lalu dia duduk di balik kemudi.


"Mau langsung pulang apa mau kemana lagi? Besok weekend, aku libur. Bisa menemani kamu seharian, jadi... jika sekarang mau begadang aku akan menemani," kata Jonathan.


Larasati tersenyum mendengar penawaran dari Jonathan, lalu dia berkata.


"Tidak usah, Mas. Langsung pulang saja, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi sate padang ini," jawab Larasati.


Jonathan tersenyum kemudian dia mengacak pelan rambut Larasati.


"Baiklah, kita pulang. Aku pun sudah tidak sabar ingin menjadi tusuk satenya," canda Jonathan.


Wajah Larasati terlihat memerah, kala menyadari kemana arah obrolan dari Jonathan, suaminya.


"Mas ih!" keluh Larasati.


Setelah terjadi obrolan singkat antara Jonathan dan juga Larasati, akhirnya Jonathan terlihat melajukan mobilnya ke kediaman Dinata.


Setelah lima belas menit melakukan perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di kediaman Dinata. Ternyata suasana rumah sudah sepi, karena semuanya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Mereka sedang mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.


Larasati dan Jonatan langsung melangkahkan kaki mereka menuju ruang makan, dengan cekatan Jonathan memindahkan dua porsi sate yang sudah mereka beli ke atas piring.


Kemudian, dia mengajak Larasati untuk duduk dan menikmati sate tersebut.


"Enak tidak?" tanya Jonathan.


"Enak, Mas. Bumbunya kentel-kentel gitu, ya? Ngga sama kaya sate biasanya," kata Larasati.


"Kentelan mana sama punya aku?" tanya Jonathan.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Jonathan, wajah Larasati terlihat memerah. Dia terlihat malu dengan pertanyaan yang dirasa terlalu to the point itu.


"Mas!" protes Larasati.


"Iya, iya, maaf. Tapi nanti kalau satenya sudah habis, gantian ya?" kata Jonathan.


Dahi Larasati nampak mengernyit, dia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Jonathan.


"Maksudnya?" tanya Larasati.


"Maksudnya, Mas mau nyate. Makanya buruan makannya," kata Jonathan.


"Ya ampun, Mas Jo. Kenapa semakin hari tingkat kemesumann kamu semakin bertambah saja?" keluh Larasati.


"Yang penting sama istri sendiri, engga sama istri tetangga," kata Jonathan.


"Awas aja kalau berani selingkuh, aku potong pake gunting rumput!" kata Larasati.


"Jangan, Yang. Nanti kamu tidak bisa mendessah," ucap Jonathan memelas.


"Makanya jangan nakal!" kata Larasati seraya menusuk potongan lontong dengan garpu.


"Ya ampun!" keluh Jonathan.


Setelah Jonathan dan Larasati memakan sate padang tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


Tentu saja hal yang pertama kali Jonathan lakukan adalah mengajak istrinya untuk bercinta, Larasati menurut.


*/*


Pukul tiga pagi Larasati terbangun dari tidurnya, dia segera turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dia segera mencuci muka, kemudian dia kembali ke atas ranjang dan membangunkan suaminya.


"Yang, bangun." Larasati menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


Jonathan yang merasa matanya masih terasa sangat berat hanya bergumam saja, melihat akan hal itu Larasati terlihat kesal. Dia kembali menggoyang-goyangkan tubuh Jonathan.


"Mas, bangun!" kata Larasati tepat di telinga Jonathan.


Jonathan yang kaget langsung bangun seraya mengucek matanya yang terasa pedas ,rasanya dia belum lama tidur. Tapi sudah dibangunkan kembali.


"Ada apa, Yang?" tanya Jonathan.


"Laper, pengen makan." Larasati terlihat mengusap perutnya.


Mendengar pengakuan dari istrinya, Jonathan nampak linglung. Dia jadi bertanya-tanya dalam hatinya.


Bukankah istrinya baru saja makan satu porsi sate padang sebelum tidur, kenapa dia sudah ribut lapar lagi, pikirnya.

__ADS_1


Jonathan terlihat melirik jam yang ada di dinding, ternyata waktu menunjukkan pukul tiga pagi.


"Baru jam tiga pagi, Yang. Apa ngga bisa di pending laparnya?" tanya Jonathan.


Larasati langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan dari suaminya itu, dia langsung turun dari ranjang dan langsung keluar dari kamar mereka.


Jonathan paham jika Larasati marah, dia menjadi resah. Akhirnya dia ikut melangkah menyusul istrinya dengan pasrah.


Tanpa aba-aba Jonathan langsung menggendong Larasati ala bridal style, Larasati langsung tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Jonathan.


Tiba di dapur, Jonathan langsung mendudukkan Larasati di bangku yang ada di sana. Kemudian, dia bertanya kepada istrinya tersebut.


"Mau dimasakin apa?" tanya Jonathan.


"Karena aku sangat lapar, aku mau Mas Jo buatin aku ceplok telor dua." Larasati mengangkat tangannya membentuk angka dua.


"Baiklah istriku, Sayang. Kamu duduk yang anteng, aku akan membuatkan telor ceplok yang kamu inginkan," kata Jonathan.


Setelah mengatakan hal itu, Jonathan langsung membuka lemari pendingin. Kemudian, dia mengambil dua telur dan segera membuatkan telur ceplok keinginan sang istri.


Senyum di bibir Larasati terus saja mengembang, saat melihat Jonathan dengan cekatan membuatkan telur ceplok untuknya.


Dia merasa sangat senang, karena apa pun yang dia inginkan selalu saja langsung dituruti oleh suaminya itu.


Ternyata benar apa kata pepatah, lebih baik dicintai daripada mencintai dengan berlebihan. Karena itu akan menyakitkan.


"Sudah selesai," kata Jonathan.


Jonathan terlihat memberikan sepiring nasi beserta dengan ceplok telur yang Larasati pesan, melihat akan hal itu bibir Larasati terlihat mengkerucut tajam.


"Kenapa pakai nasi?" tanya Larasati.


"Biar kenyang, Sayang." Jonathan terlihat mencuil dagu istrinya, namun dengan cepat Larasati menepis tangan Jonathan.


Dia merasa kesal karena harus memakan telur ceplok dengan nasi, padahal dia hanya ingin memakan telur ceplok saja tanpa adanya nasi.


Melihat raut ketidaksukaan di wajah Larasati, akhirnya Jonathan menyerah.


"Ya sudah, kalau begitu kamu makan telurnya saja," kata Jonathan.


Senyum di bibir Larasati seketika kembali mengembang, karena dia begitu senang dengan apa yang dikatakan oleh Jonathan.


"Terima kasih, Sayang." Larasati langsung menautkan bibirnya, dengan senang hati Jonathan membalasnya.


BERSAMBUNG....


*


*

__ADS_1


*


Selamat sore kesayangan, semoga masih pada kuat ya, puasanya bagi yang menjalankan.


__ADS_2